Thursday, October 24, 2013

Memindahkan daftar kontak dari hape Nokia ke hape Android

Huff.............lelah juga mengutak-atik bagaimana caranya memindahkan daftar kontak yang ada di hape nokia ke hape bersistem Android. Maklum daftar kontak yang ada di hape nokia lebih dari seribu! huks! Kalo mindahin satu per satu alamat sebulan tuch baru kelar!

Makanya beberapa hari ini saya sercing di google tentang hal tersebut: bagaimana memindahkan kontak dari nokia ke android!
Beberapa link situs saya buka, baca, dan saya coba. Ternyata nggak ada yang memuaskan! Mau yang pake software ataupun yang "manual" semuanya sama-sama ribet.
Tadi pagi, saya malah sempet donlod sebuah aplikasi yang disarankan oleh sebuah situs. Hasilnya? Malah bikin tambah bingung! Maklum, saya nggak melek banget dengan IT malah dibuat pusing dengan cara-cara tersebut.

Ada satu situs yang saya coba ikuti sarannya, yaitu dengan cara mengkopi semua file kontak dari simcard ke SD card. Kemudian data SDcard dibuka di PC. Selanjutnya semua kontak tadi dikopi ke dalam sebuah folder di PC.
Setelah itu, disarankan untuk membuka gmail. Dari gmail, kita bisa meng-impor data kontak tadi ke dalam daftar kontak di gmail.
Hal ini sudah saya lakukan! Sayangnya, mengimpor file tersebut tidak bisa dilakukan sekaligus. Kita harus melakukannya satu per satu! Gubrakkkkk dech!

Tentu saja cara ini nggak efektif. Saya berpikir keras, pasti ada cara lain. Di situs tersebut, disarankan agar menjadikan file berekstensi vcf "menjadi satu file". Tapi, di sana nggak dijelasin maksudnya apa?!

Nah, sore ini akhirnya saya menemukan jawabannya!! Di sebuah situs yang lain, saya barulah menemukan jawabannya, yaitu mengkopi semua file berekstensi vcf tersebut ke sebuah file baru dengan cara mengubahnya di "menu command prompt" alias cmd!

Akhirnya saya coba lakukan hal tersebut dengan "susah payah" karena saya harus mengingat cara penulisan di "cmd" tersebut. Maklum belajar DOS nya dah 20 tahun lebih yang lalu. Meskipun command2 nya sederhana, tapi bagi saya yang dah nggak pernah make command ini yaa lumayan repot dibuatnya. Maksudnya, repot mengingat-ingat command tersebut.
Alhamdulillah, setelah bisa saya kopi ke file baru dan kemudian saya impor melalui akun gmail, semua data terkirim dalam sekejap!!!! Huff...............

Nah, berikut saya berikan langkah-langkah detail yang telah saya lakukan. Maaf nggak sempet mencantumkan screenshot dan sebagainya. Jadi, silakan berimajinasi saja ya hehehe
Ohya, langkah ini untuk daftar kontak yang jumlahnya banyak ya. Misalnya di atas 250 atau bahkan ribuan.

Pertama, buka kontak di hape nokia. Klik options, pilih mark, pilih mark all, klik options, pilih copy, pilih to memory card.
Tunggu sejenak hingga hape selesai memproses. Semakin banyak jumlah kontak, semakin lama prosesnya.

Setelah itu, buka PC atau laptop (terpaksa make media ini). Sambungkan kabel data ke hape dan komputer (PC ataupun laptop). Pilih mass storage, saat hape tersambung dengan komputer.
Selanjutnya buka folder berisi kontak yang ada di hape, lalu pindahkan (copy) ke folder baru di komputer. Oya, file yang dikopi berekstensi vcf.


Nah, dari sini kita akan bekerja di komputer. Kamu bisa melepaskan kabel data yang menghubungkan hape dengan komputer. Jangan lupa keluar dengan "save" ya.... Maksudnya, jangan asal cabut kabel aja.
Setelah itu, buka folder baru tersebut. Hafalkan root-nya. Anda simpam di drive C atau D atau apa? Dan di sub mana? Sebaiknya sich jangan yang susah-susah. Misalnya, kalau anda punya drive D, bikin aja di folder "d:\data" (nggak usah dalem2 subfoldernya).
Kalau sudah, anda buka command prompt alias cmd. Caranya? Klik menu (gambar windows di pojok kiri bawah), klik all programs, klik accessories, klik command prompt.

Setelah itu akan terbuka jendela command prompt. 
Anda ketik (sesuai contoh di atas): d:\data>copy *.vcf urgen.vcf
Perintah ini dimaksudkan mengkopi semua file berekstensi vcf di folder d:\data ke sebuah file baru bernama "urgen.vcf"
Ingat, nama folder dan lokasi tergantung dimana anda menyimpan file vcf tersebut.


Langkah selanjutnya, buka koneksi internet. Trus, buka akun gmail kamu. 
Kalo belum punya, bikin dulu ya. Kenapa gmail? Konon kabarnya android "sinkron" dengan google! Silakan tanya sama yang jago IT dech!

Setelah masuk ke akun gmail milik kita, klik "GMAIL" di kiri atas. Kemudian klik contacts.
Setelah itu, klik more, klik import. Klik, browse.
Kemudian anda cari file "urgen.vcf" di folder yang sudah anda tetapkan sebelumnya.
Klik file tersebut dan klik import!
Hulaaaaa...............semua data kontak anda akan tertampilkan di gmail contact!

Nah, setelah itu anda tinggal membuka akun gmail tersebut dari hape android! Otomatis anda tinggal mensinkronkan data tersebut saja!!



salam,





Monday, October 14, 2013

Naik Kereta Api...tut...tut...tut...

Dah lama sekali aku tidak pernah bepergian dengan kereta api. Kabar beredar yang selama ini kudengar, layanan kereta api sudah semakin baik. Dan, nyatanya memang tidak seratus persen keliru!
Perjalanan berkereta api aku mulai dari stasiun Pondok Ranji di bilangan Bintaro Tangerang Selatan. Dengan bersepeda motor, hanya sekitar 15 menit waktu tempuh yang dibutuhkan menuju stasiun tersebut dari rumahku. Seperti biasa, istriku selalu setia dan penuh semangat mengantar diriku.

Suasana pelataran dan stasiun kecil tersebut nampak apik dan rapi. Bila pun ada pemandangan yang mengganggu keapikan tersebut, maka itu adalah kerumunan para tukang ojeg yang menunggu penumpang.
Selama ini aku hanya mengantar atau menjemput bapak-ibu mertua ku. Kini aku sendiri yang berada dan merasakan suasana stasiun kecil tersebut.
Loket nampak rapi dan bersih. Layanan petugas loketpun penuh simpatik.
Kusodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah sembari mengatakan, "Tanah Abang". Dalam hitungan detik, aku diberikan sebuah kartu plastik seukuran kartu kredit atau kartu debit berwarna putih dan uang kembalian tiga ribu rupiah serta secarik kertas kecil berupa struk pembelian. Di sana tertera harga tiket yang hanya 2.000 rupiah dan uang jaminan kartu 5.000 rupiah. Uang jaminan ini bisa diambil di loket tujuan dalam waktu maksimal 7 hari.
Dan aku memutuskan untuk tidak mengklaim. Toh 7.000 rupiah sudah sangat murah bagiku untuk menuju stasiun Tanah Abang. Dibandingkan dengan naik taksi dari bintaro, pastilah biayanya tak kurang dari seratus ribu rupiah!

Aku segera menuju pintu masuk yang dijaga petugas jaga. Terdapat mesin kartu dengan petunjuk bertulisan "Tap kartu di sini" yang maksudnya penumpang agar meletakkan kartu pada tempat tersebut. Setelah lampu penunjuk berubah warna dari merah ke hijau, kita bisa mendorong besi penahan pintu tersebut. Kulirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 18.25.

Tak sampai 5 menit, kereta commuterline pun tiba. Sesampainya di dalam, hembusan udara dingin dari penyejuk ruang langsung terasa. Gerbong pun tampak bersih. Di bagian atas ujung gerbong tertempel tulisan "INKA". Ini artinya gerbong tersebut adalah buatan PT Industri Kereta Api di Madiun. Waooow....gumamku!

Perjalanan menuju stasiun Tanah Abang tidak lebih dari 25 menit. Perjalanan yang sangat singat, mengingat bila kita melaluinya dengan berkendaraan roda dua ataupun roda empat, dipastikan butuh waktu setidaknya 1 jam!

Dari stasiun ini, kulanjutkan perjalanan dengan menumpang ojeg yang riuh menanti penumpang di pintu keluar stasiun. Tujuanku adalah stasiun Gambir. Hanya 5 menit motor yang kutumpangi meliuk-liuk di jalan raya yang saat itu nampak lengang untuk menuju Gambir.

Di stasiun ini aku janjian dengan sahabatku yang memiliki usaha rintisan di Purbalingga. Kami memang tidak langsung ke kota tersebut malam ini. Dari Gambir kami akan singgah terlebih dulu di kota Cirebon. Dari sana kami dijemput oleh sahabat kami lainnya yang akan membawa kami menginap di Kuningan.

Karena sahabatku belum berada di sekitar stasiun Gambir, aku pun menuju sebuah toko makanan untuk memesan kue dan kopi agar bisa menumpang rileks di sana dengan nyaman.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, October 09, 2013

Seminar dan Pengukuhan PIA 2013

Trims to PPA&K (Pusat Pengembangan Akuntansi dan Keuangan) yang telah mengundang saya di acara pengukuhan Profesional Internal Audit (PIA). PPA&K adalah PPA STAN sebelum era reformasi birokrasi Kementerian Keuangan.

Tahun ini aku berkesempatan untuk mendapat pengukuhan PIA secara gratis dari lembaga tersebut. Hal ini sebagai "hadiah" jerih payahku mendedikasikan diri bertahun-tahun sebagai pengajar atau fasilitator di lembaga tersebut. Kebetulan, awal tahun ini, aku dan bersama 2 orang fasilitator lain terpilih sebagai fasilitator terbaik tahun 2012. Dan sebagai hadiahnya, kami diikutsertakan dalam pengukuhan tanpa biaya.

Bila menggunakan jalur reguler, untuk dapat dikukuhkan tentu saja tidak mudah. Butuh effort dan biaya. Mereka harus mengikuti 5 jenis pelatihan wajib yang diselenggarakan oleh PPA&K.

Penyelengaraan tahun dilakukan di hotel Royal Ambarukmo Jogjakarta yang dikemas pula dalam bentuk Seminar Nasional.
Jauh-jauh hari aku sudah mengajukan cuti ke tempatku bertugas agar bisa menghadiri acara ini.

(Jogja, 9 Oktober 2013)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, September 09, 2013

Tangkuban Perahu 2013

Setelah bulan lalu gagal mencapai Lembang, Bandung akibat kemacetan luar biasa di daerah Subang, akhirnya hari Minggu kemarin (8 September 2013) kami sekeluarga bisa menikmati sejuk dan indahnya tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu.
Saat kami tinggal di Cimahi, kami cukup sering berkunjung ke tempat ini. Saat itu anak kami tertua masih duduk di bangku TK sedangkan adiknya (anak kedua kami) belum genap berumur dua tahun. Tidak hanya bersama keluarga aku mengunjungi tempat ini. Aku dan teman sekantor bahkan pernah ke tempat wisata ini bersama mahasiswa Prodip I Keuangan Balai Cimahi untuk melakukan acara perpisahan.
Setelah kami tidak lagi tinggal di Cimahi karena perpindahan tugas kantor, kami tidak pernah lagi berkunjung bersama-sama ke tempat ini. Dan Alhamdulillah, setelah sekian tahun kemudian dan bahkan si bungsu pun sudah mulai beranjak besar, akhirnya kami berkesempatan mengunjunginya lagi.






Kegembiraan sangat terpancar di wajah anak-anakku. Maklum, mereka hanya mengetahui tempat ini dari informasi-informasi yang mereka terima dan dari foto-foto masa lalu yang tersimpan dengan baik oleh kami. Saat itu tentu saja mereka belum mengerti apa-apa tentang wisata.
Rencana berwisata bersama memang sudah lama kami rencanakan. Sayang, mencari waktu yang pas sangatlah tidak mudah bagi kami, khususnya bagi diriku. Maklum, setiap hari Sabtu dan Minggu, aku lebih banyak menggunakan waktu untuk berolah raga tenis lapangan dan mengistirahatkan tubuh untuk menghilangkan penat akibat bekerja.

Hanya sekitar 2 jam saja kami berada di sana. Waktu paling lama kami gunakan untuk sekedar beristirahat di sebuah warung makan yang ada di tempat wisata tersebut. Pilihan menu sangat terbatas. Kami pun hanya sekedar berbasa-basi membeli beberapa jenis makanan untuk sekedar bisa menumpang beristirahat sekaligus menikmati puncak gunung yang saat itu diselimuti kabut tebal.

Dari Tangkuban Perahu kami meneruskan perjalanan ke area wisata belanja: Cihampelas. Tempat ini sangat terkenal di kota Bandung. Meskipun hanya berupa jalan raya yang tidak terlalu lebar yang di kanan-kirinya berjejer berbagai toko pakaian, tempat ini sangat fenomenal. Memang Cihampelas tidaklah seramai dahulu. Pangsa pasar mereka mulai tergerus oleh banyaknya toko-toko pakaian (biasa disebut dengan Factory Outlet atau FO) yang tumbuh subur bak jamur di kota Kembang ini.
Aku masih ingat, betapa dahulu setiap ada kunjungan rekan kerja dari manapun di luar Bandung, Cihampelas adalah salah satu destinasi yang sangat ingin mereka kunjungi. Di masa lalu Cihampelas sangat terkenal dengan produk-produk jeans murah.
Dengan semakin bertebarannya FO-FO di kota Bandung, pengunjung yang datang ke kota ini semakin mempunyai banyak pilihan tempat berwisata belanja. Ada baiknya juga sich. Bayangkan saja bila wisata jeans ini hanya ada di Cihampelas! Aku yakin jalan ini pastilah tidak akan bisa dilalui kendaraan bermotor karena banyaknya orang yang berlalu-lalang berbelanja.

Dari Cihampelas, kami melanjutkan belanja ke Jalan RE Martadinata. Kali ini yang kuincar adalah toko barang bekas "Old and New". Meski disebut toko barang bekas, sesuai "nama" tokonya, toko ini juga menyediakan barang-barang baru. Hanya saja, sebagian besar barang-barang yang tersedia adalah barang bekas. Bahkan tidak sedikit adalah barang-barang kuno!
Aku pikir, untuk orang-orang yang hobi mengoleksi benda-benda kuno, maka toko ini bisa dijadikan destinasi untuk mencari barang-barang yang diinginkan!

Monday, August 05, 2013

Menjelang Idul Fitri 1434H / 2013 M

Beberapa hari lagi hari raya Idul Fitri. Entah apakah tahun ini ada perbedaan lagi antara pemerintah dengan beberapa ormas Islam, seperti Muhammadiyah. Kita nantikan saja 2 atau tiga hari ke depan.
Bagi ku tidak penting hari ini adalah hari puasa yang keberapa, seperti halnya banyak teman yang memasang status saat ini adalah hari kesekian bulan puasa. Yang penting adalah menjalankan ibadah puasa sebaik-baiknya. Jumlah hari tak perlu dihitung. Hanya anak kecil yang menghitung hari karena ia ingin segera mengakhiri puasanya dan bebas makan lagi di siang hari.

Liburan kali ini kami tidak kemana-mana. Cukup berada di rumah yang tahun ini adalah tahun pertama kami di rumah ini. Kami mencoba merasakan bagaimana suasana lebaran di komplek ini. Dugaan kami sich, sama saja dengan komplek perumahan lainnya. Sepi! Maklum, tinggal di sebuah perumahan di kota besar maupun di pinggiran kota besar memang tidak indah. Kebersamaan antarwarga agak kurang. Kuakui aku sendiri malas keluar rumah bila memiliki waktu cukup di rumah. Setelah penat dengan pekerjaan kantor di hari kerja, maka hari sabtu dan minggu adalah waktu istirahatku. Akibatnya sosialisasi dengan warga sekitar menjadi berkurang. Hal ini juga yang kelihatannya terjadi pada orang lain di sekitarku. Hmm....

Dua hari ini waktu luang di rumah aku gunakan untuk sedikit berbenah dan sesekali menonton DVD (bajakan) yang secara rutin aku beli. Setiap kali membeli kepingan tersebut, aku selalu membeli dalam jumlah 10 keping agar mendapatkan bonus 1 keping. Hal ini telah kulakukan sejak sekian tahun lalu, tepatnya di sekitar tahun 2000 saat aku dan keluarga masih tinggal di Cimahi.
Jangan hitung berapa uang yang aku telah keluarkan untuk belanja kepingan ini. Karena kalau di total pastinya mencapai puluhan juta rupiah X_x

Selama ini aku sering bingung untuk mengisi blog ku ini. Ingin diisi dengan catatan harian saja ataukah diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Kalau ingin diisi dengan hal yang bermanfaat, hal apa ya?? tuing tuing...
Nah, saat nonton sebuah film, aku terpikir untuk membuat ulasan atas setiap film yang aku tonton berdasarkan versi ku sendiri! Aha....ide bagus pikirku.
Namun sejenak ku pikir, apa iya aku bisa konsisten membuatnya??? Hmm sebuah persoalan baru!!

Ok dech sebentar lagi dah saatnya mau buka puasa.... Selamat berbuka puasa dan selama idul fitri 1434 H.... Mohon maaf lahir dan batin.....

Sunday, August 04, 2013

"Bukber" 2 minggu berturut-turut...

Judul di atas sebenarnya aku tujukan untuk kegiatan padatku dan teman-teman selama hampir 2 minggu kemarin. Bukber memang singkatan dari buka puasa bersama. Kenapa di kasih tanda petik? Karena bukber kali ini bener-bener spesial. Belum pernah terjadi selama ini sebelumnya....

Selama ini bukber hanya aku lakukan bila ada undangan. Entah itu datanganya dari seorang teman, kolega bisnis, kumpulan atau kelompok tertentu, atau apa saja. Nah, tahun ini bukbernya cukup unik. Karena dilakukan di kantor bersama teman-teman ku sebagai konsekuensi pekerjaan yang harus diselesaikan hingga malam!! Ya, dua minggu ini kami harus kejar tayang melaksanakan koreksi hasil ujian sebuah ujian saringan masuk. Jumlah berkas yang harus kami periksa dan koreksi lumayan banyak. Lebih dari 53 ribu lembar.

Pemeriksaan berkas dilakukan untuk memastikan antara dokumen yang satu dengan yang lainnya tidak ada perbedaan. Kendala akan terjadi bila berkas hasil ujian tidak dilampiri dengan berita acara dan daftar hadir! Dan ini akan menghambat proses selanjutnya bila tidak dilakukan verifikasi.

Dengan penuh semangat tim yang kami bentuk bekerja keras sejak Senin, 22 Juli 2013. Dalam tiga hari semua berkas yang kami terima telah berhasil di cek dan di scan. Sayangnya masih ada beberapa berkas pendukung yang belum kami terima. Akibatnya, beberapa proses pekerjaan menjadi tertunda!
Proses scanning dengan menggunakan aplikasi DMR (digital marked reader) ditindaklanjuti dengan pengecekan ada tidaknya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh peserta. Tim scanner harus memeriksa semua hasil scan secara teliti satu persatu. Dan ini tentu saja sangat memakan waktu.

Target penyelesaian pekerjan ini secara keseluruhan adalah hari Sabtu, 27 Juli 2013. Ya, kami hanya diberikan waktu selama 5 hari atau 6 hari termasuk hari Sabtu. Karena Senin, 29 Juli 2013 ditargetkan untuk melakukan rapat kelulusan. Tim pun akhirnya bekerja sekeras mungkin untuk mencapai target tersebut.
Inilah yang menjadikan kami 6 hari berturut-turut selama buka puasa bersama di kantor dengan orang-orang yang sama!! x_x

Minggu berikutnya tidak berbeda! Beberapa tim masih harus menyiapkan laporan dan draf pengumuman hasil ujian. Di samping itu, tim lainnya berupaya keras untuk menyiapkan bahan tes lain yang akan diujikan pada minggu kedua setelah cuti lebaran bulan Agustus 2013. Benar-benar sebuah pekerjaan yang menguras tenaga dan energi. Huff... Jadilah kami bukber 2 minggu berturut-turut!! Gubrakkkkk!
Untungnya, aku memiliki tim yang luar biasa tangguh!! Mereka mau bekerja keras tanpa perlu mengeluh. Salut!!!
Bravo rekan-rekan kerja ku! Terima kasih telah bekerja sama dan bekerja keras demi organisasi kita yang kita cintai!!! Love you PPSDM!

Wednesday, July 31, 2013

Inspirasional

Kiriman dari seorang sahabat:
Tian zhi di zhi ni zhi wo zhi 
(天 知 地 知 你 知 我 知/Langit Tahu, Bumi Tahu, Kamu Tahu, Saya Tahu)

Pada jaman dinasti Han Timur, hiduplah seorang pejabat tinggi yg bernama Yang Zhen (杨震).Yang Zhen adalah seorang yg memiliki pengetahuan luas, dalam keseharian bersikap jujur & tulus.
Suatu ketika, Yang Zhen hendak melakukan perjalanan dinas, kebetulan melintasi kabupaten Chang Yi (昌邑县). Bupati kabupaten Chang Yi bernama Wang Mi (王密). Yang zhen adalah orang yang merekomendasikan kepada raja agar Wang Mi menjadi bupati di daerah tersebut.
Wang Mi orangnya cekatan; serba bisa, merupakan teman dekat yang Zhen.Yang Zhen datang, sudah selayaknya Wang Mi menjamu dengan penuh keakraban. Tetapi Yang Zhen tidak berkenan terlalu merepotkan sahabatnya ,karena itu setelah jamuan santap malam segera pamit untuk beristirahat.

Tidak disangka saat tengah malam, Wang Mi diam-diam pergi menemui Yang Zhen.Wang Mi membawa sejumlah barang berharga untuk dihadiahkan kepada yang Zhen.
Wang Mi berkata, "terima kasih, atas rekomendasi dari anda barulah saya dapat menjabat sebagai seorang bupati."
Tetapi Yang Zhen tetap bersikukuh untuk tidak menerima hadiah tersebut, dia berkata kepada Wang Mi, "saya merekomendasikan kamu karena kemampuan kamu, bukan karena ingin dapat imbalan dari kamu.
Kamu berbuat demikian, jangan sampai terlihat oleh orang lain, sangatlah tidak baik bagi kita semua.
Wang Mi lantas berkata, "sekarang adalah tengah malam, tidak akan ada orang tahu jika saya memberi hadiah kepada kamu, terimalah hadiah ini."
Setelah mendengar itu semua, Yang Zhen dengan nada tinggi menjawab, "langit tahu, bumi tahu, kamu tahu, saya tahu, bagaimana bisa disebut tidak ada orang tahu?"
Wang Mi mendengarkan sambil menyesali, sibuk meringkas kembali hadiah yg akan diberikan,menundukkan kepala undur diri.

Andaikan semua orang bisa menghayati cerita ini tentunya negara kita bisa selangkah lebih maju, para pejabat ketika menjabat lebih memperhatikan rakyat daripada memikirkan kembali 'modal'. Dalam hidup seseorang pasti memperoleh banyak jasa dari pihak lain, memang perlu untuk berterima kasih, tetapi cara menyampaikannya harus tepat dan bijaksana.
Dalam kisah diatas adalah lebih baik bagi Wang Mi untuk menjaga kepercayaan atas kedudukan yg diembankan daripada memberi hadiah kepada Yang Zhen, semisal memajukan pembangunan di daerahnya.

Monday, July 29, 2013

Mengunjungi Manado (kembali)....

Agak terlambat menulis tentang hal ini sebenarnya. Karena kunjunganku ke Manado, kota seribu gereja, ini adalah minggu lalu.Ya, minggu lalu aku berkesempatan melihat-lihat kembali ibukota Sulawesi Utara ini. Kota dimana aku pernah bermukim selama hampir 4 tahun karena menjalankan tugas.

Kedatanganku kali ini ke Manado pun karena tugas kantor. Bedanya, kali ini hanya tugas singkat saja.
Jadwal kebarangkatanku dari Jakarta di tiket penerbanganku adalah Jumat, 19 Juli 2013 pukul 18.30 WIB.
Jumat pagi aku masih menyempatkan diri datang ke kantor di bilangan Kebayoran Baru. Setelah sholat Jumat aku segera menuju lokasi kantor ku lainnya di bilangan Bintaro. Dan menjelang pukul 3 sore aku pun segera pulang ke rumah untuk bersiap diri.

Selepas ba'da Ashar dengan diboncengi istriku aku berangkat menuju lokasi pangkalan taksi. Dari sana aku pun segera meluncur ke bandara. Sayang, jalan yang sudah kupilih ternyata macet total. Tidak seperti biasanya. Aku tersadar bahwa hari ini adalah Jumat. Ditambah lagi dengan bulan puasa. Biasanya menjelang sore, selama bulan puasa, banyak sekali warga yang menghabiskan waktu di jalan-jalan untuk menunggu saat berbuka. Walhasil, jalan-jalanpun padat!
Kuberi aba-aba kepada pak supir untuk mencari jalan lain meskipun aku tidak yakin jalan lainnya pun tidak macet. Dan benar saja, jalan lain yang kami pilihpun macet!!! Gubrak!
Karena tak berdaya, taksi pun hanya bisa mengikuti arus lalu lintas yang ada. Bila biasanya di jalan tersebut tersendat sekitar 5 menit, kali ini tersendatnya bisa mencapai 15-30 menit! Ampun dech!
Aku pun hanya bisa pasrah meskipun ada rasa was-was takut tertinggal pesawat menghinggapi. Dan rasa was-was itu akhirnya menjadi kenyataan. Aku tertinggal pesawat.
Aku tiba di bandara Cengkareng tepat pukul 18.20. Setelah membayar taksi aku segera ngacir menuju tempat boarding yang cukup jauh (sebelumnya aku sudah check-in online via intenet). Dua kali memasuki x-ray membuatku semakin tersendat.
Lima menit kemudian aku tiba di depan petugas boarding dengan tatapan pasrah. Dan aku semakin pasrah ketika sang petugas mengatakan bahwa baru satu menit yang lalu ada perintah untuk menutup pintu pesawat!

Tak ada jalan lain, karena aku harus menjalankan tugas di Manado untuk sabtu dan minggu, aku segera mencari tiket pengganti. Alhamdulillah masih ada seat untuk penerbangan esok pagi.
Setelah mencari makan (karena aku tak sempat berbuka puasa, hanya sekedar meneguk sedikit air) aku segera mencari taksi kembali menuju rumah yang lokasinya lumayan jauh. Apa boleh buat.

***
Pagi-pagi setelah makan saur aku memacu mobilku menuju bandara. Kali ini bukan taksi sebagai pilihan perjalananku menuju bandara.
Setelah mendapat tempat di parkir inap, aku segera check-in. Kali ini masih jauh dari jadwal boarding. Bahkan aku masih sempat sholat subuh berjama'ah di bandara.
Perjalanan menuju Manado melalui kota Makassar. Perjalanan ini menempuh waktu sekitar 2 jam. Kami transit cukup lama di bandara Sultan Hasanuddin yang cukup megah ini. Sekitar 45 menit. Para penumpang diharuskan turun dan menuju terminal bandara. Aku pun menyempatkan diri berjalan-jalan sepanjang koridor sambil menikmati barang pajangan yang dipampang di setiap gerai. Tak ada niat membeli. Selain karena harga pasti lebih mahal dibanding bila kita membeli di kios luar bandara juga karena tak ada barang yang aku minati.
Perjalanan menuju Manado ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam dari Makassar. Karena sedang berpuasa, semua hidangan yang diberikan oleh pramugari selama penerbangan terpaksa ku tolak.
Tiba di Manado rekan-rekan kantor yang bertugas di sana telah menjemput ku. Kami segera menuju lokasi kantor untuk melihat persiapan mereka terkait ujian saringan masuk yang akan dilaksanakan esok hari. Dan setelah yakin tak ada masalah, aku pun menuju hotel tempat menginap dengan diantar sahabat baikku, Wilson Lupa. Mobil dinas telah dipasrahkan kepada ku oleh kepala kantor selama aku berada di kota ini.

Setelah check-in di hotel Swiss-bell Maleosan, aku hanya menaruh tas bawaanku dan menunaikan sholat. Setelah itu ku minta Wilson untuk mengantarku keliling kota Manado yang katanya sudah banyak perubahan.

***
Benar saja! Manado benar-benar berubah! Sangat berbeda ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di awal tahun 2012. Ya ternyata 11 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah wajah kota ini. Bila dulu di sepanjang jalan Boulevard atau jalan Piere Tendean hanya dihiasi dengan gemuruh ombak pantai, kini wajahnya terang benderang karena di sepanjang jalan tersebut (yang dahulunya adalah pantai) berdiri tegak bangunan-bangunan ruko, hotel, dan mall. Luar biasa! Hingar bingar kendaraan dan orang yang berlalu lalang pun semakin terlihat sesak!
Oh Manado, engkau telah terlihat berbeda kini. Wajah mu yang dahulu ndeso kita telah nampak menjadi kuto! Sungguh aku tak lagi mengenalmu....






Friday, July 12, 2013

Micro Finance Training of Trainer, batch 9

Ahai.....ikutan diklat lagi....!
Dua minggu lalu aku baru saja mengikuti pelatihan Municipal Finance yang dilakukan menggunakan video conference. Dan kemarin, aku mengikuti pelatihan dengan model yang sama namun tema berbeda.
Perbedaan lainnya, Municipal Training dilaksanakan full selama satu minggu. Sedangkan Micro Finance dilaksanakan selama 6 bulan dengan skema pembelajaran jarak jauh alias Distance Learning Course.
Tatap muka melalui video conference dilakukan sebanyak 4 kali. Sisanya dilakukan secara mandiri. Kita tinggal mengikuti tutorial yang diberikan melalui sebuah situs, yaitu: http://jointokyo.org

Materi yang diberikan adalah hal baru bagiku. Meskipun aku sudah sering mendengar tentang micro financing, khususnya ketika seorang bankir di Bangladesh yang berhasil mendapat hadiah nobel karena keberhasilannya mengembangkan usaha perkreditan bagi kaum miskin di sana dengan mendirikan Grameen Bank.

Pertemuan pertama video conference agak menjemukan. VC dilakukan selama 3 jam saja. Mulai pukul 14.00 s.d. 17.00. Peserta pelatihan berasal dari beberapa negara, melalui sistem GDLN, yaitu Jepang, Indonesia, India, Nepal, dan Uganda. Pemberi materi berada di Jepang.

Masih ada 3 pertemuan lagi melalui VC. Selebihnya kami harus belajar mandiri dengan membaca modul dan mengerjakan soal latihan yang diberikan dan mengirimkannya via email.
Semoga aku bisa melaluinya dengan baik....

Marhaban Yaa Ramadhan..... 2013

Alhamdulillah aku dan keluarga masih dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh berkah ini. Sebuah anugerah kenikmatan yang tak bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Sebuah kepercayaan dari Sang Khalik kepada hamba Nya untuk berbuat yang terbaik selagi hayat di kandung badan.
Hari ini adalah hari ketiga berpuasa. Ada beberapa sahabat kami, kaum Muhammadiyah, yang telah memulai puasa 4 hari lalu. Perbedaan seperti ini adalah hal lumrah yang sering terjadi. Perbedaan keyakinan dalam penentuan awal bulan yang disebabkan perbedaan metode yang dipakai.

Bagi kami puasa tahun ini tidak berbeda dengan tahun lalu. Kami selalu menjalani dengan senang hati. Terlebih anak-anak kami, kecuali si kecil yang masih berusia 6 tahun, sudah dibiasakan oleh sekolah mereka untuk menjalankan puasa di hari-hari tertentu.
Satu hal saja yang membedakan dengan puasa 3 tahun terakhir ini, yaitu kami berpuasa di tempat tinggal kami yang baru. Bukan di rumah dinas lagi. Otomatis, lingkungan pun baru.

Di hari pertama dan kedua kami berusaha untuk bisa melakukan shalat tarawih berjamaah di rumah. Demikian pula saat subuh menjelang. Aku sadar, dengan kesibukan ku, jarang nantinya aku bisa sholat berjamaah bersama mereka.
Ingin rasanya dalam bulan ini kesibukan ku aku kurangi. Sayangnya, sebagai seorang kuli, aku tak bisa membuat sendiri jadwal kerja ku. Semua jadwal kerja sudah ditetapkan oleh si pemberi kerja. Aku tinggal melaksanakannya saja.
Seandainya aku adalah seorang pengusaha, mungkin akan ku kurangi aktivitas ku di bulan ini. Dan lebih banyak menjalankan ibadah-ibadah yang disunnahkan.

Oh ya, selama di bulan puasa ini , entah mengapa, aku lebih senang mengonsumsi salad buah daripada makanan lainnya. Awalnya, aku hanya ingin mengonsumsi salad buah saat makan sahur dan berbuka puasa. Namun istriku mengingatkan bahwa tubuh kita juga butuh karbohidrat lho.
Alhasih, ya masih kemasukan nasi dan lain-lain dech.... Padahal, selain karena sedang senang dengan salad buah, aku juga bermaksud untuk bisa mengecilkan ukuran lingkar pinggang ku hahahaha....

Thursday, July 04, 2013

Abepura, Jayapura

Sungguh perjalanan yang sangat teramat melelahkan. Rasanya, lebih melelahkan dari perjalanan ke Australia ataupun ke Belanda sekalipun di tahun lalu.
Waktu tempuh kali ini "hanya" sekitar 10 jam. Hampir sama dengan perjalanan menuju Melbourne dan lebih pendek bila dibandingkan dengan perjalanan menuju Belanda. Namun perjalanan Jakarta-Bandara Sentani Jayapura terasa melelahkan akibat transit di 3 kota: Denpasar, Makassar, dan Timika, sebelum berakhir di Sentani, Jayapura.

Skedul penerbangan, seperti biasanya: tidak on schedule! Maskapai penerbangan milik pemerintah yang menyatakan dirinya sebagai maskapai domestik terbaik di kawasan asia ini tetap saja tidak bisa memenuhi skedul yang ditetapkannya sendiri. Alasannya klasik. Bila tidak karena akibat tertundanya kedatangan pesawat dari penerbangan sebelumnya, alasan lainnya adalah karena padatnya traffic di bandara Jakarta. Alasan kedua sangat masuk akal bila ketertundaan tersebut terjadi di Jakarta. Mengingat traffic penerbangan di Jakarta memang sangat padat! Alasan pertama akan lebih masuk akal bila diajukan dalam penerbangan selain dari bandara Jakarta. Huf apapun alasannya, tetap saja terlambat alias ngaret! Bosan telinga ini mendengar awak kabin yang selalu meminta maaf atas keterlambatan tersebut saat penumpang sudah berada di dalam pesawat dan siap untuk melakukan penerbangan.

Minggu sore, 30 Juni 2013, menjelang magrib aku tiba di Bandara Soekarno Hatta dengan menumpang sebuah taksi. Sebelumnya, aku sempat diantar istriku dengan sebuah motor dari kediaman kami di Pondok Aren hingga perempatan Ciledug Raya. Hal ini kami lakukan demi memangkas waktu tempuh. Maklum, dari rumah kami hingga Ciledug pada sore hari jalanan sangat padat. Dari pada terlambat sampai di Bandara mending pangkas waktu make motor dulu hehehehe. (makasih ya istriku yang sudah mau mengantar dalam gerimis ria)

Kali itu istriku memang tidak mengantarku dengan mobil hingga ke bandara. Biasanya ia dan anak-anak mengantar aku hingga ke bandara. Itung-itung sambil jalan-jalan! hehehe. Nah, karena skedul keberangkatanku adalah sore hari dan karena istriku belum terbiasa menyetir di malam hari maka kami putuskan aku cukup di antar dengan motor sampai di suatu tempat yang akan ada taksi lewat.
***

Saat tiba di bandara, seorang temanku, Dani, sudah lebih dulu berada di sana. Kami memang mendapat tugas yang sama yaitu ke kota Jayapura di Papua. Selain kami berdua, ada pula satu orang rekan lain dari Setjen yang ikut bersama kami, yaitu Mas Vinaldo.

Setelah check in kami menuju ke sebuah kafe untuk menunggu jadwal keberangkatan yang masih cukup lama. Di sana kami bertemu dengan dua orang rekan lainnya yang akan menuju kota Wamena. Mereka menggunakan pesawat yang sama menuju Jayapura. Dari sana nantinya mereka akan melanjutkan perjalanan kembali dengan sebuah pesawat kecil menuju Wamena, sebuah kota kecil di pegunungan Jayawijaya.

Kurang lebih lima belas menit menjelang waktu boarding kami menuju ruang tunggu. Saat melewati meja petugas, mata kami tertuju pada sebuah running text berwarna merah yang ada di meja petugas. Kami pun terkejuut! Kami yang mengira bahwa rute penerbangan menuju Jayapura hanya akan singgah satu kali yaitu di Makassar, ternyata mendapati tulisan dalam running text tersebut bahwa rute kami adalah: Jakarta-Denpasar-Makassar-Timika-Jayapura! Hadeh!! Tepok jidat!

Bagi kami yang sudah terbiasa menumpangi pesawat terbang, rute seperti itu adalah rute yang tidak menyenangkan. Selain melelahkan, juga karena dipastikan banyak sekali waktu yang terbuang. Bayangkan, setiap kali akan landing saja dibutuhkan waktu setidaknya 20 menit. Saat berada di ground, waktu yang diperlukan untuk menurunkan penumpang, membersihkan kabin, menaikkan penumpang, waktu tunggu izin take off bisa sekitar 1 jam! Nah, dengan tiga kali transit, itu artinya kami membuang waktu 3 jam! Walhasil, badan kami pegal-pegal selama penerbangan tersebut. Kegiatan rutin yang kami lakukan adalah: membaca koran dan majalah, menyantap makanan yang disajikan, mendengarkan musik atau menonton film dari layar LCD mungil yang di tempatkan di balik sandaran kursi, dan tentu saja tidur sebisanya!
Pemandangan berupa awan yang berarak baru menemani perjalanan saat kami akan tiba di Timika. Sebuah kota kecil yang terkenal dengan aneka tambang yang di eksplor oleh PT Freeport.
Jujur, pemandangan di bawah sana (bumi Papua) memang indah. Gerombolan pohon-pohon hijau terhampat begitu luasnya. Liukan sungai menambah keindahan panorama tersebut.
***


Kami tiba di bandara Sentani menjelang pukul setengah sepuluh pagi waktu setempat (selisih 2 jam lebih awal dari waktu di Jakarta). Kami take off dari Jakarta sekitar menjelang pukul 10 malam waktu setempat di hari sebelumnya. Itu artinya perjalanan kami adalah kurang lebih 10 jam!

Badan terasa lelah benar. Aku yang tidak terbiasa tidur dalam posisi duduk tentu saja merasa semakin menderita dengan penerbangan kali ini. Ingin rasanya segera merebahkan badan.
Di bandara Sentani kami di jemput oleh staf UP4B yang menjadi penanggung jawab kegiatan penerimaan mahasiswa baru STAN khusus bagi warga Papua dan Papua Barat. Ya kedatangan kami ke bumi Cendrawasih adalah untuk menyelenggarakan ujian saringan masuk bagi lulusan SMA sederajat di sana. Dan....ini adalah kali keduaku menginjakan kaki di pulau yang cantik ini.
Akhir tahun 2011 lalu aku berkesempatan mengunjungi kota Merauke, kota yang tercatat sebagai kota paling Timur Indonesia.
Bila Jayapura berada di Utara pulau Papua, maka Merauke berada di sebaliknya, di Selatan pulau.
Meski lelah tetap terbesit keharuan dan kegembiraan karena bisa menginjakkan kaki kembali di tanah Papua.
***

Ternyata, penyelenggaraan ujian tidak dilaksanakan di kota Jayapura, melainkan di kota kecil Abepura. Kota ini berada di pinggir kota Jayapura. Jarak dari bandara Sentani menuju Abepura kurang lebih sekitar 25 km.
Setelah meninjau lokasi ujian yang akan dilaksanakan esok hari, kami pun segera check in di sebuah hotel kecil yang ada di kota tersebut: Hotel Matos. Kependekan dari Matoa Square.

Hotel ini relatif bersih. Tarif per malam berkisar Rp450.000 untuk kelas standar, Rp500.000 untuk kelas deluxe, dan Rp550.000 untuk kelas suite. Sayangnya fasilitas wifi tidak tersedia di setiap kamar. Wifi hanya ada di ruang makan saja. Itu pun koneksinya tidak bisa diharapkan.

Jangankan koneksi wifi, koneksi telpon seluler saja sangat tidak ramah di wilayah ini. Kawanku, Dani, sampai harus mematikan dan menyalakan kembali handset-nya untuk bisa mendapatkan sinyal. Namun hasilnya sama saja: sinyal lemot! Bila menerima telpon masuk, suara yang diterima cukup jelas terdengar tetapi lawan bicara mengatakan suara kita terputus-putus saat didengar oleh mereka.
Ya ternyata sinyal kadang datang dan pergi. Handset BB ku kadang tidak berfungsi. Menyedihkan!

Untuk layanan petugas dan kebersihan kamar aku memberi nilai 8 untuk hotel ini. Fasilitas hotel bernilai 6. Dan untuk sajian sarapan bernilai 5!

Kota Abepura adalah kota yang berada di lintasan jalan antara Sentani menuju Jayapura. Trafik kendaraan di sana lumayan padat. Toko, ruko, dan tempat makan pun cukup banyak tersedia.
Dalam bangunan yang sama dengan hotel, terdapat restoran pizza hut. Di sebelah kanan terdapat beberapa tempat makan. Ada rumah makan yang menjual cotto makassar, sea food, dan jenis makanan lainnya. Di seberang jalan bahkan terdapat restoran yang menyajikan masakan Jawa.
Jadi, tidak sulit untuk mendapatkan makanan di sekitar hotel. Untuk harga, menurutku sangat relatif. Tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Sedang!

Friday, June 28, 2013

Ikutan Training: MFCT, Municipal Finance Certification Training

Ini adalah training kedua ku di tahun ini, setelah 2 bulan lalu ikut training TOT PBJ (Training of Trainer Pengadaan Barang Jasa) di Gadog, Bogor.

Awalnya kukira training ini diberikan langsung oleh narasumber secara tatap muka. Ternyata pada saat hari pertama (Senin, 24 Juni 2013) memasuki ruang training, kulihat berbagai peralatan multimedia. Yup! Training diselenggarakan melalui perangkat video conference.
Ada 4 negara rupanya yang bergabung dalam penyelenggaraan training ini. Selain kami, Indonesia, ada kelompok peserta dari Malaysia (Kuala Lumpur), Philipines (Manila), dan Mongolia (Ulan Bathor). Sedangkan Moderator dan Narasumber berada di Washington DC, USA.
Hmm...berarti ini training pertamaku yang dilakukan dengan bentuk jarak jauh alias long distance learning. Menarik!
Training dilaksanakan selama 5 hari. Dari Senin s.d. Jumat. Khusus hari Jumat, jadwal pelatihan berakhir pada pukul 4 sore, karena diakhiri dengan pelaksanaan ujian tertulis. Sedangkan di hari Senin s.d. Kamis, pelatihan hanya dilakukan setengah hari yaitu hingga pukul setengah satu siang saja.

Secara keseluruhan materi yang diberikan bukanlah "barang baru" bagiku. Karena materi yang disampaikan oleh narasumber masih berada dalam jangkauan disiplin ilmu yang kumiliki hehehe.
Yang beda hanya satu: penyampaian dilakukan dalam bahasa Inggris! hahaha....

Materi hari pertama: Budgeting for Improved Performance, disampaikan oleh Jesus Nava, Chief Administrative Officer, Santa Clara Water District, San Jose, California.

Materi hari kedua: Planning and Budgeting for Capital Improvements, masih disampaikan oleh Jesus Nava.

Materi hari ketiga: Accounting and Financial Reporting, disampaikan oleh Robert Samario, CPA, Finance Director, City of Santa Barbara, California.

Materi hari keempat: Revenue Generation, disampaikan oleh Chu Thai, Administrative Services Director, City of Stanton, California.

Materi hari kelima: Creditworthiness and Debt Financing: A Primer for Sub-national Governments on Municipal Bond Issuance, disampaikan oleh Robert D. Peirson, Finance Director, Housing Authority of Santa Barbara, Former Finance Director City of Santa Barbara, California.



Wednesday, June 12, 2013

Pekanbaru (again)....

Alhamdulillah akhirnya landing juga di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. Fuiihhh bete banget aku dengan penerbangan kali ini.
Jarum jam hampir menunjuk ke angka 10 malam. Padahal waktu tempuh perjalanan hanya sekitar 1 jam 20 menit. Saat masuk pesawat jam mengarah ke angka 7 malam.
Itu artinya setengah jam lebih kami para penumpang berada dalam posisi "siap terbang".


Kejadian bermula saat para penumpang telah lengkap dan pintu pesawat telah ditutup. Setelah beberapa menit di dalam pesawat dan bahkan setelah video demo keselamatan selesai ditayangkan, sang pilot berkata bahwa karena padatnya trafik saat itu maka penerbangan diminta menunggu izin dari menara pengawas selama 13 menit.

13 menit berlalu suasana di dalam pesawat masih hening. 30 menit berlalu, masih sama! Dan setelah mendekati 50 menit pesawat mulai meningglkan apron menuju landasan pacu.
Saat menuju landasan pacu pun pesawat berjalan lambat dan kadang berhenti. Menunggu antrian take off kelihatannya.
Sayangnya, tidak ada info apapun dari awak kabin! Menyebalkan!
Dan setelah hampir 30 menit berlalu barulah sang pilot memberi aba-aba, "flight attendant take off position, please..."
So, hampir satu setengah jam kami terkurung dalam pesawat dalam keheningan! Sungguh penerbangan yang sangat menyebalkan.
Aku lebih suka penerbangan nonstop 3 jam dari pada setengah jam berada dalam pesawat dalam diam!

Saat pesawat berhenti di apron di bandara Pekanbaru, aku bergegas berdiri. Semata-mata hal itu aku lakukan untuk meluruskan punggungku yang sudah terasa tidak nyaman. Tak sabar rasanya ingin berada di luar pesawat.
Karena tidak memasukkan barang bawaan dalam bagasi, aku segera ke luar bandara. Di pintu kedatangan sahabatku sudah menunggu.
Aku segera minta maaf atas keterlambatan tersebut yang tentunya membuat ia juga harus menunggu lama di bandara.
Alasan keterlambatan pun segera kuceritakan padanya.

Mobil meluncur meninggalkan bandara dan menuju sebuah hotel tempat pelaksanaan diklat. Ya, dua hari ini aku berada di Pekanbaru untuk memberikan materi sebuah pelatihan. Kamis sore aku kembali ke Jakarta.

Monday, June 10, 2013

Level Forty-two

Hari genap sudah umurku 42 tahun. Aku jadi teringat sebuah nama grup band era 90-an: Level 42 (forty-two).
Alhamdulillah hingga kini aku masih diberikan kesehatan dan kenikmatan oleh Allah SWT.
Semoga Allah masih berkenan pula memberikanku kesempatan menghirup udara alam fana ini hingga usia lanjut....hingga aku bisa menyaksikan ketiga anakku tumbuh dewasa dan berdikari.

Umur memanglah rahasia YangMaha Kuasa. Kita tak pernah tahu berapa lama jatah kita berada di alam fana ini. Kematian adalah sesuatu yang pasti. Kesiapan kita untuk menuju ke sana yang harus kita benahi. Sebagai hamba, kita hanya bisa berdoa dan berharap agar semua keinginan kita dikabulkan oleh Dzat yang Maha Pemilik segalanya.

Beberapa hari lalu seorang sahabat baikku dipanggil oleh Nya. Ia meninggalkan seorang istri dan 5 atau 6 orang anak. Sebagian besar masih sangat kecil. Allah tentu punya maksud dan rencana dengan hal ini.
Kemarin, seorang putra bangsa, Ketua MPR RI dan sekaligus suami mantan Presiden RI ke-5, yaitu Bapak Taufik Kiemas pun berpulang kepada-Nya. Dan aku cukup yakin, banyak sekali ruh-ruh yang kemarin berpisah dengan raga untuk menghadap Sang Khalik.

Adikku yang paling kecil pun telah berpulang sejak 2 tahun lalu, ketika usia nya belum genap 28 tahun.

Yaa Allah.......hanya Engkaulah yang mengetahui rahasia dibalik keputusan-Mu. Kami hamba-Mu hanya mampu berpasrah dan berdoa kepada-Mu.
Berikan selalu kesehatan dan karunia Mu kepada kami dan keluarga kami.
Jadikanlah kami orang-orang yang selalu bersyukur atas setiap nikmat yang Engkau berikan.
Izinkan kami melihat anak-anak kami yang tumbuh dalam kedewasaannya...
Jadikan pula kami sebagai hambu Mu yang terbaik.....
Aamiin...

(catatan: kue ultah di atas adalah pemberian rekan-rekan kerja ku di Bidang PTT)

Nyantai...menikmati hidup....dan kontemplasi...

Setiap sabtu dan minggu pagi aku selalu menyempatkan diri bermain tenis lapangan bersama teman-teman alumni. Kegiatan ini sudah berlangsung hampir 3 tahun.
Selain untuk menggerakkan tubuh, kegiatan ini juga sebagai ajang silaturahmi mingguan. Di sela-sela permainan, kami bisa bercanda tawa dan kadang membicarakan hal-hal yang ringan.
Kami sepakat untuk tidak membicarakan hal-hal berat, seperti pekerjaan kantor, selama kami berada di lapangan tenis.
Sabtu kemarin, selepas bermain tenis dan setelah tiba di rumah, kugunakan siang itu untuk nyantai di tepi kolam kecil. Siang itu kebetulan cuaca cerah dan tidak terlalu panas.
Setelah memberi makan kucing peliharaan kami, aku nongkrong di pinggir kolam sembari memberi makan ikan nila yang terlihat asyik berenang di sana kemari.


 
 kontemplasi....

 nyantai, menatap jauh ke langit....

 nyeruput kopi...

berdua bercengkerama dengan alam...

Kunikmati benar suasana siang itu. Rasa damai menghampiri perasaan dan pikiran ku. Tenang rasanya.
Tak lama kemudian, istriku ikut bergabung. Untuk menambah suasas rileks, ia membuatkan secangkir kopi hitam dan roti panggang sebagai kudapan.
Betapa nikmatnya siang itu...... 

Wednesday, June 05, 2013

Mulai Padatnya Kegiatan Kantor

Bulan ini hingga Agustus nanti jadwal kegiatan kantorku full. Berbagai aktivitas penyiapan, pembuatan soal, penyelenggaraan ujian tengah menghadang kami. Setidaknya ada 4 kegiatan yang kami lakukan secara beruntun: seleksi beasiswa S2 dalam negeri bagi pegawai DJKN, seleksi beasiswa luar negeri bagi pegawai Kemenkeu (SPIRIT Program), seleksi penerimaan mahasiswa baru STAN, dan seleksi penerimaan mahasiswa baru STAN khusus warga Papua.

Seleksi beasiswa S2 dalam negeri bagi pegawai DJKN telah selesai dilaksanakan. Diperlukan setidaknya 2 minggu untuk menyiapkan pelaksanaannya (penyiapan soal TPA, Bahasa Inggris, dan Psikotes; penggandaan soal, pen-set-an soal, dan packaging) dan satu minggu untuk mengoreksi hasil ujiannya.

Minggu lalu, untuk penyiapan soal S2 program SPIRIT dan USM STAN, kami secara khusus mem-booking sebuah tempat di Jakarta Utara. Pertimbangannya, bila dikerjakan di kantor waktunya sangat terbatas. Hanya pada jam kerja saja. Belum lagi dengan adanya gangguan-gangguan pekerjaan lainnya.
Dengan bekerja di suatu tempat secara khusus, kami bisa bekerja hingga larut malam dan tanpa terganggu dengan hal-hal lainnya.

Paket soal S2 Program Spirit telah selesai. Minggu ini kami mulai menggandakan dan men-setting-nya. Ada 1000 lebih peserta yang akan ikut seleksi ini yang dilaksanakan di 11 kota besar di Indonesia. Target kami, Senin pekan depan semua persiapan selesai. Untuk itu kami harus rela lembur dan juga masuk di hari kamis esok yang sesungguhnya adalah hari libur nasional. Mengingat, rabu dan kamis depan adalah waktu pelaksanaan ujiannya.

Hingga saat ini, penyiapan soal USM STAN belum seratus persen selesai. Masih ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan secara matang. Diantaranya adalah kegiatan validasi soal.
Selain ujian tulis yang harus disiapkan, kami pun juga harus menyiapkan pelaksanaan tes wawancaranya. Yang menyulitkan adalah karena pewawancara haruslah pegawai yang telah dibekali ilmu mewawancarai. Jadi, tidak bisa asal tunjuk. Oleh karenanya, diperlukan kegiatan workshop yang harus diikuti oleh para calon pewawancara.

Sunday, May 26, 2013

Semoga lekas sembuh Ibundaku....

Minggu lalu saat aku sedang di Palembang, kakak tertuaku menelpon. Ia memberitahu tentang info yang ia terima dari sahabatnya. Info tersebut terkait dengan tempat pengobatan alternatif yang berada di Sukabumi.
Pengobatan ini diperuntukkan bagi ibu kami yang telah lama mengidap kanker payudara. Ibu kami memang memutuskan untuk melakukan pengobatan alternatif daripada pengobatan medis. Di samping, kami anak-anaknya juga tidak berani membawa ibunda ke pengobatan medis. Kami paham bagaimana proses pengobatan terhadap pasien kanker. Sudah banyak sahabat-sahabat kami yang mengalaminya.
Pengangkatan kanker mungkin terbilang "mudah". Namun proses setelahnya cukup memakan energi, kesabaran,  dan kekuatan di pasien.
Seorang sahabatku pernah bercerita sambil menunjukkan kondisi kuku-kuku di kedua tangannya paska melakukan kemoterapi. Kuku di kedua tangannya menghitam sebagai akibat proses kemo tersebut. Ia juga menceritkan bagaimana penderitaan yang ia alami selama melakukan proses kemo. Menurutku, karena ia berusia 40-an tahun, ia masih sanggup menahan sakit. Dan itupun ia lakukan demi buah hati yang masih membutuhkan kasih sayang sang ibu.
Menyadari beratnya proses kemo, kami pun tidak menghalangi ketika ibunda kami tidak memilih pengobatan medis sebagai upaya ikhtiar beliau. Sejauh ini, sudah dua tempat pengobatan yang dilakukan oleh Ibu kami, yaitu di Jogjakarta dan Tangerang.
Setelah beberapa kali melakukan pengobatan ke Jogjakarta dan tidak menunjukkan perubahan luar biasa, ibu memutuskan untuk berpindah pengobatan ke Tangerang. Pengobatan ini sudah berlangsung beberapa bulan.
Setelah mendapat info dari sahabat kakak ku, akhirnya kedua kakakku mengabarkan bahwa sore tadi ibu ku bersedia untuk melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk melakukan ikhtiar kembali. Semoga saja ikhtiar kami tidak sia-sia.
Yaa Allah berikanlah keringanan penyakit pada Ibu kami. Berikanlah kesembuhan kepadanya. Janganlah Engkau berikan penderitaan kepadanya.... aamiin..

Wednesday, May 15, 2013

Palembang....

Aku lupa sudah berapa kali menginjakan kaki di bumi 'mpekpek". Kayaknya sich antara 4 atau 5 kali.
Terakhir kali ke sini sekitar tahun 2011 akhir.

Minggu sore aku take off dari Jakarta menggunakan maskapai BUMN. Tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menjelang magrib. Tiga orang sahabatku sudah standby di pintu kedatangan untuk menjemput.
Kami segera meluncur ke Balai Diklat. Saat ditawari untuk menginap di hotel, aku berujar bahwa bila diizinkan sebaiknya saya cukup tinggal di mess atau numpang di rumah dinas saja.
Sebenarnya aku akan lebih nyaman dan nikmat di hotel. Namun kali ini, aku merasa akan lebih nyaman bila di rumah dinas saja. Di hotel, aku hanya akan termenung seorang diri. Bila di rumah dinas, aku bisa ngobrol banyak dengan teman-temanku.
Kalau di hotel, teman-temanku harus menjemput dan mengantar dari hotel ke Balai Diklat dan sebaliknya. Bila di rumah dinas, aku cukup jalan kali saja. Selain itu, aku tidak harus tergesa-gesa bangun pagi heehehehe. Selepas sholat subuh akan masih bisa ngorok lagi hahahaha.

Malam itu kami ngobrol hingga larut malam. Kopi dan cemilan menjadi teman kami. Siaran langsung sepakbola dari stasiun televisi membuat kami betah berada di ruang tengah.
Kedatanganku ke Palembang kali ini bukan dalam rangka tugas keseharian kantorku. Kali ini, aku diminta memberikan materi tentang Kreativitas dan Inovasi pada sebuah diklat yang diselenggarakan Balai Diklat

Aku berada di Palembang hingga kamis. Jadwal mengajar hanya sampai rabu. Namun aku diharapkan tetap bisa hadir pada hari Kamis untuk mengikuti talkshow.

Friday, May 10, 2013

Tentang Densus 88

Mungkinkah 2 gambar ini mempunyai korelasi Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti Teror Act".
Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Luar Negeri AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS.Informasi yang bersumber dari FEER pada tahun 2003 ini dibantah oleh Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis, dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Sekalipun demikian, terdapat bantuan signifikan dari pemerintah Amerika Serikat dan Australia dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88. Pasca pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerjasama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman. Hal ini dilakukan sejalan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pasal 43.


(sumber: dari seorang sahabat)

Wednesday, May 01, 2013

Nanem Pu'un nyokk....

Entah kenapa minggu dan senin lalu aku tergila-gila ingin melakukan penanaman pohon. Baik di media tanah maupun di media pot.
Menyukai tanaman bukan hal baru buatku. Hanya saja selama ini istriku yang lebih banyak meluangkan waktu bagi berbagai tanaman yang ada di rumah.
Aku hanya sesekali saja menyiram. Selebihnya ya istriku lah! hehehehe

Nah, hari minggu kemarin aku terjun menanam pohon untuk pertama kalinya. Itu pun karena aku memenuhi janji pada kawanku yang telah mengirimkan 4 buah pohon kelengkeng dari berbagai varietas.
Karena itulah aku terjun langsung (bersama istriku dan dibantu bapak mertua) menanam pohon tersebut. Namun karena lahan terbatas, hanya dua pohon yang bisa ditanam di media tanah. Sisanya "terpaksa" ditanam di media pot.

Berikut pola tanam di media pot yang kami lakukan.

1. Menyiapkan media tanam berupa pot.

Sebaiknya gunakan pot yang berbahan seng atau besi untuk media tanam berukuran besar dan kokoh. Kami menggunakan pot yang berasal dari sebuah drum. Media tersebut kami beli di sebuah toko grosir media tanaman di daerah Karang Tengah, Ciledug, Tangerang.


2. Taburkan "cuilan" styrofoam pada bagian dasar media tanam.
Kegunaannya adalah untuk memberikan pori-pori pada bagian bawah agar air dapat lancar terbuang dan tidak tergenang. Genangan air berlebih dapat menyebabkan akar pohon busuk dan akhirnya pohon pun akan mati.



3. Taburkan media tanam berupa akar-akaran.\
Kegunaannya hampir sama dengan styrofoam yaitu untuk mengurangi potensi tanah yang menumpuk di bagian bawah.


4. Masukkan media tanam instan.
Media tanam instan ini banyak di jual di toko-toko tanaman. Media ini berupa campuran antara tanah pilihan (selected soil), pupuk, dan sebagainya.



5. Tanam pohon pada media yang sudah disediakan.
Penanaman sebaik dilakukan pada sore hari, yaitu saat tanaman tidak sedang bekerja keras melakukan fotosintesis.





Monday, April 29, 2013

"Berkebun"

Memelihara dan menanam pohon telah kami lakukan sejak tahun 2005-2006. Pohon-pohon yang ditanam masih sebatas pohon hias dan dilakukan pada media tanam berupa pot.
Sejak dulu aku dan istri memang bercita-cita ingin memiliki tanaman yang banyak di rumah. Selain untuk melepas kepenatan juga untuk membuat hijau sekitar rumah.
Tiap kali kami melihat sebuah rumah yang rimbun oleh pepohonan, iri rasanya. Meskipun rumah yang kami lihat itu cuma ada di tayangan televisi.
Pokoknya, kami niat: kalau sudah punya rumah sendiri, kami akan hiasi dengan banyak tanaman.

Karena tugasku yang selalu berpindah dari satu kota ke kota lain, keinginan tersebut baru terwujud di tahun 2006. Saat itu aku masih tinggal di kediaman orang tuaku di Sunter, Jakarta Utara.
Meski masih sebatas tanaman dalam pot dan jumlahnya pun terbatas, kami cukup puas telah memilikinya.
Aku masih ingat. Saat aku ngajar audit di Selabintana, hampir seluruh honor ngajarku aku belikan berbagai tanaman hias. Mobil kijang yang ku bawa, full berisi berbagai tanaman. Bahkan di jok depan sekalipun berisi tanaman hehehehehe.
Hal yang sama terulang kembali tahun lalu. Saat itu aku ngajar kembali di sana. Istri dan anak bungsu kami ku ajak ke sana.
Selesai ngajar dan saat akan kembali ke Jakarta, aku terkaget-kaget karena ternyata istriku berbelanja berbagai tanaman dalam jumlah yang cukup banyak. Full satu mobil! (tepokjidat)

Sejak kami tinggal di rumah dinas tahun 2008, kami memang mulai mengoleksi berbagai jenis tanaman. Dari tanaman hias hingga tanaman buah.
Jujur, kami hanya senang menanam dan tidak tahu seluruh jenis tanaman yang ditanam.
Pokoknya pohon! Titik!

Kemarin, minggu 28 April 2013, aku mendapat kiriman 4 buah pohon kelenkeng dari seorang sahabatku yang sedang bertugas di Mataram. Ke empat pohon tersebut dari varietas yang berbeda.
Varietas: Pingpong, Diamond River, Aroma Durian, dan Puangrai.
Dua varietas kami tanam di media tanah yang memang sudah kami siapkan. Dua lainnya kami tanam di media pot besar.
Semoga saja tanaman-tanaman tersebut dapat beradaptasi dengan kondisi di rumah ini.

 Pohon Kelengkeng dalam berbagai varietas



Friday, April 19, 2013

Promo Tour Ekonomis

Beberapa jenis peluang usaha sedang aku tekuni kembali. Selain usaha-usaha yang memang sudah berjalan beberapa tahun ini.
Salah satu peluang usaha yang sedang dijalani adalah menjual paket-paket promo tour ekonomis alias murah beberapa negara Asia, diantaranya China dan Bangkok (dua negara yang cukup banyak peminatnya. Begitu kabarnya).


Minggu lalu akhirnya aku putuskan untuk bergabung dengan usaha kawanku ini. Ia dan temanku yang lain telah setahun menekuni bisnis ini.
Mereka memang bukan pemilik usaha. Namun mereka punya andil besar membantu membesarkan bisnis ini dengan sistem "member get member" alias multi level marketing (MLM).
Bisnis ini memang menggunakan sistemnya MLM dalam merekrut dan memberikan bonus. Hanya saja mereka belum mau dibilang sebagai bisnis MLM. Apalagi mereka memang belum terdaftar di asosiasi bisnis MLM.

Konsepnya saja yang dipakai dari MLM tersebut. Selebihnya adalah konsep konvensional karena pada dasarnya mereka memang menjual paker tour wisata murah dan bukan sekedar memperbanyak jaringan.

Setau ku, kalau pun ini adalah sebuah bisnis MLM, maka bisnis ini adalah bisnis MLM baru di bidang tour and travel. Biasanya bisnis MLM lebih banyak dipakai pada perusahaan yang menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau produk-produk kesehatan.

Nah, aku tertarik untuk ikut bergabung dan ikut memasarkan karena ada niatan sekiranya suatu ketika aku punya dana, aku dan keluarga bisa berwisata ke luar negeri dengan biaya yang relatif murah....

Entah seperti apa prospek ke depan. Aku hanya akan mencoba menjalaninya semampuku. Tidak ada target apapun. Bila berhasil, tentu saja akan bersyukur. Dan sekiranya gagal pun tidak menjadi masalah. Yang penting: ikhtiar!!!
Toh ini bukan satu-satunya usaha yang sedang aku jalani.

Beberapa peluang bisnis lainnya juga sedang aku bidik. Sayang danaku yang aku investasikan dua tahun lalu pada usaha kawanku di bidang persingkongan hingga kini belum jelas pengembaliannya....

Salam sukses untuk menyongsong masa purna bhakti 14 tahun lagi....

Friday, April 05, 2013

Mengenangmu.....(wahai adikku)

Dua tahun sudah waktu berlalu. Tak terasa, 2 tahun silam adik bungsu kami menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.
Ya, ia kembali ke haribaan-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun....
Semua yang datang dari Nya....kembali pula kepada sang maha Pencipta.....

Dua tahun lalu, ia hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam dalam pertolongan di sebuah rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kecelakaan menimpa saat ia berboncengan dengan keponakan kami menuju terminal bus.
Dari terminal bus ia berencana menuju kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Di kota itu, istri dan putera-puterinya menetap.

Hingga kini kejadian kecelakaan tersebut masih menjadi misteri.
Tak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan musabab kejadian tersebut. Termasuk keponakanku yang saat itu berboncengan dengan almarhum.
Semua menjadi misteri Ilahi....

Kami sadar bahwa tak ada manusia yang mampu melawan takdir.
Saat waktu yang telah ditetapkan oleh Nya tiba, maka tak ada satupun yang berdaya menundanya.
Waktu itu pun menjadi misteri bagi diri kita. Tak tahu kapan ia akan tiba menjemput diri kita.
Kontrak hidup di dunia telah ditetapkan oleh Nya seperti saat kita dilahirkan ke dunia.
Hanya Ia sang pemilik waktu yang mengetahuinya.
Manusia hanya mampu menjalankan kehidupannya tanpa diberitahu kapan batas waktu itu menjadi milik kita.

Allah maha Besar..... Hanya Ia yang mengetahui segalanya.
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Nya.
Ia yang menciptakan dan Ia pula yang memusnahkan....

Dua tahun menjadi waktu yang terasa singkat.
Rasanya baru kemarin adikku "menyusul" ayah kami yang wafat tahun 2006.
Kejadian yang amat mendadak tentu tak pernah bisa kami lupakan.
Tak ada yang menyangka bahwa ia si bungsu ternyata yang pertama menghadap Nya.
Allah lebih menyayangi dirinya ketimbang kami kakak-kakak Nya....
Ia diberikan kemuliaan untuk tidak melakukan perbuatan tercela kembali di dunia.
Allah lah yang mencukupkan amal ibadah nya pula.

Di antara kami, 6 bersaudara, si bungsu ini yang paling memiliki sifat agamis.
Sejak kecil ia telah dekat dengan nilai-nilai agama.
Ketika beranjak remaja, ketekunannya mempelajari nilai-nilai agama semakin tinggi.
Ia aktif diberbagai kegiatan yang berbau agama.
Perilaku sehari-harinya pun kental dengan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.

Keinginan dan motivasinya sangat tinggi.
Ia selalu optimis dalam setiap aktivitas yang ditekuni.
Ia tak pernah menyerah dengan setiap kegagalan yang menerpanya.
Setiap kegagalan yang menghampiri, selalu ia hadapi dengan senyuman.
Ia selalu yakin bahwa kegagalan maupun keberhasilan sudah digariskan oleh Nya.
Itu yang menjadikan semangatnya tak pernah surut.

Senyumnya yang khas senantiasa mengembang meski ia sedang diterpa kemalangan.
Saat melakukan keteledoran dan aku jengkel padanya, ia pun membalas dengan senyum.
Dalam panikku, ia selalu bisa menenangkan diriku.
Kemarahanku yang memuncak sekali pun, ia tanggapi dengan ketenangan yang luar biasa.

Kini senyum itu telah menjadi kenangan.
Senyum khasnya hanya bisa kami saksikan pada foto-foto kenangan.
Yah, kami tak bisa lagi menatap senyum khas itu.
Kami tak bisa lagi mendengarkan ucapan-ucapannya yang tegas dan penuh semangat.
Kami tak bisa lagi melihat kegigihannya mengarungi beratnya beban hidup ini.
Kami tak bisa lagi melihat dirinya yang selalu bermanja saat berada di dekat ibunda kami.
Kami tak bisa lagi meminta bantuannya saat kami bermasalah dengan perangkat komputer.
Kami tak bisa lagi mendengar kembali berbagai motivasi yang selalu ia berikan kepada kami.
Kami tak bisa lagi mendengar kisahnya tentang bagaimana ia memberikan pelatihan motivasi pada suatu tempat.
Dan kami tak bisa lagi mendengar tawanya yang juga sekhas senyumnya.......

Wahai adikku, tenanglah engkau di sana....
Suatu saat nanti kami pun akan menyusulmu ke sana....
Kami akan selalu menjaga apa yang telah engkau berikan kepada kami....
Kami pun akan menjaga dan memastikan anak-anakmu menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang akan selalu mendoakan dirimu....
Kami sisihkan sebagian hati kami untuk selalu mengenang kebaikkanmu...

Yaa Allah yang maha Kuasa dan maha Pemurah...
Terangilah kuburnya....
Ringankahlah siksa kubur baginya...
Terimalah seluruh amal dan ibadahya...
Ampuni segala dosa dan kesalahannya....
Amiin Yaa Robbal 'alamiin.....

Selamat jalan wahai adikku tercinta..............

Wednesday, March 27, 2013

Tak ada Judul

Sejak postingan terakhir (Agustus 2012), aku hanya sempat menyambangi situs ini beberapa kali tanpa punya kesempatan (dan juga keinginan :D) untuk meng-update content blog ini.
Selain karena malas dan disibukkan oleh tugas rutin dan tugas sampingan lainnya, juga karena ada beberapa blog yang aku kelola.
Bahkan di tempat tugasku yang baru membuat aku harus fokus pada pekerjaan karena banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan menjelang akhir tahun anggaran. Selain itu, aku juga dilibatkan oleh unit lain untuk membantu tugas-tugas mereka.
*
Selama tiga bulan menjelang akhir tahun 2012 aku bahkan lebih banyak berada di luar kantor. Tidak hanya itu, aku sempat "berkelana" dari satu kota ke kota lainnya. Kota-kota yang aku kunjungi dalam rangka tugas di antaranya adalah Jogja (sebanyak 3x), Pekanbaru, Pontianak, Makassar, Bandung, dan Bogor.
Cukup melelahkan dan menyita waktu, tapi sekaligus menyenangkan. Kenapa? Selain bisa bepergian menghilangkan penat dari rutinitas kantor, juga......dapet penghasilan tambahan hehehehe.
*
Bidang tugas ku yang baru cukup menantang sekaligus memberi nuansa dan pengalaman baru bagiku. Di sini aku jadi semakin tahu tentang bagaimana proses pembuatan Tes Potensi Akademik, Tes Bahasa Inggris, dan Assessment Center. Di tambah, juga jadi tahu bagaimana proses pelaksanaan dan pengevaluasian Psikotes.
Di antara berbagai tes tersebut, yang paling menarik adalah assessment center dan psikotes. Dua tes tersebut menjadikan aku semakin paham dengan bagaimana para asesor menyusun alat asesmen, melakukan asesmen, dan memberikan penilaian terhadap pegawai yang di ases. Untuk psikotes, aku juga jadi tau bagaimana para psikolog bekerja dalam "menentukan nasib orang lain".
Kusebut menentukan nasib orang lain, karena psikotes menjadi faktor penentu bagi seseorang apakah ia memenuhi kualifikasi atau tidak dalam rangkaian tes yang diikutinya.
Contoh, pada proses penerimaan mahasiswa program beasiswa, para kandidat diwajibkan mengikuti rangkaian tes berupa TPA, TBI, dan Psikotes. Nah, bisa saja nilai yang diperoleh kandidat untuk TPA dan TBI tinggi sekalipun namun "fail" di psikotes maka dapat dipastikan kandidat tersebut tidak akan lolos dalam kualifikasi tersebut!
*
Aku jadi teringat sekian tahun silam saat aku mengikuti tes penerimaan program beasiswa untuk tugas belajar ke luar negeri. Saat itu nilai TPA ku masuk dalam kategori tertinggi di antara peserta tes yang ikut. Nilai TOEFL ku pun di atas nilai minimum. Namun, ternyata aku tidak dipanggil untuk mengikuti tes wawancara. Saat kutanya mengapa aku tidak dipanggil tes, jawaban panitia saat itu, "kalau tidak dipanggil wawancara berarti kamu nggak lulus psikotes." Huks...padahal tidak pernah ada pengumuman tentang hasil psikotes saat itu! Dan kesan yang ada di zaman itu, psikotes bagai barang haram yang tidak boleh diumumkan. Sangat rahasia!!! Tidak ada transparansi!!!
Kegagalan ku di tahun pertama ikut tes tersebut tidak menyurutkan ku untuk mengikuti tes yang sama untuk program yang sama di tahun berikutnya. Hasilnya? Kembali mengecewakan! Aku dinyatakan tidak lulus kembali. Dan penyebabnya sama: psikotes!!
Dendam kesumat tumbuh dalam diriku dengan tes yang menurutku sangat subjektif ini!! Bagaimana mungkin seseorang mampu "menduga" kemampuan psikis orang lain untuk masa yang akan datang???
Akhirnya, saat itu aku putuskan untuk tidak akan pernah mengikuti tes-tes program beasiswa lagi. Daripada mengecewakan, begitu pikirku. 
*
Nah, setelah beberapa kali terakhirn ini aku melihat bagaimana para psikolog melakukan serangkaian proses pengevaluasian atas hasil psikotes, jujur aku shock! Menurutku, proses yang dilakukan sungguh-sungguh sulit untuk dipertanggungjawabkan. Paling tidak menurutku!
Ya, aku lihat bagaimana hasil jawaban peserta diinput ulang untuk kemudian di-interpretasikan. Pertanyaannya sederhana: apakah dijamin saat menginput ulang semua jawab yang diinput tidak salah???
Selain itu, bagi aku yang awan, "cara" menginterpretasikan nya pun sungguh-sungguh sulit dipahami. Sepertinya memang hanya bisa dipahami oleh para psikolog sendiri!! Menurutku, mereka "hanya" melihat "keterkaitan" jawaban peserta di beberapa jenis tes yang mereka lalui....!
Kalau seperti ini, tentu saja para psikolog akan dengan mudah lulus dari tes-tes seperti ini bila mereka mengikuti serangkaian tes untuk suatu program tertentu!
Kenapa? Ya, karena mereka sudah tau "pola" jawabannya!!!
Namun, sudahlah....! Secara pribadi aku masih mempertanyakan "validitas" tes ini sebagai alat ukur! Sayangnya, banyak pihak menjadikan alat ini sebagai salah satu saringan utama dalam serangkaian tes! Yang lebih menyedihkan lagi, banyak sekali orang mempercayai bahwa tes ini adalah tes yang valid untuk menyaring peserta tes!!!
*
Tahun ini aku mendengar kabar bahwa unit kerjaku akan dilikuidasi. Alasannya, karena sudah tidak sesuai dengan semangat pembentukannya dahulu. Struktur organisasi akan disamakan dengan struktur organisasi lainnya yang ada di tempat kerjaku. Hal ini, buatku tidak masalah! Toh selama ini aku memang hanya tinggal mengerjakan apa yang seharusnya kekerjakan. Selain itu, tidak!
Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Semangat pembaruanku begitu tinggi. Aku begitu loyal pada organisasi. Aku tidak bisa membiarkan setiap organisasiku berjalan di tempat. Apalagi kalo underperform!
Selalu ada saja hal-hal yang akan aku lakukan untuk memperbaiki sistem kerja agar mengarah ke hal yang lebih baik!
Kini, semangatku sudah berbeda! Aku sudah tidak lagi terlalu loyal dengan organisasiku. Aku hanya doing business as usual! Alasannya, demotivasi!
Namun demikian, setiap tugas yang dibebankan selalu kulakukan dengan usahaku yang terbaik. Bagi sebagian orang, usaha seperti itu saja sudah luar biasa! Mereka masih menganggap kinerjaku sangat bagus. Padahal, dalam diriku kukatakan bahwa semua itu kulakukan tidak dengan sepenuh hati!
*
Aku lebih banyak mengurusi diriku sendiri saat ini. Maksudnya, aku sudah mulai self oriented! Aku sudah mulai memikirkan bagaimana masa depanku nantinya? Aku sudah tidak mau lagi mengandalkan kondisi kantor. Kantor bagiku hanyalah status! Penghasilan yang kuterima tiap bulan kuanggap sebagai kompensasi logis dari apa yang kulakukan selama ini. Aku sudah mulai banyak mencari peluang dan tantangan di tempat lain, selama masih bisa "kuatur" jadwal kantor rutin ku tersebut.
Aku mulai berfokus pada aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pundi-pundi keuanganku. Aku ngajar di beberapa tempat. Aku mulai berbisnis. Aku mulai mengembangkan usaha perusahaan kawanku, dan bahkan terlibat dalam usaha tersebut!
Tiap hari yang kupikirkan adalah memikirkan potensi-potensi usaha yang bisa kulakukan. Belum semuanya terrealisasi. Kendalanya: dana!
Tapi, paling tidak, aku sudah mulai membidik pontensi-potensi usaha yang bisa kulakukan bila nanti aku memiliki dana menganggur!
*
Untuk mendukung angan-anganku itu, aku berharap bisa beralih profesi dari struktural ke jalur fungsional. Di tempatku bekerja, jabatan fungsional adalah widyaiswara. Pengajar diklat!
Jabatan ini sudah lama aku idam-idamkan. Sejak tahun 2009, seingatku!
Tahun itu aku sudah mengajukan usul agar aku bisa beralih ke fungsional kepada atasanku saat itu. Sayang, usulanku ditolak dengan alasan aku harus mencari pengalaman terlebih dahulu sebanyak-banyaknya di jalur struktural!
Akhirnya aku mengalah dan menyetujui alasan yang disampaikan atasanku saat itu. Sayangnya, hingga saat ini (belasan tahun kemudian) aku masih "terperangkap" di jalur struktural! Hiks....
Tahun ini sebenarnya ada kabar menggembirakan. Akan ada penerimaan widyaiswara. Aku pun sangat ingin mendaftar. Sayangnya, saat keinginan ini ku utarakan kepada atasanku, beliau menolak! Alasannya klasik. Aku masih dibutuhkan, katanya! Huks betapa sedihnya.........
Tapi aku tidak akan patah semangat. Bila pengumuman tersebut telah dilayangkan, aku akan datang khusus ke atasanku agar beliau berkenan mengizinkanku untuk ikut mendafar..... Semoga!!!!