Sunday, May 26, 2013

Semoga lekas sembuh Ibundaku....

Minggu lalu saat aku sedang di Palembang, kakak tertuaku menelpon. Ia memberitahu tentang info yang ia terima dari sahabatnya. Info tersebut terkait dengan tempat pengobatan alternatif yang berada di Sukabumi.
Pengobatan ini diperuntukkan bagi ibu kami yang telah lama mengidap kanker payudara. Ibu kami memang memutuskan untuk melakukan pengobatan alternatif daripada pengobatan medis. Di samping, kami anak-anaknya juga tidak berani membawa ibunda ke pengobatan medis. Kami paham bagaimana proses pengobatan terhadap pasien kanker. Sudah banyak sahabat-sahabat kami yang mengalaminya.
Pengangkatan kanker mungkin terbilang "mudah". Namun proses setelahnya cukup memakan energi, kesabaran,  dan kekuatan di pasien.
Seorang sahabatku pernah bercerita sambil menunjukkan kondisi kuku-kuku di kedua tangannya paska melakukan kemoterapi. Kuku di kedua tangannya menghitam sebagai akibat proses kemo tersebut. Ia juga menceritkan bagaimana penderitaan yang ia alami selama melakukan proses kemo. Menurutku, karena ia berusia 40-an tahun, ia masih sanggup menahan sakit. Dan itupun ia lakukan demi buah hati yang masih membutuhkan kasih sayang sang ibu.
Menyadari beratnya proses kemo, kami pun tidak menghalangi ketika ibunda kami tidak memilih pengobatan medis sebagai upaya ikhtiar beliau. Sejauh ini, sudah dua tempat pengobatan yang dilakukan oleh Ibu kami, yaitu di Jogjakarta dan Tangerang.
Setelah beberapa kali melakukan pengobatan ke Jogjakarta dan tidak menunjukkan perubahan luar biasa, ibu memutuskan untuk berpindah pengobatan ke Tangerang. Pengobatan ini sudah berlangsung beberapa bulan.
Setelah mendapat info dari sahabat kakak ku, akhirnya kedua kakakku mengabarkan bahwa sore tadi ibu ku bersedia untuk melakukan perjalanan ke Sukabumi untuk melakukan ikhtiar kembali. Semoga saja ikhtiar kami tidak sia-sia.
Yaa Allah berikanlah keringanan penyakit pada Ibu kami. Berikanlah kesembuhan kepadanya. Janganlah Engkau berikan penderitaan kepadanya.... aamiin..

Wednesday, May 15, 2013

Palembang....

Aku lupa sudah berapa kali menginjakan kaki di bumi 'mpekpek". Kayaknya sich antara 4 atau 5 kali.
Terakhir kali ke sini sekitar tahun 2011 akhir.

Minggu sore aku take off dari Jakarta menggunakan maskapai BUMN. Tiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menjelang magrib. Tiga orang sahabatku sudah standby di pintu kedatangan untuk menjemput.
Kami segera meluncur ke Balai Diklat. Saat ditawari untuk menginap di hotel, aku berujar bahwa bila diizinkan sebaiknya saya cukup tinggal di mess atau numpang di rumah dinas saja.
Sebenarnya aku akan lebih nyaman dan nikmat di hotel. Namun kali ini, aku merasa akan lebih nyaman bila di rumah dinas saja. Di hotel, aku hanya akan termenung seorang diri. Bila di rumah dinas, aku bisa ngobrol banyak dengan teman-temanku.
Kalau di hotel, teman-temanku harus menjemput dan mengantar dari hotel ke Balai Diklat dan sebaliknya. Bila di rumah dinas, aku cukup jalan kali saja. Selain itu, aku tidak harus tergesa-gesa bangun pagi heehehehe. Selepas sholat subuh akan masih bisa ngorok lagi hahahaha.

Malam itu kami ngobrol hingga larut malam. Kopi dan cemilan menjadi teman kami. Siaran langsung sepakbola dari stasiun televisi membuat kami betah berada di ruang tengah.
Kedatanganku ke Palembang kali ini bukan dalam rangka tugas keseharian kantorku. Kali ini, aku diminta memberikan materi tentang Kreativitas dan Inovasi pada sebuah diklat yang diselenggarakan Balai Diklat

Aku berada di Palembang hingga kamis. Jadwal mengajar hanya sampai rabu. Namun aku diharapkan tetap bisa hadir pada hari Kamis untuk mengikuti talkshow.

Friday, May 10, 2013

Tentang Densus 88

Mungkinkah 2 gambar ini mempunyai korelasi Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Densus 88 dibentuk dengan Skep Kapolri No. 30/VI/2003 tertanggal 20 Juni 2003, untuk melaksanakan Undang-undang No. 15 Tahun 2003 tentang penetapan Perpu No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan kewenangan melakukan penangkapan dengan bukti awal yang dapat berasal dari laporan intelijen manapun, selama 7 x 24 jam (sesuai pasal 26 & 28). Undang-undang tersebut populer di dunia sebagai "Anti Teror Act".
Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Luar Negeri AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS.Informasi yang bersumber dari FEER pada tahun 2003 ini dibantah oleh Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Divisi Humas Polri, Kombes Zainuri Lubis, dan Kapolri Jenderal Pol Da’i Bachtiar. Sekalipun demikian, terdapat bantuan signifikan dari pemerintah Amerika Serikat dan Australia dalam pembentukan dan operasional Detasemen Khusus 88. Pasca pembentukan, Densus 88 dilakukan pula kerjasama dengan beberapa negara lain seperti Inggris dan Jerman. Hal ini dilakukan sejalan dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pasal 43.


(sumber: dari seorang sahabat)

Wednesday, May 01, 2013

Nanem Pu'un nyokk....

Entah kenapa minggu dan senin lalu aku tergila-gila ingin melakukan penanaman pohon. Baik di media tanah maupun di media pot.
Menyukai tanaman bukan hal baru buatku. Hanya saja selama ini istriku yang lebih banyak meluangkan waktu bagi berbagai tanaman yang ada di rumah.
Aku hanya sesekali saja menyiram. Selebihnya ya istriku lah! hehehehe

Nah, hari minggu kemarin aku terjun menanam pohon untuk pertama kalinya. Itu pun karena aku memenuhi janji pada kawanku yang telah mengirimkan 4 buah pohon kelengkeng dari berbagai varietas.
Karena itulah aku terjun langsung (bersama istriku dan dibantu bapak mertua) menanam pohon tersebut. Namun karena lahan terbatas, hanya dua pohon yang bisa ditanam di media tanah. Sisanya "terpaksa" ditanam di media pot.

Berikut pola tanam di media pot yang kami lakukan.

1. Menyiapkan media tanam berupa pot.

Sebaiknya gunakan pot yang berbahan seng atau besi untuk media tanam berukuran besar dan kokoh. Kami menggunakan pot yang berasal dari sebuah drum. Media tersebut kami beli di sebuah toko grosir media tanaman di daerah Karang Tengah, Ciledug, Tangerang.


2. Taburkan "cuilan" styrofoam pada bagian dasar media tanam.
Kegunaannya adalah untuk memberikan pori-pori pada bagian bawah agar air dapat lancar terbuang dan tidak tergenang. Genangan air berlebih dapat menyebabkan akar pohon busuk dan akhirnya pohon pun akan mati.



3. Taburkan media tanam berupa akar-akaran.\
Kegunaannya hampir sama dengan styrofoam yaitu untuk mengurangi potensi tanah yang menumpuk di bagian bawah.


4. Masukkan media tanam instan.
Media tanam instan ini banyak di jual di toko-toko tanaman. Media ini berupa campuran antara tanah pilihan (selected soil), pupuk, dan sebagainya.



5. Tanam pohon pada media yang sudah disediakan.
Penanaman sebaik dilakukan pada sore hari, yaitu saat tanaman tidak sedang bekerja keras melakukan fotosintesis.