Sunday, January 09, 2011

Hypnotherapy Training by Ikhwan Sopa

Kegiatan seperti  ini dah aku tunggu sejak lama. Aku bahkan telah mendaftar keikutsertaan di training super duper murah ini sejak ditawarkan oleh Pak Ikhwan Sopa di sebuah situs jejaring sosial, fesbuk! Gimana nggak super duper murah, lha wong training yang berharga jutaan ini cuma "dijual" seratus ribu doank sama doi! Tidak hanya itu. Di training 2 hari inipun peserta di kasih makan siang. Edan! Bener-bener edan, sesuai nama brandname trainingnya Mr. Ikhwan Sopa (E.D.A.N), alumnus STAN yang hijrah menjadi trainer.
Hari Sabtu dan Minggu yang sebetulnya adalah jatah waktu bagi keluarga pun harus aku korbankan. Ngedumel dikit juga sich anak dan bojoku. Tapi mereka nggak bisa apa2 lantaran tahu kalau aku ini dah lama pengen ikutan berbagai training. Soalnya, saat bertugas di STAN, hampir tidak tersedia waktu tersisa utk mengikuti training. Termasuk waktu untuk ngejob buat nambah-nambah ngebulin dapur...wkwkwkwk

Dua hari mengikuti training ttg hypnotherapy ini sungguh menjadi pengalaman luar biasa. Kalau biasanya aku cuma tau sedikit ttg hypnosys di acara selingan pada sebuah rakor dan workshop kantor, kali ini pengetahuanku ttg hal tsb menjadi jauh lebih banyak. Bahkan ada keinginan dlm diriku utk bisa menguasai ilmu tsb meskipun tdk berharap utk sampai menjadi ahli atau lagi pro!
Ada yang mau aku jadiin "korban latihan" ilmuku nggak ya? Sotoy! hehehe

TMII Jakarta, 9-1-11


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Friday, January 07, 2011

Kembali Berolah Raga Bersama....

Lama sekali aku tidak merasakan atmosfir berolah raga bersama dengan teman-teman sekantor. Terakhir kali melakukannya adalah saat aku bertugas di Jogjakarta tahun 2007-2008. Selama bertugas di kampus STAN tidak sekalipun ada acara berolah raga bersama.

Pagi ini, di Pusdiklat Pajak, kami mencoba untuk memulai berolah raga bersama. Agendanya sich akan dilakukan tiap Jumat pagi. Mudah-mudah tidak "anget-anget tahi ayam". Cuma beberapa kali berolah raga, selanjutnya malezzz......

Acara olah raga pagi ini sangat sederhana dan belum diikuti oleh seluruh pegawai. Kami hanya bermain bola voli dan bulu tangkis. Belum ada senam aerobik. Meskipun himbauan untuk berolah raga bersama telah dipapang di dekat mesin presensi finger print namun tetap saja belum banyak yang tergugah untuk berpartisipasi. Nggak tahu dech. Apakah mereka nggak membacanya ataukah memang nggak mau sama sekali ikutan berolah raga.

Sebenarnya kegiatan ini bukan aku tujukan untuk sekedar menyehatkan diri. Aku lebih berharap terjadi interaksi positif di antara para pegawai secara informal. Selain itu, agar kejenuhan rutinitas bekerja sedikit berkurang. Menurutku sich, berdasarkan pengalaman selama ini, hubungan antarpegawai lebih mudah diciptakan melalui kegiatan-kegiatan informal yang melibatkan banyak pihak. Misalnya berolah raga, family gathering, dan aktivitas sejenis lainnya.

Yup, semoga saja Jumat minggu depan dan jumat-jumat berikutnya semakin banyak pegawai yang mau terlibat di kegiatan ini. Kalau tidak? Hmm....paling nggak aku dah berupaya untuk "mempererat" mereka...

Slipi, Jumat 7/1/11

Wednesday, January 05, 2011

Gairah kerja....

Keinginan untuk bersantai ria barang setahun atau dua tahun setelah mengalami kejenuhan dalam pekerjaan-pekerjaan yang banyak menyita energi dan pikiran, tak bisa kurasakan. Kondisi tempatku bekerja saat ini "membutuhkan" sentuhan-sentuhan orang yang memiliki kepedulian. (Caileee....)
Aku sendiri merasa bukanlah orang yang tepat untuk melakukan hal tersebut. (Preeett.....)
Hanya saja, hati ini tak kuasa menahan rasa ingin ikut andil perbaikan bagi kantor ini. (Duutttt....)
Niat yang telah kucanangkan untuk berleha-leha saat mendapatkan SK penempatan di kantor ini akhirnya sirna jua. Sampai dengan akhir tahun kemarin, aku masih berjuang keras untuk meneguhkan hati agar tidak usah repor-repot mikirin kantor. Biarkan semuanya menjadi hal yang biasa-biasa saja. Cukup berangkat ke kantor, melakukan pekerjaan sebagaimana adanya saja, dan saat harus pulang segera bergegas meninggalkan kantor! Titik! Nggak usahlah menggapai prestasi bagus. Lha wong penghasilan toh akan sama saja, begitu teriakku selama ini dalam hati.

Sekedar flashback saja. Menurut hitungan, separuh masa kerjaku telah aku abdikan pada tempat-tempat dan jenis pekerjaan yang tidak ringan. Menjelang akhir tahun 1998 adalah awal segalanya. Aku lupa persis bulannya. Kalau tidak salah, bulan September. Saat itu aku diboyong oleh atasanku untuk ikutan pindah kantor ke kota Cirebon. Sebelumnya jenis pekerjaanku biasa-biasa saja yaitu sebagai staf sekretariat program diploma bea dan cukai di kampus STAN. Pekerjaan sampingan lainnya adalah sebagai staf pengajar di kampus tersebut.

Kepindahanku meninggalkan kota Jakarta (pinggiran Jakarta tepatnya krn kampus STAN berada di wilayah Tangerang yang sekarang menjadi Tangerang Selatan) adalah hijrah pertama yang aku lakukan dalam hidupku. Maklum, sejak lahir aku telah menghirup udara ibukota yang pengap. Cirebon menjadi kota pertama yang aku singgahi bersama keluargaku. Di sana, sungguh beban kantor yang ada benar-benar menguji "daya tahan" ku. Emosi pun bahkan tak bisa kutahan. Atasan-atasanku hanya bisa mengelus dada melihat sepak terjangku di sana hehehe

Tidak sampai dua tahun kemudian, aku ditugaskan sebagai perintis kembali. Aku pindah tugas, meskipun promosi, ke kota Cimahi. Aku mengawali sebuah kantor baru kembali. Keluargaku pun aku boyong ke sana. Di kantor baru ini kami harus menata banyak hal. Dan...belum selesai menikmati hasil penataan tersebut aku kembali dipindahtugaskan ke kota Manado, lagi-lagi sebuah kantor baru! Padahal udara Cimahi yang aku hirup belum genap dua tahun.

Aku memang berstatus promosi saat pindah tugas ke Manado. Namun kepindahan ataupun promosi tersebut bagiku adalah sebuah hukuman. Aku merasa diriku sebagai pegawai yang harus dibuang jauh oleh pimpinan saat itu. Meskipun hal ini tentu saja disangkal keras oleh "beliau". Yang menyedihkan, sarana-prasarana kantor di sana sama sekali belum siap. Lengkap sudah penderitaan aku dan teman-teman yang ditempatkan di sana. Sungguh sebuah kebijakan penetapan kantor baru oleh pimpinan kami yang benar-benar tanpa perencanaan. Tahun pertama di Manado adalah masa-masa sulit. Tahun berikutnya aku paksakan untuk menyenangi alam kota tersebut. Hasilnya, aku jatuh cinta pada kota ini meskipun tetap saja berharap penuh untuk bisa kembali menikmati udara pulau Jawa.

Hampir empat tahun kemudian aku akhirnya dipindahtugaskan ke Jakarta. Tugas di bagian keuangan bukanlah penugasan biasa. Ada banyak hal yang diharapkan dari atasan-atasanku saat itu. Semuanya bisa kupenuhi. Tak sampai dua tahun, kembali aku dipindahtugaskan. Kali ini aku promosi ke kota Jogja. Sebagian orang mungkin senang bisa diangkat sebagai kepala kantor. Aku tidak! Saat pelantikan tak ada senyum yang kuumbar. Kalaupun akhirnya harus tersenyum, semuanya kulakukan dengan penuh kepura-puraan. Aku nggak rela pindah ke sana karena banyak hal pribadi yang sedang menggelayutiku saat itu. Aku pun bertekad untuk bekerja semaunya di sana.

Keinginan burukku tersebut tidak bisa aku wujudkan. Kondisi "keos" yang terjadi di kantor itu perlu segera ditangani dan dibenahi. Banyak masalah yang membelit kantor tersebut. Sebagai kepala kantor akhirnya aku tidak bisa tinggal diam. Kulakukan berbagai upaya untuk membenahi semuanya. Kerja kerasku dan seluruh pegawainya di sana membuahkan hasil meskipun belum maksimal. Sayang, belum tuntas semua niatku untuk membenahi kantor tersebut, ada permintaan khusus dari atasanku agar aku bersedia kembali ke Jakarta untuk menempati posisi strategis di STAN yang bertugas membantu pimpinan untuk membenahi kantor tersebut.

Gubrak! Pening kepalaku seketika saat pimpinanku menelpon aku meminta hal tersebut. Dengan nada setengah marah kutolak permintaan tersebut dengan menyebutkan berbagai alasan. Namun kali ini aku kalah kembali dalam berargumentasi. Aku tak kuasa menolak permintaan tersebut. Hanya setahun aku berada di Jogja.

Dua tahun kemudian aku berjibaku dengan seluruh staf ku membenahi kampus STAN. Terlalu banyak pembenahan yang harus dilakukan di sana. Dari soal kekumuhan kampus, urusan kambing yang berkeliaran seenaknya di lingkungan kantor, ketidaktertiban pegawai dan mahasiswa, jalan kampus yang bak jalan umum, dan sebagainya....dan sebagainya. Lelah! Hanya kata itu yang bisa menggambarkan kegiatanku selama berada di sana.Kalau boleh sombong (preeet...) semuanya bisa kulakukan dengan baik. Perubahan demi perubahan sangat terasa antara masa sebelum dan sesudah aku bertugas. Memang hal tersebut tidak akan bisa kulakukan seorang diri. Dukungan teman-teman staf dan juga para pimpinan memudahkan aku mewujudkan hal tersebut.

Namun sayang ada hal menyakitkan yang aku alami. Yaitu saat akhirnya aku harus dikenakan sanksi administrasi atas "kelalaian" ku selama berada di Jogja dan saat awal berada di STAN. Sanksi tersebut adalah tindak lanjut atas rekomendasi tim pemerksa internal. Nasiiibbb.... Kerja bagus adalah sebuah keharusan namun kerja buruk wajib diberikan hukuman!!! Motto ini yang paling tepat menggambarkan kondisi tersebut!

Alhamdulillah, setelah aku "mengemis" ke para atasanku, akhirnya aku dipindahtugaskan ke tempat lain. Bagiku inilah kado (reward) terbaik yang pernah aku terima selama bekerja.... Saat sebelum pelantikan aku telah bertekad untuk "beristirahat" di kantor ini. Walaupun nyatanya aku tidak tega untuk melakukannya... (????)

Slipi, 5/1/11

Monday, January 03, 2011

Hasil Jeprat-Jepret Make Kamera BB

Lembayung di Tanah Lot:


Semangat Baru 2011

Tahun baru, semangat baru. Begitu pepatah kuno (kata siapa ya?) bilang. Menurut aku sich pernyataan jadul tersebut sah-sah aja. Toh dalam agama yang saya anut pun (saya yakin, termasuk agama lainnya) kami diajarkan untuk selalu lebih baik dari hari kemarin.
Pertanyaannya kemudian adalah, "bisakah kita melakukannya?". Hmm....susah-susah gampang menurut aku sich. Gampang, kalo kita memang punya niat yang kuat untuk melakukannya. Sebaliknya, akan terasa berat alias susah kalo kita memang dah niat untuk menjadi yang biasa-biasa aja. Belum lagi, banyak faktor yang menjadikan kita kadang susah untuk berubah. (Sotoy [baca: sok tahu] banget ya...hehehe)

Secara pribadi, aku pasti pengen milih untuk bisa menjadi yang lebih baik dari hari sebelumnya. Keinginan ini tentu saja harus ditanamkan erat-erat dalam hati dan benak ini. Mampukah aku melakukannya? Just look and see aja dech.... I'll do my best!

Di sebuah milis yang aku ikuti, seorang sahabat mengajak kami para anggota milis untuk mencantumkan resolusi (pernyataan) tahun 2011 yang berisi harapan atau tekad sesuatu yang akan dilakukan pada tahun ini. Jujur, aku nggak berani ikut-ikutan nulis resolusi tersebut. Takut nggak kesampean hahahaha. Dalam hati sich, yang ingin aku tulis antara lain adalah (1) rajin menulis di blog, untuk mengasah kembali minat nulisku sejak SMP dan meninggalkan jejak memoar di sebuah situs dan (2) ingin mengikuti berbagai jenis pelatihan yang bisa aku lakukan (mumpung kerjaan di kantor dah nggak seberat dulu).

Jakarta, Senin 3/1/11 pkl 11.35