Thursday, April 07, 2011

Profil Iwan Ketan

Ia terlahir bernama Agus Setiawan dari pasangan Gemiadi dan Katinem. Ia merupakan bungsu dari 6 bersaudara. Kedua orang tuanya berasal dari sebuah desa di Kabupaten Magetan. Nama Iwan Ketan ia pilih sebagai nama lain dalam beraktivitas. Hingga saat ini saya pun tidak tahu singkatan apakah "ketan" tersebut.
Iwan Ketan lahir di Jakarta pada tanggal 19 Agustus 1983. Ia menamatkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Santo Lukas III Jakarta Utara (di daerah Sunter Agung, tempat kelahiran dan dibesarkan). Sekolah Menengah Tingkat Pertama ia tempuh di SMP Negeri 30 Jakarta Utara, dan Sekolah Menengah Tingkat Atas ia tempuh di SMA Negeri 13 Jakarta Utara.
Selesai menamatkan pendidikan tersebut, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Sayang, ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan tersebut hingga tuntas. Di semester akhir ia mengundurkan diri demi menggapai cita-citanya yang lain.
Iwan Ketan menghembuskan nafas terakhir di ruang ICU Rumah Sakit Mitra Kemayoran Jakarta pada hari Selasa Sore, 5 April 2011, satu hari setelah ia mengalami kecelakaan sepeda motor di underpass Kemayoran. Kecelakaan tunggal yang terjadi pada Senin malam, 4 April 2011 mengakibatkan luka di kepala yang cukup parah.
Iwan Ketan meninggalkan seorang putra dan dua orang putri (salah satu putrinya berasal dari istri pertama yang cerai pada tahun 2007).

Berikut profil Iwan Ketan:


  • The 1st Hypnosis Instructor in Pekalongan
  • http://ibhcenter.org/id/anggota/1208

  • Master NLP,Life Learner & Trainer,

  • Director on SMileTrainer,
  • "Mind Learning Center for Indonesia Better"

  • Associate Trainer of MBS Management

  • Keep on Smile Facing the World


Trainer yang lebih dikenal dengan nama Iwan Ketan ini memulai karirnya sebagai Progammer freelance dan IT Consultant sekaligus menjadi owner dari IT@n Computer Consult Hardware/Software Spesialist.

Beliau sempat bergabung dengan Muammalat Institute melalui Program Muammalat Developmnent Program sebagai Tim Materi. Dalam dunia IT , Iwan telah dipercaya bermitra dengan beberapa Perusahaan dan UKM seperti PT.Mahameru, CV. Fashion Empire, LookZ Optic, Fiorruci Boutique, etc . Selain itu Iwan juga dikenal sebagai Consultant puluhan warnet di Jakarta.

Kiprah Iwan di Dunia Training sendiri telah dilakoninya sejak menikmati bangku kuliah di Fasilkom UI ketika beliau bergabung dalam lembaga kemahasiswaan. Kecintaannya pada dunia training semakin mendalam ketika dipercaya menjadi Asisten Outbound Trainer mendampingi AnNu'man sebagai Trainer Muamalat Spirit dalam MODP. Sejak saat itu, beliau semakin memperbanyak ilmu penunjang training melalui sertifikasi komunikasi, Hypnocoach hingga International Certification Master Neuro Linguist Programming.

Saat ini, Iwan tergabung dalam lembaga training, MDQuantum.com dan SmileTrainer. Melalui lembaga inilah beliau semakin banyak berbagi kepada ribuan orang dari Sumatera hingga Papua melalui Training -Training SDM diantaranya Mind Design Therapy, Hypnoselling, Magic Communication, Booster Your Life (Motivation), State Management (Personal Excellent), Spiritual NLP

Catatan:
Data di atas diambil dari profil facebook ybs.
Nama asli iwan ketan adalah agus setiawan.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Wednesday, April 06, 2011

Iwan Ketan, dalam kenangan

Perasaan kehilangan sesuatu mulai terasa kembali seiring kepergian kami sekeluarga meninggalkan kota Pekalongan. Kota ini menjadi tempat pembaringan terakhir bagi adikku tercinta, agus setiawan alias iwan ketan.
Pagi tadi sekitar jam 10 ia telah kami kebumikan. Gema tahlil dan takhmid serta doa-doa mengiringi acara pemakaman tersebut. Ini adalah kali kedua aku menghadiri pemakaman keluargaku. Acara pemakaman pertama adalah sewaktu kami harus mengebumikan ayahanda kami di tahun 2006 lalu di desa kelahirannya di magetan.
Untuk kesekian kalinya kucoba untuk tidak meneteskan air mata saat peti jenazah adikku masuk ke dalam liang kubur. Dalam hati aku pun berdoa, semoga ia mendapatkan tempat yang layak di sisi Nya, dilapangkan dan diterangi kuburnya. Selamat tinggal adikku. Istirahatlah dengan tenang. Suatu ketika, kami toh juga akan menyusulmu.
Saat bus yang kami carter dari Jakarta meninggalkan kota Pekalongan, kenangan masa lalu tentang adikku kembali menguak pikiranku. Tak kusangka ia tidak genap 28 tahun menghirup pekatnya kehidupan dunia ini. Ia mendahului ke lima kakaknya untuk menghadap sang Khalik.
Bayangan akan wajah cerah saat kami mandikan kemarin di Jakarta masih terbayang di benakku. Senyuman khas sang iwan ketan nampak jelas di wajahnya. Raut wajahnya pun menunjukkan sebuah kebahagiaan. Mungkin itu pertanda ia bahagia dapat menghadap sang Maha Pencipta.
Wajahnya memang tidak mulus, khususnya pada bagian kepala sebelah kanan atas. Ada beberapa goresan bekas luka di sana. Namun keceriaan raut wajah tetap nampak jelas terlihat. Dengan lembut aku dan beberapa saudaraku serta pemandi jenazah memandikan tubuh yang telah dingin namun belum kaku itu. Setiap kali ku usap bagian tubuhnya, pikiranku melayang ke masa-masa saat ia kecil dulu.
Karena tak ingin melepaskan kesempatan yang semakin singkat untuk melihat adikku ini, maka sesering mungkin kutatap wajahnya sambil tangan ku tetap mengusap dan menyabuninya.
Terakhir kali kumelihatnya adalah saat ia memberi materi pengenalan tentang hypnosis di kantorku di pusdiklat pajak, slipi.
Di sana ia mengenalkan hypnosis kepada para pegawai yang diselingi dengan beberapa permainan trik sulap. Aku ingat, ada sebuah permainan yang membutuhkan konsentrasi tinggi yang hampir gagal. Saat permainan itu selesai, langsung kutanyakan kenapa itu terjadi. Ia hanya mengatakan bahwa saat memulai permainan tersebut ia sempat blank. Penyebab utamanya, penutup mata yang ia gunakan terikat terlalu ketat. Akibatnya ia sempat pusing dan kehilangan konsentrasi.
Aku pun berpesan agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Ia hanya menjawab singkat "iya mas" sambil menyeringai khas.
Itulah saat terakhir kami saling bertemu. Karena kesibukan kami masing-masing, kami memang jarang bertemu. Oleh karena itulah, saat kakak ku menyampaikan kabar kecelakaan yang menimpa adikku ini, aku begitu shock. Semakin shock, saat mengetahui kondisi luka-luka yang dideritanya. Penjelasan dokter jaga dan dokter ahli syaraf atas hasil ct-scan seolah membuat denyut jantungku berhenti. Saat itu, di ruang UGD, aku benar-benar tak kuasa melihat kondisi pasca-kecelakaan tersebut. Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa tubuh yang terbaring di atas dipan di ruang UGD itu adalah adikku. Saat itu, aku hanya bisa berpasrah diri seolah ia telah tiada. Dan Allah pun mengambil yang menjadi miliknya tidak sampai 24 jam kemudian.
Selamat jalan adikku sayang. Kenangan bersamamu baik pahit dan suka tak akan pernah aku lupakan. Engkau memang pernah membuat aku kecewa pada dirimu namun engkau pun banyak menginspirasi semangat diriku.
Perjuanganmu yang berat pada setiap titian usahamu untuk menghidupi keluargamu sungguh tak tertandingi. Engkau tidak pernah mengeluh meskipun sedang terhimpit perihnya kehidupan. Engkau senantiasa senyum di setiap kesempatan dan di mana pun kau berada.
Selamat jalan adikku sayang. Engkau takkan pernah kami lupakan hingga akhir hayat kami kelak, sebagaimana kami tak bisa melupakan ayahanda. Engkau adalah yang terbaik di keluarga ini. Kami, kakak-kakakmu, sulit menandingi kepandaianmu dan semangat ibadahmu. Perbuatan baikmu pada orang lain sering kaulakukan tanpa pamrih. Semoga engkau benar-benar mendapatkan yang terbaik di alam sana. Selamat tinggal....selamat tinggal....selamat tinggal wahai adikku tersayang.... Kami sungguh mencintaimu...!
Di atas bus menuju Jakarta, rabu, 6-4-11, pkl. 15.20
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!
Duka masih terus kurasakan. Meski kadang bisa terlupakan sejenak, namun saat kenangan itu terulang kembali, sesak di dada sulit sekali untuk aku hilangkan.
Kenangan masa kecil hingga saat aku bersamanya di beberapa bulan lalu terus membayangi ingatanku seakan ia masih hadir di sisiku.
Air mata tak ada lagi untuk diteteskan. Semuanya telah mengering seiring kepastian diri ini tentang telah berpulangnya adik bungsu kami. Ia melepas nyawa dan menghadap sang Pemiliknya. Kami memang memintanya untuk melepaskan nyawa dan ikhlas meninggalkan keduniawian ini seikhlas kami melepaskan dirinya untuk kami demi melepaskan pula semua penderitaannya.
Luka di bagian kepala yang dialami Agus Setiawan alias Iwan Ketan, adikku ini, sungguh terlalu parah. Entah apa yang terjadi, benturan benda keras mengenai kepalanya saat ia terlempar dari sepeda motor dan helm yang ia kenakan terlepas. Tak ada pihak yang bisa menjelaskan kejadian ini kepada kami, termasuk keponakan kami yang berboncengan dengannya saat itu. Semuanya menjadi misteri bagi kami dan kami serahkan pula kepada Allah untuk menyimpannya.
Kurang dari 24 jam sejak kecelakaan terjadi, akhirnya adikku tercinta ini menghembuskan nafas terakhirnya. Kami memang mengizinkan pihak rumah sakit untuk melepaskan semua alat bantu yang selama beberapa jam telah menopang semu nyawanya.
Melihat hasil ct-scan dan penjelasan dokter ahli bedah syaraf, kondisinya mustahil untuk di tolong. Hanya sebuah mukjizat Nya lah yang mampu menyembuhkannya. Namun haruskah kami menunggu mukjizat itu datang? Akankah Allah memberikan mukjizat itu kepada kami, pemilik sementara adikku di dunia ini? Kami sungguh tak tega melihat ia terbaring tak berdaya di atas ranjang yang diletakkan di sudut kamar ICU dan seolah ia sedang menahan penderitaan besar.
Sesuai saran dokter yang telah menyatakan bahwa ia tak mampu lagi menolong sebagai seorang profesional dan sesuai dengan kesepakatan kami yang telah ikhlas melepaskan kepergian adik kami ini, akhirnya satu per satu alat bantu pun kami lepaskan dari tubuhnya. Perlahan demi perlahan helaan nafas adikku semakin menurun. Sebelum azan magrib menggema ia pun dengan tenang meninggalkan dunia ini. Senyum khas adikku ini pun tersungging di bibirnya setelah nafas terakhir ia hembuskan. Selamat jalan adikku. Semoga engkau mendapatkan tempat yang sangat layak di sisi Nya. Aku tau engkau sangat pantas mendapatkan mahligai nan elok di alam sana sesuai dengan amal ibadah yang engkau lakukan selama ini.
Pekalongan, rabu, 6-4-11
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Tuesday, April 05, 2011

Sungguh sebuah hari yang tak bisa kulupakan hari ini. Semuanya begitu kelabu. Sejak semalam hatiku gundah gulana menyaksikan betapa hebat luka akibat kecelakaan yg menimpa adikku tercinta, agus setiawan alias iwan ketan.

Seharian ini aku dan semua saudara2 ku hanya bisa menyaksikan perjuangan untuk hidup adikku itu. Kami pun hanya bisa berpasrah diri kepada Nya.

Sore hari, adikku tersayang akhirnya menghadap ke haribaan Nya. Selamat jalan sayang. Perjuangan hidupmu yang luar biasa tak pernah aku lupakan.

Selamat jalan adikku, semoga engkau mendapat tempat yang layak di sisi Nya.

Aku takkan pernah melupakanmu wahai adikku..... Selamat jalan....

Sunter, Selasa, 5-4-11, 18.10

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Iwan Ketan Adikku

Kemarin (4/4/11) aku agak malas di kantor. Tawaran untuk tugas mendadak menghadiri sebuah diklat kerja sama dengan Pemda Semarang pun aku tolak. Saat pulang ke rumah selepas jam kantor pun ada rasa malas menggelayut di hati. Tapi aku tidak berprasangka apa-apa akan hal ini. Mungkin, aku memang tidak ditakdirkan memiliki firasat yang peka.

Selepas makan malam di rumah, aku membuang waktuku dengan menyempatkan untuk mengantar anakku, Irsyad dan Rizqu, ke sebuah mini market yang berada di dekat rumah. Setelah itu, aku bermalas-malasan dengan menonton filem dari sebuah keping DVD, ditemani istriku tercinta.

Kuselingi aktivitas menonton tersebut dengan sesekali menjawab beberapa sms yang masuk ke hp-ku dan pesan2 yang masuk di BB-ku. Bahkan aku sempat mengatakan kepada istriku bahwa di pesan pada grup BB-ku ada banyak info tentang beberapa teman yang sanak familinya sedang berada di rumah sakit.
Kurang lebih jam delapan malam, hp ku tiba-tiba berdering. Muncul nama kakakku di layar monitor. Segera kuangkat hp tsb dan menerima panggilan masuk tersebut tanpa memiliki firasat apapun.

"Dik, lagi rapat nggak?", begitu kata-kata kakakku lirih, setelah mengucapkan salam sebelumnya.
Ku jawab bahwa aku sedang di rumah. Tak lama kemudian kakakku menjelaskan bahwa adikku bungsu kami, Agus Setiawan alias Iwan Ketan, tertimpa musibah. Ia mengalami kecelakan saat mengendarai motor bersama salah satu keponakan ku.
Kakakku hanya meminta agar aku segera menuju rumah sakit di bilangan Kemayoran Jakarta Pusat. Kondisinya kritis kata Kakakku.

"Allahu Akbar?", begitu teriakku dalam hati. Seketika aku gundah gulana membayangkan bagaimana kondisi adikku saat itu. Aku hanya berharap semoga tidak fatal.
Segera aku ganti baju dan mengeluarkan mobilku seraya menelpon ke saudara-saudaraku yang lain untuk menanyakan kondisi adikku itu. Aku juga menghubungi beberapa teman agar bersedia menemaniku menuju rumah sakit tersebut. Yah, aku butuh teman perjalananan karena khawatir aku shock di jalan.

Sesampai di rumah sakit, adikku Iwan Ketan sedang di ruang CT-Scan. Aku hanya berhasil bertemu dengan keponakanku di ruang gawat darurat. Kondisi keponakanku tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan. Meskipun begitu ada luka terbuka di sekitar kepala.

Tak lama aku menunggu, adikku Iwan Ketan muncul dari ruang radiologi. Ia terbaring tanpa daya di atas tempat tidur yang didorong oleh seorang perawat. Saat melihat kondisi fisik pada bagian wajahnya, seketika aku shock! Perutku terasa mual. Aku tidak sanggup melihat kondisi wajah adikku yang sedemikian parah.
Dahinya agak tertetuk ke dalam. Bagian mata kanan terlihat luka dan lebam yang sangat besar. Ia tak sadarkan diri.

Saat melihat dan mendapat penjelasan dari dokter jaga dan dokter ahli bedah syaraf tentang hasil CT Scan membuat aku semakin shock. Ku tahan agar air mata ini tidak jauh dari pelupuk mataku. Ku buat diriku tegar walau badan ini serasa tak bertulang. Lemas!

Dokter menjelaskan bahwa kondisi yang dialami adikku Iwan Ketan sangat parah. Ada banyak cairan di otak nya. Selain itu di bagian paru-paru pun di perkirakan terdapat darah. Yaa Allah.....cobaan apakah ini bagi keluarga kami????

Aku menenangkan diriku. Ku yakinkan diri ini bahwa semuanya telah menjadi suratan-Nya. Aku yakin bahwa Allah sangat sayang pada adikku ini yang ibadahnya sangat luar biasa.

Kini yang dapat kami lakukan hanyalah berdoa seraya menunggu Allah menurunkan mukjizatnya.....

Yaa Allah berikanlah ketabahan kepada kami semua, ringankanlah penderitaan adik kami.
Bila Engkau masih mengizikan adik kami untuk beribadah kepada-Mu, sembuhkanlah ia....
Kami hanya dapat berpasrah diri pada-Mu, Yaa Allah......
Tunjukkanlah kuasa-Mu saat ini kepada kami......

Slipi, Selasa, 5 April 2011, 09.00