Wednesday, March 21, 2012

Pak Dahlan Iskan dan pintu toll.....

Copas dari staf Kemeng BUMN
-----------------------------------------------------

Berita dari Pak Dahlan di Tianjin - China menanggapi berita2 terkait
kejadian di Pintu Tol tadi Pagi....

Tadi pagi sy tidak mbanting kursi tapi he he membuangnya ke pinggir
jalan. Kursikursi itu betul2 gak ada gunanya krn orangnya/petugasnya
tidak ada di loket di tengah2 antrean mobil masuk gerbang tol yg
begitu panjang.Ini juga bukan marah yg mendadak. Sdh tiga bulan sy
minta agar antrean masuk tol jangan sampai menjengkelkan. Hampir
setiap minggu sy sms direksi jasa marga mengingatkan komitmen kepada
masyarakat yg hrs kita penuhi.Setiap kali sy masuk gerbang tol yg
antre panjang sy selalu sms kepada direksi jasa marga. Tapi kok tidak
ada tindakan nyata. Sabtu lalu, jam 11.00 saat mau ke Bandung utk
bertemu mahasiswa ITB, saat masuk pintu tol kalimalang-2, antrean
juga panjang. Juga saya sms direksinya.Saya tidak henti-hentinya
mengingatkan itu. Pelayanan itu harus baik. Apalagi ini melayani orang
yg mau mbayar. Kalau melayani orang yg mau mbayar saja tidak baik,
bagaimana melayani masyarakat kecil yg tidak punya uang?Sy juga sangat
tidak puas hasil penjualan kartu eToll yg kurang berhasil. Sy sudah
tawarkan utk ikut jualan. Sy tunggu2 begitu lama tidak ada
realisasinya. Sy sudah bilang perlu cara2 kreatif utk jualan kartu
itu. Biar kian banyak yg beli kartu eToll.
Sy siang ini berangkat ke Tiongkok check up. Sudah telat 8 bulan. Sy
tunda terus karena begitu banyak pekerjaan dan juga krn sy tidak
merasa ada sesuatu yg mencurigakan. Tapi sy ditegur terus oleh dokter
karena terlalu lama menunda-nunda terus. Tahun ini sy akan melewati
masa kritis lima tahun setelah ganti hati. Kalau sy bisa melewati lima
tahun ini, agustus nanti, insyaallah pertanda hati baru sy sdh benar2
menyatu dengan tubuh saya. Mohon doa.

Nasibmu Wahai Pahlawan Devisa....

Just copas dari milis sebelah
----------------------------------------------------

Suryati, Maafkan Bangsamu! Catatan Tepi.‬

"Suryati" , itu nama yang disodorkan pada saya ketika pesawat
Emirates mendarat di Soekarno-Hatta selepas perjalanan dari London
dengan transit di Dubai. Ia seorang TKW yang mengaku bekerja di
Polandia namun harus transit lewat Frankfurt dan Dubai semata hanya
untuk menghindari formalitas birokrasi. Dalam proses menurunkan bagasi
dari kompartemen kabin pesawat boeing-777 Emirates ia meminta saya
untuk bantu menemani selama proses di gate imigrasi karena Jakarta
bukan akhir perjalanannya namun hanya tempat transit sebelum ia
melanjutkan penerbangan ke kota Jogjakarta. Wajahnya penuh
kekhawatiran setelah dua tahun menggadaikan waktu hidupnya di Negara
orang untuk meraih sedikit kemakmuran.

"Bapak, bisa bantu saya, saya takut turun karena harus pindah
keterminal satu, saya nanti boleh ikut mobil bapak kemana saja yang
penting keluar bandara setelah itu saya bisa naik taksi atau bis ke
terminal satu" Ujarnya

" Kenapa harus takut , kamu kan turun di terminal dua , apa bedanya
kamu sama saya, terminal dua itu bukan terminal TKW jadi ya bebas saja
orang. yang turun mau kemana saja!" Tukas saya

" Nggak pak sekarang memang gak ada terminal khusus TKW semua turun
diterminal dua , disana kata teman saya kita bakal di cegat, terus
dikumpulin 
lalu disuruh keterminal satu pakai mobil mereka, saya
takut , belum nanti kita diminta bayaran macam macam, kata teman saya
gak wajar dan kasar mintanya".
 Saya berpikir sejenak, setelah
perjalanan melelahkan selama 10 jam dengan bagasi yang segudang masih
akan ditambah urusan TKW bingung.

" Baik, kamu ikut saja dibelakang saya, gak usah takut, ini negara
kamu sendiri , saya bantu sebisa saya!".

Dibandara yang berciri minimalis, dengan ornament yang menua dan
dulunya sempat. mendapatkan Aga khan award itu kami berjalan
beriringan menuju gate imigrasi.
 Sebelum masuk keantrian saya
memastikan dokumen suryati lengkap, mulai dari passport, departure
card dan segepok dokumen ijin kerja yang saya sendiri nggak tahu mana
yang nantinya bakal ditanya.

Saya sengaja membiarkan suryati lebih dulu melewati gate dan dari
jarak 4 orang antrian saya memastikan proses melewati gate tidak
terkendala. Hanya tanya jawab sewajarnya antara petugas imigrasi
dengan suryati setelah itu clear, bahasa tubuh petugas imigrasi
sedikit berbeda dengan kode ke seseorang yang saya tidak mengerti.
Sesampai di conveyor belt tempat mengambil bagasi dan bersiap keluar,
suryati masih dibelakang saya dan tiba tiba ada seseorang berseragam
biru muda menariknya dengan kasar. Dibelakang petugas seseorang
bertopi baret abu-abu berdiri pasif menjaga.

"Kamu ini bandel, harusnya keluar pintu kiri sana , TKW bukan disini,
ini tempat umum!" Kata orang yang berseragam biru.

"Saya ikut saudara saya pak, itu..!" ia menunjuk saya , wajahnya
ketakutan dengan keringat yang sebiji jagung.

"Ah…lagu lama, ngaku ngaku, ayo cepat sudah ditunggu sama yang lain,
ke sebelah sana!" Kegarangan petugas mengusik saya, lalu saya
menghampiri .

" Maaf pak ..kenapa sama dia?"
 tanya saya

" Bapak kenal ?"
 Saya mengangguk

" Saudaranya ?"
 Lagi-lagi saya mengangguk.

Petugas menghampiri bagasi suryati dan membolak balik tag yang ada dan
ia melongok bagasi saya dari jauh.

"Bapak kan dari Heatrow, anak ini dari Frankfurt, gimana bisa saudara
bapak ?"
 selidiknya

"Sama sama asli jogja, kita ketemunya di Dubai, dia mau pulang sama
saya!"
 Urai saya.

"Ooh...nggak bisa pak, nggak bisa bareng, dia harus ikut kita ke
terminal satu, peraturannya begitu" Ujarnya.

"Itu kan kalau nggak ada yang jemput, kalau ada yang jemput kan boleh
barengan pak, lagi pula peraturannya kok begitu?"

"Ini kan untuk bantu mereka , biar tidak dimanfaatkan calo liar" jawabnya

"Kalau bapak apa …calo apa petugas?" tuding saya padanya.

"Loh, bapak anggap saya calo, saya ini petugas yang mau bantu,
dilindungi peraturan pak." elaknya

"Kalau bapak mau membantu, cara bapak menegur, menarik paksa itu
sebanding dengan calo pak!"

"Anak anak yang bandel ya harus digituin pak, diatur gak mau!"

"Pak, sepanjang perjalanan dia dari Polandia, Frankfurt, Dubai sampai
Jakarta wajah takutnya cuma ketika sampai Jakarta, kenapa?, karena dia
merasa ada ancaman dikampungnya sendiri, di negeri sendiri …aneh gak
menurut bapak?"

"Mereka kan orang kampung, masuk kekota gak diapa apain saja takut."

"Pak…di Frankfurt, Warsawa, Dubai, Jeddah, Riyadh mereka gak 
takut,
lebih modern dan besar mana kota-kota itu sama Jakarta..?"

"Bukan urusan saya pak ..pokoknya anak ini harus ikut saya, itu.
peraturannya biar mereka aman, tugas saya hanya sweeping mereka !"

"Yang di sweeping itu kan mestinya calo dan agen liar, bukan TKW nya,
bapak kayak memburu pendatang haram saja, kayak pasukan RELA nya
Malaysia, padahal ini kampung mereka pak..kasihan."

"Bapak pejabat dari mana sih..kalau perlu saya ketemukan dengan
pejabat
 yang atur ini semua?"

"Bapak juga namanya siapa, ada kartu pengenalnya nggak, saya ini
bukan. pejabat pak, Cuma warga biasa?" Saya balik bertanya.

"Ini nama saya !" dia menunjuk dada kanannya bertulisan huruf bordir
yang tertulis namanya.

"Ok… Saya gak coba langgar aturan, aturan itu dibuat untuk bikin
nyaman
 dan gampang mereka. Saya Cuma mau pastikan saudara saya ini
aman sampai
 Jogja." Pinta saya, menghindari perdebatan.

"Bapak gak perlu urusan mereka mau aman apa nggak, kita orang yang
pastikan itu."

"Nggak bisa begitu, itu urusan saya juga. Suryati ini saudara saya
juga, begitu juga TKW lainnya yang nggak bareng saya, saya akan ikuti
mobil yang jemput mereka, sampai terminal satu. Setelah beres nanti,
urusannya baru selesai."

"Jadi bapak nggak percaya dan mau ketemu sama pejabatnya yang ngatur."

"Kalau bapak mau ketemukan saya juga mau pak..silahkan, yang penting
Suryati aman." Tantang saya.

"Ok..sebelum saya panggil, bapak dari mana dulu?"

"Bilang saja dari keluarga besar Angkatan laut!"
 Sekenanya saya jawab
, entah datang dari mana jawaban itu, melintas saja diotak ini, bapak
saya yang angkatan laut pun sudah pulang ke alam sana belasan tahun
lalu.

Tak lama petugas itu calling ke radio, mundur ke pojok dan lima menit
kemudian kembali kehadapan saya.

"Begini pak, beliau belum bisa kesini, kalau bapak mau ikut proses
antarnya silahkan. Kami niatnya baik pak."

"Saya nggak lihat niat bapak jelek, cara bapak yang jelek. Main
bentak, main tarik, Cuma itu. Saya capek mereka lebih capek. Kalau
saya sampai disini sudah tidak perlu memikirkan kepastian bagaimana
melanjutkan nafkah hidup sebulan lagi nanti sementara mereka gak tahu
mau melakukan pekerjaan apalagi sepulang mereka ini …cukup hormati
mereka, itu cara terbaik porsi kita!"

"Begitu pak ya….Kalau bapak percaya, biar anak ini tetap ikut. saya,
sampai terminal satu."

"Ok, saya percaya sama bapak, tapi saya akan monitor ke suryati gimana
prosesnya."
Petugas setuju, anehnya justru ia memberi hormat ala
militer kapada saya. Aneh. Saya kan gak ngaku anggota angkatan laut,
cuma ngaku keluarga besar angkatan laut..itu saja.

Petugas memberikan identitasnya ketika saya minta.
Saya panggil
suryati, saya minta nomor HPnya, masih Nomor Eropa, lalu
 saya
pastikan ia untuk ikut petugas. 
Dengan cara lembut si petugas
mempersilakan suryati ikut, saya tegaskan kepada
 petugas untuk titip
TKW satu itu dengan baik dan mohon diperlakukan dengan baik

"SIAP pak..!"

Setengah jam berlalu, saya melintasi Serpong menuju rumah, tiba tiba
dering SMS dari HP 
berbunyi. Disana tertulis message dari "SURYATI
TKW""

"PAK ARY , TERIMA KASIH BANYAK , SAYA DIPERLAKUKAN DENGAN SANGAT BAIK,
RAMAH DAN SOPAN SAMA PETUGAS, TIDAK ADA BIAYA APA-APA YANG
DIMINTA…GRATIS, ALHAMDULILLAH ! SAYANGNYA YANG LAIN NGGAK KETEMU ORANG
KAYAK BAPAK ..JADI MEREKA
 NGGAK GRATIS, SEMOGA ALLAH MEMBALAS
KEBAIKAN BAPAK. SALAM , SURYATI."

Alamak!!! Maafkanlah bangsamu ini wahai pahlawan devisa!

- Catatan May 2010-

From the desk of Aryadi Noersaid (AN)

Monday, March 12, 2012

Tiga Hari di Merauke

"Pak.....pak....", suara pelan Bu Majinur dan sentuhan tangannya ke kakiku sontak membuat aku terbangun. Kadispenda Kabupaten Merauke tersebut segera menunjuk ke arah jendela pesawat di sisi kanan kami. Di luar jendela pemandangan pulau paling Timur Indonesia mulai nampak. Aku beruntung, cuaca lumayan cerah. Sejauh mata  memandang hanya warna hijau yang terlihat. Bila pun terdapat warna coklat yang meliuk-liuk itu adalah sungai-sungai yang membentang di pulau Papua.
Sebenarnya, mataku masih sulit ku buka. Demi menghormati orang yang mengundangku ke bumi Papua ini, kupaksakan untuk melihat pemandangan di bawah sana dari balik jendela pesawat. Kucermati pemandangan tersebut dengan rasa syukur karena baru kali ini aku akan menginjakkan kaki di bumi Papua. Kulirik bangku sebelah kiriku. Temanku Heru Supriyanto nampak masih terlelap. Perjalanan malam Jakarta-Merauke ini memang sangat melelahkan. Meninggalkan bandara Soekarno-Hatta pada pukul 21.30 WIB, pesawat tiba di Merauke sekitar pukul 04.30 WIB atau 06.30 WIT setelah sempat transit 40 menit di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Total perjalanan malam hingga pagi hari itu hampir 7 jam. Wuiiihh....belum pernah aku melakukan perjalanan udara selama itu. Perjalanan udara terlama yang pernah kulakukan hanyalah Jakarta-Manado yang memakan waktu 3 jam pada penerbangan nonstop.

Pesawat milik BUMN "dhuafa" ini akhirnya mendarat mulus di bandara Mopah diiringi hujan gerimis. Ruapanya di sini, cuaca begitu cepat berubah. Cuaca yang  kulihat dari balik jendela pesawat tadi begitu cerah, kini berubah mendung. Tak lama sesudah kami memasuki ruang kedatangan di bandara kecil tersebut, hujan deras pun turun. Mopah adalah sebuah nama tempat di Merauke, kota paling Timur di Indonesia tempat terbit matahari pertama di bumi Indonesia.

Sabtu malam, 10 Maret 2012, aku dan teman kantorku, Heru Supriyanto, memenuhi undangan Bupati Merauke untuk memberikan pelatihan tentang Penilai PBB Sektor Pedesaan dan Perkotaan bagi pegawai  pemda tersebut. Malam itu kami berangkat bersama Kadispenda Kabupaten Merauke, Ibu Majinur, dengan menumpang maskapai Merpati. Kabarnya hanya maskapai ini yang masih setia melayani jalur penerbangan di wilayah Timur. Mungkin itu yang menjadikan Meneg BUMN, Dahlan Iskan, mencoba mempertahankan BUMN yang masih dalam kategori sekarat ini.

Merauke tidak asing di telingaku dan juga telinga anak-anak Indonesia. Sejak SD kami sudah diperkenalkan dengan nama itu. Bahkan sebuah lagu yang berbait "dari Sabang sampai Merauke...." digunakan untuk menunjukkan batas Barat dan batas Timur wilayah Indonesia. Selain itu aku pun mengenal tentang kota ini dari salah satu atasanku yang tahun 80-an bertugas di sini.
Kini, minggu pagi ini, akhirnya aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri "keindahan" kota kecil yang telah berusia 110 tahun yang berada di ujung Timur Indonesia. Papua.....oh.....Papua.....

Minggu pagi itu kami menginap di hotel Swiss-Bel yang baru saja beroperasi sebulan yang lalu di kota tersebut. Untung, begitu pikirku. Karena kalau tidak, kami bakal menginap di hotel kelas melati hehehehe. Pasalnya, tidak ada hotel lain yang berbintang selain hotel ini. Walhasil, aku bisa merebahkan tubuhku di kamar yang nyaman untuk menghilangkan pegel-pegel yang menyerang tubuhkan akibat duduk berjam-jam sambil terkantuk-kantuk. Setelah mandi dan sarapan, aku pun tertidur pulas untuk membayar rasa lelah akibat  duduk berjam-jam sambil menahan ngantuk selama di pesawat.

Pukul dua siang waktu setempat kami dijemput kembali oleh pihak Pemda. Kali ini staf bu Majinur yang menjemput kami, Pak Rahman dan Pak Karel. Keduanya adalah kepala bidang di dispenda.
Setelah menyantap makan siang, selanjutnya kami menuju distrik Sota untuk melihat tugu perbatasan antara Papua dengan Papua New Guini. Sepanjang perjalanan kami bercerita banyak hal. Dari sana kami tahu bahwa Pak Rahman dan Pak Karel ini bukan penduduk asli Merauke. Mereka pun pendatang asal Maluku yang telah cukup lama bermukim di Merauke. Bahkan Pak Karel lebih banyak menghabiskan waktunya di Jakarta sebelum akhirnya memilih menjadi PNS Pemda Merauke.
(to be continued)

Monday, February 06, 2012

Musibah 27 Januari 2012, pkl. 00:15

Dears,
Aku sering mendengar dan menyaksikan kejadian yang tidak menyenangkan di jalan toll Cipularang. Dari yang dampaknya biasa-biasa saja sampai yang fatal sekalipun.
Tiap kali melalui jalan toll itu pun, tidak jarang aku melihat banyak sekali jejak gesekan ban yang membekas di aspal jalan tersebut. Itu menandakan banyaknya kendaraan roda empat yang terpaksa melakukan pengereman mendadak. Semuanya selalu menjadikan diriku sangat berhati-hari saat melintasi jalan tersebut.

Musibah tetaplah musibah! Semuanya telah dirancang oleh Yang Mahakuasa. Bisa saja musibah itu terjadi karena keteledoran diri kita atau karena keteledoran orang lain yang berdampak pada diri kita!
Nah, Jumat dini hari sekitar pukul 00:15 aku pun "akhirnya" merasakan bagaimana rasanya bertabrakan di jalan toll, yang tentu saja pada saat kendaraan kita sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

Tengah malam itu menjadi malam yang mendebarkan jantung ku. Meskipun dalam hitungan menit aku mampu menguasai rasa kaget (shock) dalam diriku pasca kecelakaan tersebut. Semuanya berkat ridho Yang Maha Agung. Malam itu, ajalku belum tiba! Allah masih memberikan kesempatan padaku untuk menghirup dunia fana ini. Terima kasih Yaa Allah atas kemurahan-Mu..........

Bayang-bayang kecelakaan itu masih terus mengusik pikiranku. Bila mengingatnya, ada rasa takut yang sangat dalam diriku. Ya, malam itu, setelah aku menyempatkan diri beristirahat di kilometer 72 toll Cipularang arah Bandung, aku melanjutkan perjalananku kembali menuju hotel Gran Pasundan Bandung untuk bergabung dengan rekan-rekan kerjaku yang sudah berada di sana sejak Kamis siang.
Di kilometer 72 aku sempat makan malam di rumah makan Ciganea langgananku. Bahkan aku sempat pula sholat Isya di masjid yang ada di sana. Saat aku melajukan kendaraanku kembali sama sekali tidak perasaan apapun! Semuanya normal sebagaimana bila aku akan melanjutkan perjalananku kembali. Bahkan seperti biasanya, sebelum memulai perjalanan, aku pun selalu berdoa dalam hati, "Bismillahi tawaqaltu alalloh..."

Kilometer-kilometer awal setelah km.72 aku lalui dengan lancar. Beberapa kendaraan berat sering aku jumpai meskipun dengan interval yang cukup jauh. Ada yang taat mengambil jalur di sisi kiri jalan, sesuai dengan himbauan pengelola jalan toll, "truk tetap berada di jalur paling kiri!". Namun ada juga yang mbandel dengan mengambil jalan di sisi kanan. Tidak sedikit pula yang kadang berusaha pindah jalur dari kiri ke kanan, untuk sekedar mendahului kendaraan berat lainnya yang berada di depannya yang tentu saja melaju lebih lambat.

Aku selalu menggunakan lampu dim-ku (lampu jarak jauh) di setiap kali aku akan mendahului kendaraan lain. Kadang dengan sedikit membunyikan klakson sebagai antisipasi bila saja pengedara di depanku tidak memperhatikan lampu yang datang dari arah belakang. Sejauh ini semua aman. Setidaknya hingga menjelang kilometer 80.
Setelah mendahului beberapa kendaraan berat dengan aman dan lancar, aku mencoba kembali untuk mendahului kendaraan berat yang kini ada di depanku. Jaraknya mungkin sekitar 800meteran di depanku. Aku merasakan ada gelagat truk yang ada di sisi lajur kiri akan berpindah jalur ke sisi kanan. Seketika aku langsung menyalakan lampu jauh berkali-kali untuk memberi isyarat bahwa aku akan mendahului terlebih dahulu sebelum ia berpindah jalur. Aku lihat truk tersebut mengurungkan diri untuk berpindah jalur.
Tentu saja aku tetap dengan kecepatanku dan sedikit menambah kecepatan agar bisa segera mendahului truk tersebut.

Perasaanku seketika terguncang! Truk yang tadinya tetap berada di sisi kiri tiba-tiba berpindah ke kanan. Jarakku tinggal beberapa ratus meter lagi di belakang! Panik dan kaget itu yang kurasakan. Segera kuinjak remku perlahan untuk menghindari pengereman secara mendadak. Entah apa yang terlintas dalam benakku. Tiba-tiba saja feeling ku mengajakku untuk mengambil sisi kiri truk yang sudah berada di sisi kanan tersebut.
Aku mengira sisi kiri jalan tidak ada kendaraan lain. Ya, karena kondisi jalan di kilometer tersebut kurang penerangan dan dari jauh terlihat sisi kiri jalan tidak ada kendaraan.

Dengan yakin aku mengambil jalur kiri! Namun, jantungku seketika bergetar keras ketika yang kulihat di depanku adalah sebuah truk tronton yang melaju pelan! Ya, jarakku kurang dari seratus meter! Adrenalinku langsung meninggi! Dengan reflek ku injak kembali pedal rem dengan lebih keras.
Hitunganku, tidak mungkin aku bisa berhenti persis di belakang truk. Segera kubanting steer ke kanan untuk menghindari kendaraanku menabrak truk tersebut!

Bantingan steer yang mendadak dan kecepatan kendaraan ku yang kuperkirakan masih berada di kisaran 100km/jam membuat mobilku oleng seketika. Saat mobil berbelok ke kanan, dalam hitungan detik tersebut mataku tertuju pada beton pemisah jalan! Secara reflek kubanting kembali steer  ke kiri agar aku tidak menghujam beton pemisah tersebut! Braaakkkk!!!! Mobil yang tidak bisa lagi kukendalikan seketika terhenti dengan posisi melintang di tengah jalan setelah aku menabrak sisi kanan truk yang ada di sebelah kiriku!
Dentuman terdengar begitu keras. Aku pun pasrah seraya bersyukur karena mobilku tidak terguling. Rasa shock yang menghinggapiku pun bertambah, saat secara relflek ku palingkan wajahku ke arah kanan. Ku lihat sebuah truk lain yang berada di belakangku sedang melaju ke arah ku. Kugenggam erat steer untuk berjaga-jaga bila truk tersebut menghantam diriku. Kembali yang bisa kulakukan adalah berpasrah diri!

Alhamdulillah......begitu gumamku seketika saat truk yang berada di belakangku mampu bermanuver ke kiri jalan sehingga ia tidak menabrak mobilku. Ku tatap penuh rasa syukur truk yang melintas di depanku itu. Tiba-tiba kembali terdengar benturan keras. Bagian belakang truk tersebut ternyata tidak bisa menghindari mobilku. Seketika mobilku bergeser ke arak kanan, meskipun tetap dalam posisi melintang di tengah jalan.

Setelah truk tersebut lewat di depan ku. Segera kunyalakan kembali mobilku. Kupaksa ia untuk bisa sekedar menepi di bahu jalan! Beberapa mobil yang datang dari arah belakang memperlambat laju kecepatan. Kubuka kaca di sisi kiriku. Ku julurkan tangan dan memberikan lambaian agar mereka terus melaju ke depan sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja.
Tempat kejadian tersebut tidak diterangi lampu jalan. Ku lihat ke depan tidak ada satu pun truk yang menghentikan laju kendaraannya. Ya, aku ditinggalkan begitu saja di sana!

Dengan pasrah, kunyalakan lampu darurat dan berharap akan ada mobil patroli yang akan membantuku.
Sedianya aku akan menunggu saja di tempat tersebut hingga ada mobil patroli. Namun niat itu kuurungkan! Aku merasa bahwa entah berapa lama aku harus berada di tempat tersebut.
Tiba-tiba saja kurasakan keinginan yang kuat untuk keluar dari mobil dan mengecek kondisi kendaraanku. Segera ku keluar dari mobilku. Ku lihat kerusakan yang cukup para pada sisi kiri depan. Spontan ku cek ban mobilku, apakah ia bengkok atau tidak. Ternyata banku tidak penyok! Kulihat juga jarak antara ban dengan bodi yang penyok. Masih ada jarak! Alhamdulillah, gumamku kembali!  Sayangnya, aku bisa mengecek apakah radiatorku bocor atau tidak!

Untuk mengetahuinya, aku segera kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan kembali mesin. Saat mesin menyala, mataku langsung tertuju pada dashboard. Kuperhatikan dengan seksama jarum penunjuk panas tidak bergeming. Itu artinya radiatorku baik-baik saja! Rasa senang muncul seketika. Spontan aku pun mencoba untuk memajukan kendaraanku.
Gambling! Itu yang kulakukan. Bisakah mobilku melaju kembali??? Dengan perlahan kumasukkan persneling ke posisi satu. Ku tekan pedal gas dan kuangkat perlahan pedal kopling. Mobilku melaju perlahan meski diiringi dengan bunyi gesekan ban dan bodi mobil ketika jalan yang kulalui bergelombang.
Kupindahkan gigi ke posisi dua dan seterusnya ke posisi tiga! Mobilku melaju secara normal! Allahu Akbar, teriak ku! Sungguh mukjizat, mobil ini masih bisa melaju dengan baik.....

Niatku yang semula hanya ingin membawa mobilku untuk sekedar menemukan tempat yang lebih terang seraya menunggu mobil patroli, akhirnya kuurungkan. Ide gilaku muncul! Aku harus bisa membawa mobil ini ke Bandung yang jaraknya masih 40-50 km atau sampai ia sendiri yang menghentikan dirinya karena sesuatu hal!!!
Kecepatan mobil tersebut bisa kupacu hingga 60-80km. Kembali kuambil lajur kanan setelah aku yakin mobil ini masih bisa kuajak untuk berlari meskipun dengan sesekali terdengar gesekan ban dan bodi saat jalan yang kulalui bergelombang.

Cuplikan Ucapan Mohon Diri Kapus Pajak, Bpk. Chaizi Nasucha

Muhasabah (Introspeksi Nilai-Nilaiku)

Duh Maha Pendekar
Yang sanggup meremas seluruh tata jagad raya menjadi setetes sunyi,
Yang mampu meniup kehidupan ini sekarang juga menjadi tiada,
Yang dengan seucapan "kun" bisa membuat segala sesuatu menjadi sia-sia,
Jauhkanlah kami dari kepedihan hidup,
Jiwa yang tersakiti,
Keterpenjaraan,
Luka yang berurai air mata,
Ampunilah kebusukan INTEGRITAS ku

Duh Maha Resi
Yang mengetahui jumlah kelopak bunga seluruhnya yang telah gugur,
Yang sedang kembang serta yang baru tumbuh di bumi dan langit
Ampunilah tingkat PROFESIONALISME ku yang belum optimal

Duh Maha Empu
Yang mengerti batas terkecil dan batas terbesar dari setiap jiwa dan raga,
Penjaga yang terahasia dari kenyataan,
Pemelihara yang paling nyata,
Dari rahasia seluruhnya di bumi dan langit, serta yang tak dikeduanya,
 Ampunilah kekurang-SINERGI-an ku

Duh Maha Guru
Cakrawala segala kemungkinan dan ketidakmungkinan,
Wilayah tak berhingga dari segala ketinggian dan keagungan,
Penggenggam kunci misteri kebenaran dan keadilan,
Satu-satunya yang sanggup menerangkan cinta dan keindahan,
Ampunilah ketidaksabaran PELAYANAN ku

Duh Maha Kekasih,
Kalau tak Paduka bangunkan kami dari tidur,
Kalau Paduka potong seurat nadi kesadaran kami,
Kalau Paduka hempaskan dan aduk gunung-gunung dan samudera dengan ujung jari Paduka,
Pastilah kami semua menjadi sirna

Duh Maha Raja
Yang bertahta tanpa singgasana,
Yang bersemayam tanpa tempat,
Yang bernafas tanpa udara,
Yang berenang tanpa samudera,
Yang menerangi tanpa cahaya,
Yang hidup tanpa kehidupan,
Yang suci dari segala ilmu kandungan ruang dan waktu
Ampuni ketidak-SEMPURNAN-an ku