Beberapa jenis peluang usaha sedang aku tekuni kembali. Selain usaha-usaha yang memang sudah berjalan beberapa tahun ini.
Salah satu peluang usaha yang sedang dijalani adalah menjual paket-paket promo tour ekonomis alias murah beberapa negara Asia, diantaranya China dan Bangkok (dua negara yang cukup banyak peminatnya. Begitu kabarnya).
Minggu lalu akhirnya aku putuskan untuk bergabung dengan usaha kawanku ini. Ia dan temanku yang lain telah setahun menekuni bisnis ini.
Mereka memang bukan pemilik usaha. Namun mereka punya andil besar membantu membesarkan bisnis ini dengan sistem "member get member" alias multi level marketing (MLM).
Bisnis ini memang menggunakan sistemnya MLM dalam merekrut dan memberikan bonus. Hanya saja mereka belum mau dibilang sebagai bisnis MLM. Apalagi mereka memang belum terdaftar di asosiasi bisnis MLM.
Konsepnya saja yang dipakai dari MLM tersebut. Selebihnya adalah konsep konvensional karena pada dasarnya mereka memang menjual paker tour wisata murah dan bukan sekedar memperbanyak jaringan.
Setau ku, kalau pun ini adalah sebuah bisnis MLM, maka bisnis ini adalah bisnis MLM baru di bidang tour and travel. Biasanya bisnis MLM lebih banyak dipakai pada perusahaan yang menjual produk-produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau produk-produk kesehatan.
Nah, aku tertarik untuk ikut bergabung dan ikut memasarkan karena ada niatan sekiranya suatu ketika aku punya dana, aku dan keluarga bisa berwisata ke luar negeri dengan biaya yang relatif murah....
Entah seperti apa prospek ke depan. Aku hanya akan mencoba menjalaninya semampuku. Tidak ada target apapun. Bila berhasil, tentu saja akan bersyukur. Dan sekiranya gagal pun tidak menjadi masalah. Yang penting: ikhtiar!!!
Toh ini bukan satu-satunya usaha yang sedang aku jalani.
Beberapa peluang bisnis lainnya juga sedang aku bidik. Sayang danaku yang aku investasikan dua tahun lalu pada usaha kawanku di bidang persingkongan hingga kini belum jelas pengembaliannya....
Salam sukses untuk menyongsong masa purna bhakti 14 tahun lagi....
Friday, April 19, 2013
Friday, April 05, 2013
Mengenangmu.....(wahai adikku)
Dua tahun sudah waktu berlalu. Tak terasa, 2 tahun silam adik bungsu kami menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.
Ya, ia kembali ke haribaan-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun....
Semua yang datang dari Nya....kembali pula kepada sang maha Pencipta.....
Dua tahun lalu, ia hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam dalam pertolongan di sebuah rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kecelakaan menimpa saat ia berboncengan dengan keponakan kami menuju terminal bus.
Dari terminal bus ia berencana menuju kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Di kota itu, istri dan putera-puterinya menetap.
Hingga kini kejadian kecelakaan tersebut masih menjadi misteri.
Tak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan musabab kejadian tersebut. Termasuk keponakanku yang saat itu berboncengan dengan almarhum.
Semua menjadi misteri Ilahi....
Kami sadar bahwa tak ada manusia yang mampu melawan takdir.
Saat waktu yang telah ditetapkan oleh Nya tiba, maka tak ada satupun yang berdaya menundanya.
Waktu itu pun menjadi misteri bagi diri kita. Tak tahu kapan ia akan tiba menjemput diri kita.
Kontrak hidup di dunia telah ditetapkan oleh Nya seperti saat kita dilahirkan ke dunia.
Hanya Ia sang pemilik waktu yang mengetahuinya.
Manusia hanya mampu menjalankan kehidupannya tanpa diberitahu kapan batas waktu itu menjadi milik kita.
Allah maha Besar..... Hanya Ia yang mengetahui segalanya.
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Nya.
Ia yang menciptakan dan Ia pula yang memusnahkan....
Dua tahun menjadi waktu yang terasa singkat.
Rasanya baru kemarin adikku "menyusul" ayah kami yang wafat tahun 2006.
Kejadian yang amat mendadak tentu tak pernah bisa kami lupakan.
Tak ada yang menyangka bahwa ia si bungsu ternyata yang pertama menghadap Nya.
Allah lebih menyayangi dirinya ketimbang kami kakak-kakak Nya....
Ia diberikan kemuliaan untuk tidak melakukan perbuatan tercela kembali di dunia.
Allah lah yang mencukupkan amal ibadah nya pula.
Di antara kami, 6 bersaudara, si bungsu ini yang paling memiliki sifat agamis.
Sejak kecil ia telah dekat dengan nilai-nilai agama.
Ketika beranjak remaja, ketekunannya mempelajari nilai-nilai agama semakin tinggi.
Ia aktif diberbagai kegiatan yang berbau agama.
Perilaku sehari-harinya pun kental dengan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.
Keinginan dan motivasinya sangat tinggi.
Ia selalu optimis dalam setiap aktivitas yang ditekuni.
Ia tak pernah menyerah dengan setiap kegagalan yang menerpanya.
Setiap kegagalan yang menghampiri, selalu ia hadapi dengan senyuman.
Ia selalu yakin bahwa kegagalan maupun keberhasilan sudah digariskan oleh Nya.
Itu yang menjadikan semangatnya tak pernah surut.
Senyumnya yang khas senantiasa mengembang meski ia sedang diterpa kemalangan.
Saat melakukan keteledoran dan aku jengkel padanya, ia pun membalas dengan senyum.
Dalam panikku, ia selalu bisa menenangkan diriku.
Kemarahanku yang memuncak sekali pun, ia tanggapi dengan ketenangan yang luar biasa.
Kini senyum itu telah menjadi kenangan.
Senyum khasnya hanya bisa kami saksikan pada foto-foto kenangan.
Yah, kami tak bisa lagi menatap senyum khas itu.
Kami tak bisa lagi mendengarkan ucapan-ucapannya yang tegas dan penuh semangat.
Kami tak bisa lagi melihat kegigihannya mengarungi beratnya beban hidup ini.
Kami tak bisa lagi melihat dirinya yang selalu bermanja saat berada di dekat ibunda kami.
Kami tak bisa lagi meminta bantuannya saat kami bermasalah dengan perangkat komputer.
Kami tak bisa lagi mendengar kembali berbagai motivasi yang selalu ia berikan kepada kami.
Kami tak bisa lagi mendengar kisahnya tentang bagaimana ia memberikan pelatihan motivasi pada suatu tempat.
Dan kami tak bisa lagi mendengar tawanya yang juga sekhas senyumnya.......
Wahai adikku, tenanglah engkau di sana....
Suatu saat nanti kami pun akan menyusulmu ke sana....
Kami akan selalu menjaga apa yang telah engkau berikan kepada kami....
Kami pun akan menjaga dan memastikan anak-anakmu menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang akan selalu mendoakan dirimu....
Kami sisihkan sebagian hati kami untuk selalu mengenang kebaikkanmu...
Yaa Allah yang maha Kuasa dan maha Pemurah...
Terangilah kuburnya....
Ringankahlah siksa kubur baginya...
Terimalah seluruh amal dan ibadahya...
Ampuni segala dosa dan kesalahannya....
Amiin Yaa Robbal 'alamiin.....
Selamat jalan wahai adikku tercinta..............
Ya, ia kembali ke haribaan-Nya. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun....
Semua yang datang dari Nya....kembali pula kepada sang maha Pencipta.....
Dua tahun lalu, ia hanya mampu bertahan kurang dari 24 jam dalam pertolongan di sebuah rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di wilayah Kemayoran, Jakarta Pusat.Kecelakaan menimpa saat ia berboncengan dengan keponakan kami menuju terminal bus.
Dari terminal bus ia berencana menuju kota Pekalongan, Jawa Tengah.
Di kota itu, istri dan putera-puterinya menetap.
Hingga kini kejadian kecelakaan tersebut masih menjadi misteri.
Tak ada satu orang pun yang bisa menjelaskan musabab kejadian tersebut. Termasuk keponakanku yang saat itu berboncengan dengan almarhum.
Semua menjadi misteri Ilahi....
Kami sadar bahwa tak ada manusia yang mampu melawan takdir.
Saat waktu yang telah ditetapkan oleh Nya tiba, maka tak ada satupun yang berdaya menundanya.
Waktu itu pun menjadi misteri bagi diri kita. Tak tahu kapan ia akan tiba menjemput diri kita.
Kontrak hidup di dunia telah ditetapkan oleh Nya seperti saat kita dilahirkan ke dunia.
Hanya Ia sang pemilik waktu yang mengetahuinya.
Manusia hanya mampu menjalankan kehidupannya tanpa diberitahu kapan batas waktu itu menjadi milik kita.
Allah maha Besar..... Hanya Ia yang mengetahui segalanya.
Semua yang ada di dunia ini adalah milik Nya.
Ia yang menciptakan dan Ia pula yang memusnahkan....
Dua tahun menjadi waktu yang terasa singkat.
Rasanya baru kemarin adikku "menyusul" ayah kami yang wafat tahun 2006.
Kejadian yang amat mendadak tentu tak pernah bisa kami lupakan.
Tak ada yang menyangka bahwa ia si bungsu ternyata yang pertama menghadap Nya.
Allah lebih menyayangi dirinya ketimbang kami kakak-kakak Nya....
Ia diberikan kemuliaan untuk tidak melakukan perbuatan tercela kembali di dunia.
Allah lah yang mencukupkan amal ibadah nya pula.
Di antara kami, 6 bersaudara, si bungsu ini yang paling memiliki sifat agamis.
Sejak kecil ia telah dekat dengan nilai-nilai agama.
Ketika beranjak remaja, ketekunannya mempelajari nilai-nilai agama semakin tinggi.
Ia aktif diberbagai kegiatan yang berbau agama.
Perilaku sehari-harinya pun kental dengan kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati.
Keinginan dan motivasinya sangat tinggi.
Ia selalu optimis dalam setiap aktivitas yang ditekuni.
Ia tak pernah menyerah dengan setiap kegagalan yang menerpanya.
Setiap kegagalan yang menghampiri, selalu ia hadapi dengan senyuman.
Ia selalu yakin bahwa kegagalan maupun keberhasilan sudah digariskan oleh Nya.
Itu yang menjadikan semangatnya tak pernah surut.
Senyumnya yang khas senantiasa mengembang meski ia sedang diterpa kemalangan.
Saat melakukan keteledoran dan aku jengkel padanya, ia pun membalas dengan senyum.
Dalam panikku, ia selalu bisa menenangkan diriku.
Kemarahanku yang memuncak sekali pun, ia tanggapi dengan ketenangan yang luar biasa.
Kini senyum itu telah menjadi kenangan.
Senyum khasnya hanya bisa kami saksikan pada foto-foto kenangan.
Yah, kami tak bisa lagi menatap senyum khas itu.
Kami tak bisa lagi mendengarkan ucapan-ucapannya yang tegas dan penuh semangat.
Kami tak bisa lagi melihat kegigihannya mengarungi beratnya beban hidup ini.
Kami tak bisa lagi melihat dirinya yang selalu bermanja saat berada di dekat ibunda kami.
Kami tak bisa lagi meminta bantuannya saat kami bermasalah dengan perangkat komputer.
Kami tak bisa lagi mendengar kembali berbagai motivasi yang selalu ia berikan kepada kami.
Kami tak bisa lagi mendengar kisahnya tentang bagaimana ia memberikan pelatihan motivasi pada suatu tempat.
Dan kami tak bisa lagi mendengar tawanya yang juga sekhas senyumnya.......
Wahai adikku, tenanglah engkau di sana....
Suatu saat nanti kami pun akan menyusulmu ke sana....
Kami akan selalu menjaga apa yang telah engkau berikan kepada kami....
Kami pun akan menjaga dan memastikan anak-anakmu menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang akan selalu mendoakan dirimu....
Kami sisihkan sebagian hati kami untuk selalu mengenang kebaikkanmu...
Yaa Allah yang maha Kuasa dan maha Pemurah...
Terangilah kuburnya....
Ringankahlah siksa kubur baginya...
Terimalah seluruh amal dan ibadahya...
Ampuni segala dosa dan kesalahannya....
Amiin Yaa Robbal 'alamiin.....
Selamat jalan wahai adikku tercinta..............
Wednesday, March 27, 2013
Tak ada Judul
Sejak postingan terakhir (Agustus 2012), aku hanya sempat menyambangi situs ini beberapa kali tanpa punya kesempatan (dan juga keinginan :D) untuk meng-update content blog ini.
Selain karena malas dan disibukkan oleh tugas rutin dan tugas sampingan lainnya, juga karena ada beberapa blog yang aku kelola.
Bahkan di tempat tugasku yang baru membuat aku harus fokus pada pekerjaan karena banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan menjelang akhir tahun anggaran. Selain itu, aku juga dilibatkan oleh unit lain untuk membantu tugas-tugas mereka.
Cukup melelahkan dan menyita waktu, tapi sekaligus menyenangkan. Kenapa? Selain bisa bepergian menghilangkan penat dari rutinitas kantor, juga......dapet penghasilan tambahan hehehehe.
Selain karena malas dan disibukkan oleh tugas rutin dan tugas sampingan lainnya, juga karena ada beberapa blog yang aku kelola.
Bahkan di tempat tugasku yang baru membuat aku harus fokus pada pekerjaan karena banyak sekali pekerjaan yang harus segera diselesaikan menjelang akhir tahun anggaran. Selain itu, aku juga dilibatkan oleh unit lain untuk membantu tugas-tugas mereka.
*
Selama tiga bulan menjelang akhir tahun 2012 aku bahkan lebih banyak berada di luar kantor. Tidak hanya itu, aku sempat "berkelana" dari satu kota ke kota lainnya. Kota-kota yang aku kunjungi dalam rangka tugas di antaranya adalah Jogja (sebanyak 3x), Pekanbaru, Pontianak, Makassar, Bandung, dan Bogor.Cukup melelahkan dan menyita waktu, tapi sekaligus menyenangkan. Kenapa? Selain bisa bepergian menghilangkan penat dari rutinitas kantor, juga......dapet penghasilan tambahan hehehehe.
*
Bidang tugas ku yang baru cukup menantang sekaligus memberi nuansa dan pengalaman baru bagiku. Di sini aku jadi semakin tahu tentang bagaimana proses pembuatan Tes Potensi Akademik, Tes Bahasa Inggris, dan Assessment Center. Di tambah, juga jadi tahu bagaimana proses pelaksanaan dan pengevaluasian Psikotes.
Di antara berbagai tes tersebut, yang paling menarik adalah assessment center dan psikotes. Dua tes tersebut menjadikan aku semakin paham dengan bagaimana para asesor menyusun alat asesmen, melakukan asesmen, dan memberikan penilaian terhadap pegawai yang di ases. Untuk psikotes, aku juga jadi tau bagaimana para psikolog bekerja dalam "menentukan nasib orang lain".
Kusebut menentukan nasib orang lain, karena psikotes menjadi faktor penentu bagi seseorang apakah ia memenuhi kualifikasi atau tidak dalam rangkaian tes yang diikutinya.
Contoh, pada proses penerimaan mahasiswa program beasiswa, para kandidat diwajibkan mengikuti rangkaian tes berupa TPA, TBI, dan Psikotes. Nah, bisa saja nilai yang diperoleh kandidat untuk TPA dan TBI tinggi sekalipun namun "fail" di psikotes maka dapat dipastikan kandidat tersebut tidak akan lolos dalam kualifikasi tersebut!
*
Aku jadi teringat sekian tahun silam saat aku mengikuti tes penerimaan program beasiswa untuk tugas belajar ke luar negeri. Saat itu nilai TPA ku masuk dalam kategori tertinggi di antara peserta tes yang ikut. Nilai TOEFL ku pun di atas nilai minimum. Namun, ternyata aku tidak dipanggil untuk mengikuti tes wawancara. Saat kutanya mengapa aku tidak dipanggil tes, jawaban panitia saat itu, "kalau tidak dipanggil wawancara berarti kamu nggak lulus psikotes." Huks...padahal tidak pernah ada pengumuman tentang hasil psikotes saat itu! Dan kesan yang ada di zaman itu, psikotes bagai barang haram yang tidak boleh diumumkan. Sangat rahasia!!! Tidak ada transparansi!!!
Kegagalan ku di tahun pertama ikut tes tersebut tidak menyurutkan ku untuk mengikuti tes yang sama untuk program yang sama di tahun berikutnya. Hasilnya? Kembali mengecewakan! Aku dinyatakan tidak lulus kembali. Dan penyebabnya sama: psikotes!!
Dendam kesumat tumbuh dalam diriku dengan tes yang menurutku sangat subjektif ini!! Bagaimana mungkin seseorang mampu "menduga" kemampuan psikis orang lain untuk masa yang akan datang???
Akhirnya, saat itu aku putuskan untuk tidak akan pernah mengikuti tes-tes program beasiswa lagi. Daripada mengecewakan, begitu pikirku.
*
Nah, setelah beberapa kali terakhirn ini aku melihat bagaimana para psikolog melakukan serangkaian proses pengevaluasian atas hasil psikotes, jujur aku shock! Menurutku, proses yang dilakukan sungguh-sungguh sulit untuk dipertanggungjawabkan. Paling tidak menurutku!
Ya, aku lihat bagaimana hasil jawaban peserta diinput ulang untuk kemudian di-interpretasikan. Pertanyaannya sederhana: apakah dijamin saat menginput ulang semua jawab yang diinput tidak salah???
Selain itu, bagi aku yang awan, "cara" menginterpretasikan nya pun sungguh-sungguh sulit dipahami. Sepertinya memang hanya bisa dipahami oleh para psikolog sendiri!! Menurutku, mereka "hanya" melihat "keterkaitan" jawaban peserta di beberapa jenis tes yang mereka lalui....!
Kalau seperti ini, tentu saja para psikolog akan dengan mudah lulus dari tes-tes seperti ini bila mereka mengikuti serangkaian tes untuk suatu program tertentu!
Kenapa? Ya, karena mereka sudah tau "pola" jawabannya!!!
Namun, sudahlah....! Secara pribadi aku masih mempertanyakan "validitas" tes ini sebagai alat ukur! Sayangnya, banyak pihak menjadikan alat ini sebagai salah satu saringan utama dalam serangkaian tes! Yang lebih menyedihkan lagi, banyak sekali orang mempercayai bahwa tes ini adalah tes yang valid untuk menyaring peserta tes!!!
*
Tahun ini aku mendengar kabar bahwa unit kerjaku akan dilikuidasi. Alasannya, karena sudah tidak sesuai dengan semangat pembentukannya dahulu. Struktur organisasi akan disamakan dengan struktur organisasi lainnya yang ada di tempat kerjaku. Hal ini, buatku tidak masalah! Toh selama ini aku memang hanya tinggal mengerjakan apa yang seharusnya kekerjakan. Selain itu, tidak!
Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Semangat pembaruanku begitu tinggi. Aku begitu loyal pada organisasi. Aku tidak bisa membiarkan setiap organisasiku berjalan di tempat. Apalagi kalo underperform!
Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Semangat pembaruanku begitu tinggi. Aku begitu loyal pada organisasi. Aku tidak bisa membiarkan setiap organisasiku berjalan di tempat. Apalagi kalo underperform!
Selalu ada saja hal-hal yang akan aku lakukan untuk memperbaiki sistem kerja agar mengarah ke hal yang lebih baik!
Kini, semangatku sudah berbeda! Aku sudah tidak lagi terlalu loyal dengan organisasiku. Aku hanya doing business as usual! Alasannya, demotivasi!
Namun demikian, setiap tugas yang dibebankan selalu kulakukan dengan usahaku yang terbaik. Bagi sebagian orang, usaha seperti itu saja sudah luar biasa! Mereka masih menganggap kinerjaku sangat bagus. Padahal, dalam diriku kukatakan bahwa semua itu kulakukan tidak dengan sepenuh hati!
Aku mulai berfokus pada aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pundi-pundi keuanganku. Aku ngajar di beberapa tempat. Aku mulai berbisnis. Aku mulai mengembangkan usaha perusahaan kawanku, dan bahkan terlibat dalam usaha tersebut!
Tiap hari yang kupikirkan adalah memikirkan potensi-potensi usaha yang bisa kulakukan. Belum semuanya terrealisasi. Kendalanya: dana!
Tapi, paling tidak, aku sudah mulai membidik pontensi-potensi usaha yang bisa kulakukan bila nanti aku memiliki dana menganggur!
Jabatan ini sudah lama aku idam-idamkan. Sejak tahun 2009, seingatku!
Tahun itu aku sudah mengajukan usul agar aku bisa beralih ke fungsional kepada atasanku saat itu. Sayang, usulanku ditolak dengan alasan aku harus mencari pengalaman terlebih dahulu sebanyak-banyaknya di jalur struktural!
Akhirnya aku mengalah dan menyetujui alasan yang disampaikan atasanku saat itu. Sayangnya, hingga saat ini (belasan tahun kemudian) aku masih "terperangkap" di jalur struktural! Hiks....
Tahun ini sebenarnya ada kabar menggembirakan. Akan ada penerimaan widyaiswara. Aku pun sangat ingin mendaftar. Sayangnya, saat keinginan ini ku utarakan kepada atasanku, beliau menolak! Alasannya klasik. Aku masih dibutuhkan, katanya! Huks betapa sedihnya.........
Tapi aku tidak akan patah semangat. Bila pengumuman tersebut telah dilayangkan, aku akan datang khusus ke atasanku agar beliau berkenan mengizinkanku untuk ikut mendafar..... Semoga!!!!
Kini, semangatku sudah berbeda! Aku sudah tidak lagi terlalu loyal dengan organisasiku. Aku hanya doing business as usual! Alasannya, demotivasi!
Namun demikian, setiap tugas yang dibebankan selalu kulakukan dengan usahaku yang terbaik. Bagi sebagian orang, usaha seperti itu saja sudah luar biasa! Mereka masih menganggap kinerjaku sangat bagus. Padahal, dalam diriku kukatakan bahwa semua itu kulakukan tidak dengan sepenuh hati!
*
Aku lebih banyak mengurusi diriku sendiri saat ini. Maksudnya, aku sudah mulai self oriented! Aku sudah mulai memikirkan bagaimana masa depanku nantinya? Aku sudah tidak mau lagi mengandalkan kondisi kantor. Kantor bagiku hanyalah status! Penghasilan yang kuterima tiap bulan kuanggap sebagai kompensasi logis dari apa yang kulakukan selama ini. Aku sudah mulai banyak mencari peluang dan tantangan di tempat lain, selama masih bisa "kuatur" jadwal kantor rutin ku tersebut.Aku mulai berfokus pada aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pundi-pundi keuanganku. Aku ngajar di beberapa tempat. Aku mulai berbisnis. Aku mulai mengembangkan usaha perusahaan kawanku, dan bahkan terlibat dalam usaha tersebut!
Tiap hari yang kupikirkan adalah memikirkan potensi-potensi usaha yang bisa kulakukan. Belum semuanya terrealisasi. Kendalanya: dana!
Tapi, paling tidak, aku sudah mulai membidik pontensi-potensi usaha yang bisa kulakukan bila nanti aku memiliki dana menganggur!
*
Untuk mendukung angan-anganku itu, aku berharap bisa beralih profesi dari struktural ke jalur fungsional. Di tempatku bekerja, jabatan fungsional adalah widyaiswara. Pengajar diklat!Jabatan ini sudah lama aku idam-idamkan. Sejak tahun 2009, seingatku!
Tahun itu aku sudah mengajukan usul agar aku bisa beralih ke fungsional kepada atasanku saat itu. Sayang, usulanku ditolak dengan alasan aku harus mencari pengalaman terlebih dahulu sebanyak-banyaknya di jalur struktural!
Akhirnya aku mengalah dan menyetujui alasan yang disampaikan atasanku saat itu. Sayangnya, hingga saat ini (belasan tahun kemudian) aku masih "terperangkap" di jalur struktural! Hiks....
Tahun ini sebenarnya ada kabar menggembirakan. Akan ada penerimaan widyaiswara. Aku pun sangat ingin mendaftar. Sayangnya, saat keinginan ini ku utarakan kepada atasanku, beliau menolak! Alasannya klasik. Aku masih dibutuhkan, katanya! Huks betapa sedihnya.........
Tapi aku tidak akan patah semangat. Bila pengumuman tersebut telah dilayangkan, aku akan datang khusus ke atasanku agar beliau berkenan mengizinkanku untuk ikut mendafar..... Semoga!!!!
Tuesday, August 14, 2012
Pindah Lagee......Huff....
Dear all,
Tidak sampai 5 bulan di posisi saat ini, aku sudah mendapat info tentang pemindahan tugas kembali. Entah ada apa dengan pola mutasi di tempatku bekerja. Kalaupun aku tanya pada pengambil kebijakan, pastilah jawabanya sangat klise: sesuai dengan kebutuhan organisasi! Wakss.....(tempok jidat).
Betul bahwa mutasi-promosi adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh sebuah organisasi. Kata yang aku pilih adalah harus! bukan dapat! Karena memang sejatinya setiap individu dalam organisasi harus mendapatkan refreshing dalam pekerjaannya. Dan salah satu bentuk refreshing tersebut adalah mutasi. Bentuk refreshing lainnya, bisa berupa: pemberian cuti, mengirimkan pegawai pada sebuah pelatihan, memberikan tugas singkat ke daerah lain (perjalanan dinas), melakukan familiy gathering, dan sebagainya.
Hanya saja, pemindahtugasan atau pemutasian pun harus dilakukan dengan sebuah pola atau pattern. Sekali lagi, kata yang aku pakai adalah harus! Tanpa pola yang jelas akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan liar dalam diri anggota organisasi. Tanpa pola yang jelas juga akan memberikan ketidakpastian dalam penempatan dan lamanya penugasan. Bila ini terjadi, siap-siaplah untuk mendapatkan pola kinerja pegawai yang juga tidak jelas. Mereka yang tidak bisa menerima penjelasan yang rasional atas pemindahan dirinya ke suatu unit tugas, pada umumnya akan melakukan pekerjaan dengan setengah hati. Meskipun lambat laun bisa saja akhirnya pegawai yang bersangkutan akan tune-in dengan pekerjaannya. Hanya saja, di sini organisasi mengalami "kerugian" karena adanya waktu yang hilang antara kinerja yang setengah hati tadi hingga menjadi kinerja yang sungguh-sungguh. Pada organisasi pemerintah, para pengambil kebijakan bisa saja mengabaikan hal ini. Namun pada organisasi privat, hal tersebut akan sangat mengganggu kinerja organisasi secara keseluruhan.
Sebagai pengambil kebijakan, mereka dapat saja melakukan law enforcement kepada para pegawai yang lambat tune-in tersebut. Bahkan bisa saja hal tersebut dilakukan dengan disertai ancaman: take it or leave it! Kalau sudah begini, semua berpulan kepada si pegawai. Apakah ia memiliki kekuatan untuk melawan atau tidak. Yang memiliki kekuatan untuk melawan mungkin saja akan mengambil jalan ekstrim yaitu resign dari organisasi. Bayangkan kalau si pegawai tadi adalah pegawai potensial. Maka di sini, organisasi telah mengalami kerugian yang luar biasa!
Me-manage orang atau sumber daya manusia memang tidak mudah. Saya selalu mengungkapkan bahwa me-manage orang itu adalah pekerjaan yang paling sulit dalam organisasi! Karena kita harus berhadapan dengan makhluk yang memiliki perasaan dan logika. Mereka tidak bisa seenaknya diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan sebuah benda. Bila kita melakukan hal tersebut, bersiaplah mendapat respon balik dari mereka. Respon tersebut bisa berupa respon positif maupun negatif.
So, siapapun Anda yang sedang berada pada posisi pengambil kebijakan, pikirkanlah secara matang langkah yang Anda tempuh. Berpikirlah secara menyeluruh. Jangan parsial atau setengah-setengah. Jadikan kewenangan yang ada pada diri Anda untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dengan mampu memetakan kompetensi seluruh pegawai untuk kemudian menempatkan mereka sesuai dengan kompetensinya. The right man on the right place adalah ungkapan yang sangat tepat dalam pengelolaan sumber daya manusia. Kepekaan pengambil kebijakan sangat diharapkan untuk dapat melakukan hal tersebut!
Tangsel, 14 Agustus 2012
Wednesday, August 01, 2012
Kegagalan itu berhenti mencoba
(Note: Tulisan ini saya ambil dari blog adik saya yang telah wafat pada 5 April 2011 lalu karena sebuah kecelakaan jalan raya. Saya angkat dalam blog saya, untuk mengenang kegigihannya dalam menggapai cita-citanya yang sangat mulia.....)
Tidak ada kesuksesan tanpa Perubahan
Tidak ada Perubahan tanpa Mencoba cara baru dalam kesuksesan
Mencoba dan mencari cara atau formula untuk sukses tidaklah semudah yang kita fikirkan. Seringkali ada hambatan. Seringkali ada tantangan. Seringkali ada cemoohan. Terlebih ketika cara atau formula dipandang berbeda dan penuh kreasi baru. Tak sedikit dari orang lama yang menginginkan ketetapan kenyamanan. Tak sedikit yang menentang demi mempertahankan kenyamanan yang sudah ada. Namun ketika seseorang atau suatu organisasi berhenti mencoba untuk mencari cara baru , berhenti mencoba untuk sukses atau bahkan berhenti mencoba karena sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki sekarang maka kegagalan lah yang sudah pasti dialaminya
Kenapa kita berhenti mencoba? Ada banyak alas an bagi seseorang berhenti mencoba cara-cara baru untuk kesuksesan mereka. Padahal Einstein pernah berkata bahwa suatu kegilaan bagi mereka yang menginginkan hasil yang berbeda namun masih menggunakan cara-cara lama. Sedangkan mereka tidak mampu dan berani mencoba cara-cara baru karena ketakutannya. Berikut adalah beberapa alasan seseorang/organisasi berhenti mencoba yang mungkin juga sedang anda alami saat ini.
1. Mencoba seperti judi tidak pernah memberikan hasil yang tak pasti
Mencoba memang tidak pernah memberikan kepastian jawaban/hasil. Mungkin benar mencoba seperti judi,dimana anda bisa kalah akan tetapi dengan mencoba cara baru anda juga bisa mendapat formula sukses terbaru sehingga anda mampu menjadi seorang pemenang. Namun ketika anda berhenti mencoba, maka yakinilah bahwa kekalahan dan kegagalan sudah terjadi pada diri anda
2. Mencoba akan menghancurkan kenyamanan yang sudah ada
Mencoba tentunya bukan berarti membabi buta. Mencoba dengan perhitungan justru menyelamatkan kenyamanan yang sudah ada. Dengan mencoba hal-hal baru yang didukung dengan ilmu pengetahuan mempertahankan bahkan memperbesar tingkat kenyamanan anda. Bukankah ketika anda semakin sukses anda akan lebih nyaman? Ataukah anda sudah cukup puas dengan keadaan sekarang? Sehingga anda terlenakan
3. Mencoba membutuhkan effort yang sangat besar
Effort yang sangat besar diperlukan untuk sebuah mencoba hal-hal baru untuk sebuah perubahaan. Namun akan lebih besar effort yang akan anda alami. Ketika anda telah menyadari bahwa kegagalan dan kekalahan telah diderita. Karena anda telah kalah langkah dari competitor anda. Karena anda telah tersingkirkan oleh dunia karena anda tidak mau mencoba dan berubah menuju kesuksesan berikutnya. Orang/Organisasi yang diam dan tak mau membuat perubahan tak ubahnya seperti air danau yang diam dan tak mengalir . Cepat atau lambat nyamuk akan bersarang di dalamnya.
4. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mencoba
Orang sukses tak pernah kehilangan waktu untuk mencoba. Karena bagi orang sukses kematian lah akhir waktu untuk mencoba. Betapa banyak organisasi yang bersikukuh keras tidak mau mencoba cara baru demi menyelamatkan pasar mereka malah akhirnya kehilangan pasar yang sudah ada. Karena pasar tersebut telah diraih oleh competitor mereka yang menggunakan cara-cara baru dalam dunia usaha.
Mencoba, atau Inovasi atau mencari cara-cara baru dalam sebuah usaha/persaingan bisnis adalah hal yang mutlak harus dilakukan menuju kesuksesan. Bahkan bagi individu pun demikian juga. Ketika seorang karyawan tidak memiliki inovasi dalam pekerjaannya apakah mungkin ada perubahan dalam karirnya selain berharap kepada atasan untuk menaikkan jenjang mereka. Justru karyawan yang kemudian berinovasi kemudian berani menjadi pengusaha yang menjadi sukses pada akhirnya.Justru karyawan yang memiliki ide kreatif dalam perusahaan yang menjadikan karyawan tersebut menjadi kepercayaan perusahaan sehingga memuluskan jalannya menuju kesuksesan yang diharapkan.
Jangan Pernah Menyerah untuk Mencoba-cara baru. Tetap Semangat untuk Inovasi.
Karena Berhenti Mencoba adalah kegagalan yang nyata maka Tetap Mencoba dan Inovasi tinggi pastilah mendatangkan Kesuksesan
Salam Berbagi senantiasa
A. Setiawan
Keep on Smile to Face the World
Life Learner,Trainer & Motivator
Certified Master NLP &Hypnotist
021- 4029 4912 | 08888962555
YM: listant2000 || FB: Iwan Ketan
Tidak ada kesuksesan tanpa Perubahan
Tidak ada Perubahan tanpa Mencoba cara baru dalam kesuksesan
Mencoba dan mencari cara atau formula untuk sukses tidaklah semudah yang kita fikirkan. Seringkali ada hambatan. Seringkali ada tantangan. Seringkali ada cemoohan. Terlebih ketika cara atau formula dipandang berbeda dan penuh kreasi baru. Tak sedikit dari orang lama yang menginginkan ketetapan kenyamanan. Tak sedikit yang menentang demi mempertahankan kenyamanan yang sudah ada. Namun ketika seseorang atau suatu organisasi berhenti mencoba untuk mencari cara baru , berhenti mencoba untuk sukses atau bahkan berhenti mencoba karena sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki sekarang maka kegagalan lah yang sudah pasti dialaminya
Kenapa kita berhenti mencoba? Ada banyak alas an bagi seseorang berhenti mencoba cara-cara baru untuk kesuksesan mereka. Padahal Einstein pernah berkata bahwa suatu kegilaan bagi mereka yang menginginkan hasil yang berbeda namun masih menggunakan cara-cara lama. Sedangkan mereka tidak mampu dan berani mencoba cara-cara baru karena ketakutannya. Berikut adalah beberapa alasan seseorang/organisasi berhenti mencoba yang mungkin juga sedang anda alami saat ini.
1. Mencoba seperti judi tidak pernah memberikan hasil yang tak pasti
Mencoba memang tidak pernah memberikan kepastian jawaban/hasil. Mungkin benar mencoba seperti judi,dimana anda bisa kalah akan tetapi dengan mencoba cara baru anda juga bisa mendapat formula sukses terbaru sehingga anda mampu menjadi seorang pemenang. Namun ketika anda berhenti mencoba, maka yakinilah bahwa kekalahan dan kegagalan sudah terjadi pada diri anda
2. Mencoba akan menghancurkan kenyamanan yang sudah ada
Mencoba tentunya bukan berarti membabi buta. Mencoba dengan perhitungan justru menyelamatkan kenyamanan yang sudah ada. Dengan mencoba hal-hal baru yang didukung dengan ilmu pengetahuan mempertahankan bahkan memperbesar tingkat kenyamanan anda. Bukankah ketika anda semakin sukses anda akan lebih nyaman? Ataukah anda sudah cukup puas dengan keadaan sekarang? Sehingga anda terlenakan
3. Mencoba membutuhkan effort yang sangat besar
Effort yang sangat besar diperlukan untuk sebuah mencoba hal-hal baru untuk sebuah perubahaan. Namun akan lebih besar effort yang akan anda alami. Ketika anda telah menyadari bahwa kegagalan dan kekalahan telah diderita. Karena anda telah kalah langkah dari competitor anda. Karena anda telah tersingkirkan oleh dunia karena anda tidak mau mencoba dan berubah menuju kesuksesan berikutnya. Orang/Organisasi yang diam dan tak mau membuat perubahan tak ubahnya seperti air danau yang diam dan tak mengalir . Cepat atau lambat nyamuk akan bersarang di dalamnya.
4. Sudah tidak ada waktu lagi untuk mencoba
Orang sukses tak pernah kehilangan waktu untuk mencoba. Karena bagi orang sukses kematian lah akhir waktu untuk mencoba. Betapa banyak organisasi yang bersikukuh keras tidak mau mencoba cara baru demi menyelamatkan pasar mereka malah akhirnya kehilangan pasar yang sudah ada. Karena pasar tersebut telah diraih oleh competitor mereka yang menggunakan cara-cara baru dalam dunia usaha.
Mencoba, atau Inovasi atau mencari cara-cara baru dalam sebuah usaha/persaingan bisnis adalah hal yang mutlak harus dilakukan menuju kesuksesan. Bahkan bagi individu pun demikian juga. Ketika seorang karyawan tidak memiliki inovasi dalam pekerjaannya apakah mungkin ada perubahan dalam karirnya selain berharap kepada atasan untuk menaikkan jenjang mereka. Justru karyawan yang kemudian berinovasi kemudian berani menjadi pengusaha yang menjadi sukses pada akhirnya.Justru karyawan yang memiliki ide kreatif dalam perusahaan yang menjadikan karyawan tersebut menjadi kepercayaan perusahaan sehingga memuluskan jalannya menuju kesuksesan yang diharapkan.
Jangan Pernah Menyerah untuk Mencoba-cara baru. Tetap Semangat untuk Inovasi.
Karena Berhenti Mencoba adalah kegagalan yang nyata maka Tetap Mencoba dan Inovasi tinggi pastilah mendatangkan Kesuksesan
Salam Berbagi senantiasa
A. Setiawan
Keep on Smile to Face the World
Life Learner,Trainer & Motivator
Certified Master NLP &Hypnotist
021- 4029 4912 | 08888962555
YM: listant2000 || FB: Iwan Ketan
Subscribe to:
Posts (Atom)

