Pukul 10.22 wib hape ku berbunyi tanda sebuah sms masuk. Segera kuangkat hape dan kulihat isi pesan tersebut. Aku dan keluarga yang lain memang tidak bisa menyaksikan pemakaman tersebut. Namun mendengar beliau telah dimakamkan, hatiku sangat lega. Ibunda kami telah berpulang kemarin pagi. Saat mendapat kabar kepulangannya aku sedang berada di kantor kanwil pajak di bekasi. (To be continued) Di atas bus, 31 Oktober 2014 |
Friday, October 31, 2014
Selamat Jalan Ibunda Tercinta
Friday, October 17, 2014
Portrait dalam berbagai aktivitas
Ini adalah kumpulan foto yang aku peroleh dari hasil sercing di gugel.
Lumayan buat nambah koleksi hehehee
Lumayan buat nambah koleksi hehehee
![]() |
| Bersama Kepala KPKNL Pontianak, Bp Samsudin (September 2014) |
| Di KPKNL Samarinda (Oktober 2014) |
| Di KPKNL Semarang bersama Kepala Kanwil dan Kepala KPKNL |
| di KPKNL Makassar (Oktober 2014) |
![]() |
| Pada pembukaan diklat DKK Kreativitas dan Inovasi (2013) |
Samarinda dan Balikpapan
Senin, 6 Oktober 2014, lewat pukul 11 siang pesawat yang kami tumpangi mengangkasa menuju bandara Balikpapan. Kali ini aku bepergian dengan 4 orang teman dari Ditjen Kekayaan Negara. Tiga orang wanita dan satu orang laki-laki.
Sudah cukup lama aku tidak ke Balikpapan. Ada rasa penasaran seperti apakah kota ini kini?
Uniknya, beberapa waktu lalu saat aku akan bertugas ke Sidoarjo, aku membayangkan ingin sekali melihat bandara Balikpapan yang saat itu baru saja diresmikan oleh Presiden SBY. Dan kini, harapan itu terwujud.
Menjelang pukul 2 siang waktu Indonesia bagian tengah, kami mendarat di bandara Sepinggan.
Kami tidak memerlukan waktu lama untuk menunggu kedatangan bagasi. Sangat berbeda dengan kondisi di bandara Soekarno Hatta. Pengambilan bagasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan menyita kesabaran kita.
Di area luar kedatangan sudah menunggu seorang pegawai KPKNL Samarinda yang memang ditugaskan untuk menjemput kami. Namanya mas Adi.
Kami pun segera meluncur menuju Samarinda.
Perjalanan menuju ibukota Kalimantan Timur ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Area yang dilalui berupa jalan lurus yang terkadang berbelok. Sebagian besar kontur tanahnya bergelombang.
Menjelang kota Samarinda ada jalan di tengah hutan yang sangat terkenal, yaitu jalan bukit Soeharto.
Kondisinya mirip-mirip dengan Alas Roban di Jawa Tengah. Bedanya, tidak ada tanjakan terjal. Yang ada hanya jalan berliku dan bergelombang.
Menjelang Isya kami tiba di Samarinda. Kami langsung menuju kantor KPKNL yang terletak di pinggi jalan utama yang berada di pinggir sungai Mahakam.
Kantor ini tidak terlalu besar. Bangunannya pun terkesan sederhana.
Rupanya gedung kantor ini masih berstatus sewa. Sungguh miris! KPKNL yang salah satu tugas utamanya mengurusi aset-aset pemerintah (Barang Milik Negara atau biasa disingkat BMN) ternyata bangunan kantornya masih menyewa!
Sebelum menuju hotel, kami makan malam di sebuah rumah makan sea food yang cukup ramai. Namanya rumah makan BEMO. Singkatan dari Bersih, Enak, Murah, dan Oke!
Begitu melihat ada tom yam di daftar menu, aku segera memesannya.
Kami menginap di sebauh hotel bintang 3: Dragon hotel. Kami menginap di sini karena besok acara in-house training dilaksanakan juga di tempat ini.
Gedung kantor belum memiliki ruang rapat atau aula yang memadai.
Selasa pagi, setelah sarapan aku segera bersiap menuju ruang meeting. Kupersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan pemberian materi hari ini.
Setelah ku cek semua, ada satu yang kurang bagus dari fasilitas hotel ini, yaitu sound system untuk laptop.
Entah pada bagian mana yang rusak, suara yang dimunculkan dari laptop hanya berupa suara mono.
Acara berlangsung satu hari penuh. Peserta pelatihan cukup aktif mengikuti setiap sesi yang kami berikan. Kepuasan setelah pemberian materi tentu saja menjadi hal penting bagi diriku.
Kebersamaan satu hari dengan penuh canda tawa membekas di benakku.
Kondisi yang sama selalu aku alami tiap kali aku mengunjungi kantor-kantor seperti ini.
Esok hari, setelah menyempatkan berkeliling kota Samarinda, kami kembali menuju Balikpapan. Kali ini kami dijemput oleh pegawai dari KPKNL Balikpapan yang menyengajakan diri untuk menjemput kami.
Setelah sholat Dhuhur kami meninggalkan kota Samarinda yang panas dan penuh dengan debu.
Kami sempat cukup lama mengantri dalam iringan kendaraan yang akan melintasi jembatan sungai Mahakam.
Jembatan yang lebarnya sekitar 7 meter tersebut membuat setiap kendaraan yang melaju harus rela mengantre. Sepertinya pemda setempat kurang peka dengan kebutuhan jembatan yang lebih besar dan lebih layak mengingat jembatan ini adalah jembatan terdekat yang menghubungkan Samarinda dengan daerah-daerah lain di bagian Selatan, termasuk Balikpapan.
Tak terbayangkan seandainya jembatan ini rubuh. Pastilah ritme lalu lintas barang dan orang akan sangat terganggu.
Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mampir di peristirahatan di dekat bukit Soeharto. Kabarnya, tempat peristirahatan ini memiliki posisi di tengah-tengah antara Samarinda dan Balikpapan.
Papan plang besar tahu Sumedang terpampang di kedua sisi jalan.
Sore itu cukup banyak kendaraan yang mampir untuk beristirahat dan menikmati semilirnya angin di sana.
Menjelang magrib kami tiba di Balikpapan. Kami segera menuju hotel Mega Lestari yang memang sudah di booking kan untuk kami.
Jam delapan malam kami dijemput kembali untuk menikmati makan malam dan keramaian kota minyak ini di malam hari.
Suasana jalan raya cukup ramai karena kebetulan malam itu adalah malam rabu gaul. Sebuah istilah yang sudah digunakan di kota ini cukup lama. Sebuah istilah untuk menyamakan dengan malam minggu sebagai malam berkumpulnya kaum muda mudi.
Malam ini aku sulit tertidur. Padahal sekujur badanku terasa sangat lelah.
Untuk mencari kantuk, kupaksakan menonton sebuah acara TV yang isinya menjemukan.
Tak lama kemudian aku pun terlelap dalam mimpi.
Esok paginya, sebuah dering telpon dari hape membuatku terperanjat bangun!
Saat melihat angka jam pada hape tersebut aku segera melompat dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.
Ya, aku kesiangan! Kedua telingaku tertutup oleh jin-jin yang membuatku kehilangan untuk menunaikan sholat subuh. Hiks.
Aku bergegas menyikat gigi, mandi, berpakaian, dan merapikan pakaian untuk dimasukkan dalam koper.
Semua kulakukan dengan segera!
Dengan kondisi yang masih menahan kantuk, aku segera mengurus check out dan bergabung dengan teman-teman ku yang sudah menunggu ku cukup lama.
Tanpa sarapan pagi, aku dan teman-teman segera meluncur menuju kantor KPKNL Balikpapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel.
Seharian aku memberikan materi yang sama dengan materi yang kuberikan pada teman-teman di Samarinda.
"Sentuhan" saja yang kubedakan. Karena "sentuhan" sangat bergantung pada atmosfir yang ada di masing-masing kantor.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Meskipun saat di siang hari, bingkai kacamata ku patah.
Di sesi siang hingga sore pandanganku kabur untuk melihat jarak yang hanya 2-3 meter saja.
Tanpa mengurangi semangatku, aku tetap melakukan semuanya secara normal. Seolah-olah aku bisa melihat mereka dengan baik hehehe...
Sore hari aku dijemput seorang sahabat baikku yang sudah 3 tahun bertugas di Balikpapan. Ia temanku saat SMA dan juga kuliah. Saat siang tadi aku telpon bahwa aku sedang berada di Balikpapan, ia segera merespon untuk menjemputku.
Pertemuan kami tidak bisa berlangsung lama. Karena malam ini aku harus kembali ke Jakarta.
Aku hanya sempat memintanya mengantarku ke sebuah optik untuk memasang kontak lens agar pandanganku tidak kabur.
Ini adalah pertama kalinya aku memakai kontak lens. Ribet dan terasa mengganjal di kelopak mata.
Setelah mampir sejenak di sebuah rumah makan yang menjual kepiting dengan berbagai olahan rasa, kami segera menuju bandara yang kini nampak megah.
Sudah cukup lama aku tidak ke Balikpapan. Ada rasa penasaran seperti apakah kota ini kini?
Uniknya, beberapa waktu lalu saat aku akan bertugas ke Sidoarjo, aku membayangkan ingin sekali melihat bandara Balikpapan yang saat itu baru saja diresmikan oleh Presiden SBY. Dan kini, harapan itu terwujud.
Menjelang pukul 2 siang waktu Indonesia bagian tengah, kami mendarat di bandara Sepinggan.
Kami tidak memerlukan waktu lama untuk menunggu kedatangan bagasi. Sangat berbeda dengan kondisi di bandara Soekarno Hatta. Pengambilan bagasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan menyita kesabaran kita.
Di area luar kedatangan sudah menunggu seorang pegawai KPKNL Samarinda yang memang ditugaskan untuk menjemput kami. Namanya mas Adi.
Kami pun segera meluncur menuju Samarinda.
Perjalanan menuju ibukota Kalimantan Timur ini membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Area yang dilalui berupa jalan lurus yang terkadang berbelok. Sebagian besar kontur tanahnya bergelombang.
Menjelang kota Samarinda ada jalan di tengah hutan yang sangat terkenal, yaitu jalan bukit Soeharto.
Kondisinya mirip-mirip dengan Alas Roban di Jawa Tengah. Bedanya, tidak ada tanjakan terjal. Yang ada hanya jalan berliku dan bergelombang.
Menjelang Isya kami tiba di Samarinda. Kami langsung menuju kantor KPKNL yang terletak di pinggi jalan utama yang berada di pinggir sungai Mahakam.
Kantor ini tidak terlalu besar. Bangunannya pun terkesan sederhana.
Rupanya gedung kantor ini masih berstatus sewa. Sungguh miris! KPKNL yang salah satu tugas utamanya mengurusi aset-aset pemerintah (Barang Milik Negara atau biasa disingkat BMN) ternyata bangunan kantornya masih menyewa!
Sebelum menuju hotel, kami makan malam di sebuah rumah makan sea food yang cukup ramai. Namanya rumah makan BEMO. Singkatan dari Bersih, Enak, Murah, dan Oke!
Begitu melihat ada tom yam di daftar menu, aku segera memesannya.
Kami menginap di sebauh hotel bintang 3: Dragon hotel. Kami menginap di sini karena besok acara in-house training dilaksanakan juga di tempat ini.
Gedung kantor belum memiliki ruang rapat atau aula yang memadai.
Selasa pagi, setelah sarapan aku segera bersiap menuju ruang meeting. Kupersiapkan segala sesuatu yang terkait dengan pemberian materi hari ini.
Setelah ku cek semua, ada satu yang kurang bagus dari fasilitas hotel ini, yaitu sound system untuk laptop.
Entah pada bagian mana yang rusak, suara yang dimunculkan dari laptop hanya berupa suara mono.
Acara berlangsung satu hari penuh. Peserta pelatihan cukup aktif mengikuti setiap sesi yang kami berikan. Kepuasan setelah pemberian materi tentu saja menjadi hal penting bagi diriku.
Kebersamaan satu hari dengan penuh canda tawa membekas di benakku.
Kondisi yang sama selalu aku alami tiap kali aku mengunjungi kantor-kantor seperti ini.
![]() |
| Sebagian karya teman2 KPKNL Samarinda |
![]() |
| Sebagian karya teman2 KPKNL Samarinda |
Esok hari, setelah menyempatkan berkeliling kota Samarinda, kami kembali menuju Balikpapan. Kali ini kami dijemput oleh pegawai dari KPKNL Balikpapan yang menyengajakan diri untuk menjemput kami.
Setelah sholat Dhuhur kami meninggalkan kota Samarinda yang panas dan penuh dengan debu.
Kami sempat cukup lama mengantri dalam iringan kendaraan yang akan melintasi jembatan sungai Mahakam.
Jembatan yang lebarnya sekitar 7 meter tersebut membuat setiap kendaraan yang melaju harus rela mengantre. Sepertinya pemda setempat kurang peka dengan kebutuhan jembatan yang lebih besar dan lebih layak mengingat jembatan ini adalah jembatan terdekat yang menghubungkan Samarinda dengan daerah-daerah lain di bagian Selatan, termasuk Balikpapan.
Tak terbayangkan seandainya jembatan ini rubuh. Pastilah ritme lalu lintas barang dan orang akan sangat terganggu.
Di tengah perjalanan kami menyempatkan diri mampir di peristirahatan di dekat bukit Soeharto. Kabarnya, tempat peristirahatan ini memiliki posisi di tengah-tengah antara Samarinda dan Balikpapan.
Papan plang besar tahu Sumedang terpampang di kedua sisi jalan.
Sore itu cukup banyak kendaraan yang mampir untuk beristirahat dan menikmati semilirnya angin di sana.
Menjelang magrib kami tiba di Balikpapan. Kami segera menuju hotel Mega Lestari yang memang sudah di booking kan untuk kami.
Jam delapan malam kami dijemput kembali untuk menikmati makan malam dan keramaian kota minyak ini di malam hari.
Suasana jalan raya cukup ramai karena kebetulan malam itu adalah malam rabu gaul. Sebuah istilah yang sudah digunakan di kota ini cukup lama. Sebuah istilah untuk menyamakan dengan malam minggu sebagai malam berkumpulnya kaum muda mudi.
Malam ini aku sulit tertidur. Padahal sekujur badanku terasa sangat lelah.
Untuk mencari kantuk, kupaksakan menonton sebuah acara TV yang isinya menjemukan.
Tak lama kemudian aku pun terlelap dalam mimpi.
Esok paginya, sebuah dering telpon dari hape membuatku terperanjat bangun!
Saat melihat angka jam pada hape tersebut aku segera melompat dari tempat tidur dan segera menuju kamar mandi.
Ya, aku kesiangan! Kedua telingaku tertutup oleh jin-jin yang membuatku kehilangan untuk menunaikan sholat subuh. Hiks.
Aku bergegas menyikat gigi, mandi, berpakaian, dan merapikan pakaian untuk dimasukkan dalam koper.
Semua kulakukan dengan segera!
Dengan kondisi yang masih menahan kantuk, aku segera mengurus check out dan bergabung dengan teman-teman ku yang sudah menunggu ku cukup lama.
Tanpa sarapan pagi, aku dan teman-teman segera meluncur menuju kantor KPKNL Balikpapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari hotel.
Seharian aku memberikan materi yang sama dengan materi yang kuberikan pada teman-teman di Samarinda.
"Sentuhan" saja yang kubedakan. Karena "sentuhan" sangat bergantung pada atmosfir yang ada di masing-masing kantor.
Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Meskipun saat di siang hari, bingkai kacamata ku patah.
Di sesi siang hingga sore pandanganku kabur untuk melihat jarak yang hanya 2-3 meter saja.
Tanpa mengurangi semangatku, aku tetap melakukan semuanya secara normal. Seolah-olah aku bisa melihat mereka dengan baik hehehe...
![]() |
| Sebagian karya teman2 KPKNL Balikpapan |
![]() |
| Sebagian karya teman2 KPKNL Balikpapan |
Sore hari aku dijemput seorang sahabat baikku yang sudah 3 tahun bertugas di Balikpapan. Ia temanku saat SMA dan juga kuliah. Saat siang tadi aku telpon bahwa aku sedang berada di Balikpapan, ia segera merespon untuk menjemputku.
![]() |
| Bersama sahabatku, Wignyo Purwodo |
Pertemuan kami tidak bisa berlangsung lama. Karena malam ini aku harus kembali ke Jakarta.
Aku hanya sempat memintanya mengantarku ke sebuah optik untuk memasang kontak lens agar pandanganku tidak kabur.
Ini adalah pertama kalinya aku memakai kontak lens. Ribet dan terasa mengganjal di kelopak mata.
Setelah mampir sejenak di sebuah rumah makan yang menjual kepiting dengan berbagai olahan rasa, kami segera menuju bandara yang kini nampak megah.
Tuesday, September 23, 2014
Sidoarjo: LDP dan Hotel Utami
Ini kisah minggu lalu yang tidak sempat saya tulis.
Kenapa nggak bisa ditulis? Pertama, akses internet di hotel tempatku menginap nggak asik banget. Kedua, penyakit lazim yaitu malas!
Minggu lalu aku mendapat penugasan kembali untuk memberikan materi pada sebuah pelatihan. Kali ini sasarannya adalah rekan-rekan dari Ditjen Pajak di lingkungan Kanwil Jawa Timur II.
Pelatihan yang bertajuk Leadership Develpoment Progam (LDP) ini adalah pelatihan ke-4 yang aku kunjungi. Daerah sebelumnya adalah Medan, Bandung, dan Pekanbaru.
Pemateri memang bukan aku seorang diri. Banyak pemateri yang handal yang dimiliki oleh unit tempatku bekerja.
Di pelatihan kali ini pun aku tidak seorang diri. Selain didampingi oleh seorang asisten (rekan kerja), aku sebenarnya hanya mendampingi atasanku yang memberikan materi pada hari pertama. Hari kedua dan ketiga sepenuhnya aku yang mengisinya.
Pelatihan tersebut berjalan lancar. Pesimisme yang awalnya ada di sebagian diri peserta berubah menjadi sebuah optimisme. Wajah yang semula terlihat enggan, berakhir dengan wajah bersemangat nan ceria.
Puas rasanya bisa memberikan sharing pengalaman dan pengetahuan bersama mereka!
Selama Sidoarjo aku menginap di sebuah hotel yang berjarak kurang lebih 1 km dari lokasi pelatihan. Nama hotel itu adalah Hotel Utami.
Saat melihat struktur bangunan yang besar dan kokoh aku tersenyum lega karena aku pikir akan bisa menikmati suasana istirahat yang nyaman. Apalagi setelah mengetahui rate kamar yang terbilang cukup mahal.
Sayangnya, apa yang kupikirkan tidak terjadi sama sekali. Suasana hotel tidak sesuai dengan yang kubayangkan. Saat memasuki kamar kelas eksekutif, pencahayaan kamar kurang. Kesan redup di dalam kamar nampak terasa. Saat ku buka gorden jendela, yang nampak adalah tembok! Tak ada pemandangan sama sekali!
Aku semakin kecewa ketika akhirnya mengetahui bahwa di ruangan itu sinyal hape sangat lemah. Bahkan kadang cenderung timbul tenggelam!
Aku segera menuju lobbi. Kutanyakan kepada petugas di sana apakah ada wifi di dalam kamar. Kupikir kalau ada wifi, hape ku akan tetap dapat difungsikan.
Jawaban petugas resepsionis membuatku semakin kecewa. Mereka mengatakan bahwa wifi hanya ada di sekitar lobi!
Huff..... di era digital seperti ini ternyata masih ada hotel yang tidak memiliki wifi di kamar pengunjung! Menyedihkan!
Hotel ini kalah dengan hotel di Singkawang, Kalimantan Barat, gerutuku!
Singkawang yang hanya sebuah kota kecil dan berada di ujung barat Kalimantan Barat saja masih mampu menyediakan wifi di kamar. Kok ini sebuah hotel yang dekat dengan bandara Juanda malah nggak punya wifi??!!!
Tiga malam berada di hotel tersebut benar-benar membuat mood ku hilang. Tak ada gairah sama sekali.
Bila malam datang, waktu kuhabiskan dengan membuka laptop di area restoran yang berdekatan dengan lobi hotel sambil menyantap menu makanan yang seadanya.
Ingin keluar hotel, percuma! Tak ada tempat makan representatif yang ada di dekat hotel. Lokasinya benar-benar tidak strategis bila kita ingin menikmati malam dengan berjalan kaki di sekitar hotel!
Kenapa nggak bisa ditulis? Pertama, akses internet di hotel tempatku menginap nggak asik banget. Kedua, penyakit lazim yaitu malas!
Minggu lalu aku mendapat penugasan kembali untuk memberikan materi pada sebuah pelatihan. Kali ini sasarannya adalah rekan-rekan dari Ditjen Pajak di lingkungan Kanwil Jawa Timur II.
Pelatihan yang bertajuk Leadership Develpoment Progam (LDP) ini adalah pelatihan ke-4 yang aku kunjungi. Daerah sebelumnya adalah Medan, Bandung, dan Pekanbaru.
Pemateri memang bukan aku seorang diri. Banyak pemateri yang handal yang dimiliki oleh unit tempatku bekerja.
Di pelatihan kali ini pun aku tidak seorang diri. Selain didampingi oleh seorang asisten (rekan kerja), aku sebenarnya hanya mendampingi atasanku yang memberikan materi pada hari pertama. Hari kedua dan ketiga sepenuhnya aku yang mengisinya.
Pelatihan tersebut berjalan lancar. Pesimisme yang awalnya ada di sebagian diri peserta berubah menjadi sebuah optimisme. Wajah yang semula terlihat enggan, berakhir dengan wajah bersemangat nan ceria.
Puas rasanya bisa memberikan sharing pengalaman dan pengetahuan bersama mereka!
Selama Sidoarjo aku menginap di sebuah hotel yang berjarak kurang lebih 1 km dari lokasi pelatihan. Nama hotel itu adalah Hotel Utami.
Saat melihat struktur bangunan yang besar dan kokoh aku tersenyum lega karena aku pikir akan bisa menikmati suasana istirahat yang nyaman. Apalagi setelah mengetahui rate kamar yang terbilang cukup mahal.
Sayangnya, apa yang kupikirkan tidak terjadi sama sekali. Suasana hotel tidak sesuai dengan yang kubayangkan. Saat memasuki kamar kelas eksekutif, pencahayaan kamar kurang. Kesan redup di dalam kamar nampak terasa. Saat ku buka gorden jendela, yang nampak adalah tembok! Tak ada pemandangan sama sekali!
Aku semakin kecewa ketika akhirnya mengetahui bahwa di ruangan itu sinyal hape sangat lemah. Bahkan kadang cenderung timbul tenggelam!
Aku segera menuju lobbi. Kutanyakan kepada petugas di sana apakah ada wifi di dalam kamar. Kupikir kalau ada wifi, hape ku akan tetap dapat difungsikan.
Jawaban petugas resepsionis membuatku semakin kecewa. Mereka mengatakan bahwa wifi hanya ada di sekitar lobi!
Huff..... di era digital seperti ini ternyata masih ada hotel yang tidak memiliki wifi di kamar pengunjung! Menyedihkan!
Hotel ini kalah dengan hotel di Singkawang, Kalimantan Barat, gerutuku!
Singkawang yang hanya sebuah kota kecil dan berada di ujung barat Kalimantan Barat saja masih mampu menyediakan wifi di kamar. Kok ini sebuah hotel yang dekat dengan bandara Juanda malah nggak punya wifi??!!!
Tiga malam berada di hotel tersebut benar-benar membuat mood ku hilang. Tak ada gairah sama sekali.
Bila malam datang, waktu kuhabiskan dengan membuka laptop di area restoran yang berdekatan dengan lobi hotel sambil menyantap menu makanan yang seadanya.
Ingin keluar hotel, percuma! Tak ada tempat makan representatif yang ada di dekat hotel. Lokasinya benar-benar tidak strategis bila kita ingin menikmati malam dengan berjalan kaki di sekitar hotel!
Wednesday, September 10, 2014
Singkawang, Singgah Kawin Pulang..... ^^
Saat aku ditawari memberikan materi In-House Training (IHT) untuk teman-teman di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Singkawang hatiku langsung ke pincut. Aku segera melihat jadwal kegiatanku di kantor pada minggu kedua. Alhamdulillah, kegiatanku di minggu itu bisa di handle oleh kawan-kawan di kantorku. Jadilah aku segera mengiyakan tentang tawaran tersebut. Tentu saja dengan catatan: diizinkan oleh pimpinanku!
Kata Singkawang adalah sebuah kata yang tidak asing bagiku. Sering sekali mendengarnya tapi belum sekalipun aku kunjungi. Dalam benakku kota ini terkenal dengan "ke-cainis-an" nya. Seolah-olah, Singkawang identik dengan keturunan Tiongkok. Ternyata aku keliru! Karena faktanya, di kota ini ada 3 suku mayoritas yang bermukim, yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu! Sisanya adalah pendatang yang umumnya adalah suku Jawa.
Perjalanan dari Pontianak ke Singkawang dilakukan via darat. Aku dan kedua teman dari Ditjen Kekayaan Negara dijemput oleh 3 orang rekan dari KPKNL Singkawang. Pertanyaan pertama yang langsung kami ajukan adalah "berapa lama menuju Singkawang?" Sebuah pertanyaan standar bagi mereka yang belum pernah melakukannya.Salah seorang penjemput menjawab bahwa perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung kecepatan mobil yang dibawa.
Jalan menuju Singkawang, kota yang berada di Barat Laut Pontianak, lumayan bagus menurutku. Jalanan aspal sangat mulus meski kadang bergelombang.
Kami sempat makan siang di Mempawah, kota kecil yang berada di tengah-tengah antara Pontianak - Singkawang.
Saat tiba di Singkawang, tidak ada keramaian yang nampak di sisi kiri dan kanan jalan. Seperti yang kuduga, kota ini sangat kecil. Bila dibandingkan dengan kota di pulau Jawa, maka kota ini mungkin setara dengan sebuah kecamatan!
Inilah Indonesiaku....meski kota ini terkenal dan sudah berusia lama namun pembangunan tetap saja tidak tersentuh oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dengan pulau luar Jawa sangat kentara!
Aku jadi teringat kota Sumbawa di Nusa Tenggara yang aku kunjungi tahun lalu. Nah, kurang lebih tingkat keramaiannya hampir sama.
Kota tua ini memang meninggalkan beberapa bangunan-bangunan tua ala Tiongkok di beberapa sudut kota. Meski mayoritas penduduk adalah keturuan Tionghoa namun bangunan masjid yang cukup besar juga ada di sini. Itu karena penduduk lain yang juga mayoritas bermukim di sini adalah suku Melayu.
Kota ini terlihat sangat tenang. Temanku yang sudah cukup lama penempatan tugas di sini memang mengatakan bahwa kota Singkawang termasuk kota yang sangat aman. Hampir tidak pernah ada kerusuhan di kota ini. Bahkan premanisme pun hampir tidak ada. Mereka jarang mendengar adanya tindakan kriminal di kota ini.
Saat singgah di beberapa tempat, aku bisa merasakan suasana tersebut. Meski banyak sekali orang yang nongkrong di tepi jalan untuk ber-kongkow sambil menikmati beberapa jenis minuman ringan, mereka seperti acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Tatapan mereka sama sekali tidak memancarkan tatapan kecurigaan pada setiap orang yang datang. Bahkan di setiap tempat makan yang kami kunjungi, layanan yang diberikan sangat ramah.Sungguh mengesankan!
Selama di Singkawang, kami menginap di sebuah hotel yang cukup besar dan nyaman. Hotel Dangau namanya. Sebuah hotel yang cukup luas. Memiliki beberapa fasilitas diantaranya kolam renang dengan papan perosotan melingkar menghiasi di bagian tengah. Kamarnya pun cukup besar dan bersih. Fasilitas lainnya berupa tempat karaoke, bilyar, dan sebagainya tidak sempat aku hampiri.
Ada jenis ikan yang baru pertama kali aku dengar dan aku santap saat kami makan malam di sebuah rumah makan sederhana yang menjual ikan bakar, yaitu Ikan Singapur! Dagingnya sangat lembut dan gurih. Namun kita harus berhati-hati saat mengambil dagingnya dengan tangan. Duri besar yang cukup tajam bisa menusuk jari kita bila kita terlalu bersemangat mengambil daging tersebut.
Tentang kata Singkawang sendiri seorang temanku dari KPKNL mengatakan singkawang adalah singkatan dari Singgah Kawin dan Pulang! hahahhaa... Entah apa maksud dari kata tersebut....
Sekitar 40 kilometer dari kota ini ada sebuah kota kecil lainnya yaitu Sintete. Ada kantor bea cukai di sana. Sang kepala kantor yang sempat menemani kami makan malam mengatakan Sintete adalah singkatan dari Singgah Terus Termenung......! Kalau kata yang ini maksudnya adalah kota yang cocok untuk termenung karena lokasinya yang cukup terpencil dan relatif sepi.
Kata Singkawang adalah sebuah kata yang tidak asing bagiku. Sering sekali mendengarnya tapi belum sekalipun aku kunjungi. Dalam benakku kota ini terkenal dengan "ke-cainis-an" nya. Seolah-olah, Singkawang identik dengan keturunan Tiongkok. Ternyata aku keliru! Karena faktanya, di kota ini ada 3 suku mayoritas yang bermukim, yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu! Sisanya adalah pendatang yang umumnya adalah suku Jawa.
Perjalanan dari Pontianak ke Singkawang dilakukan via darat. Aku dan kedua teman dari Ditjen Kekayaan Negara dijemput oleh 3 orang rekan dari KPKNL Singkawang. Pertanyaan pertama yang langsung kami ajukan adalah "berapa lama menuju Singkawang?" Sebuah pertanyaan standar bagi mereka yang belum pernah melakukannya.Salah seorang penjemput menjawab bahwa perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung kecepatan mobil yang dibawa.
Jalan menuju Singkawang, kota yang berada di Barat Laut Pontianak, lumayan bagus menurutku. Jalanan aspal sangat mulus meski kadang bergelombang.
Kami sempat makan siang di Mempawah, kota kecil yang berada di tengah-tengah antara Pontianak - Singkawang.
Saat tiba di Singkawang, tidak ada keramaian yang nampak di sisi kiri dan kanan jalan. Seperti yang kuduga, kota ini sangat kecil. Bila dibandingkan dengan kota di pulau Jawa, maka kota ini mungkin setara dengan sebuah kecamatan!
Inilah Indonesiaku....meski kota ini terkenal dan sudah berusia lama namun pembangunan tetap saja tidak tersentuh oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dengan pulau luar Jawa sangat kentara!
Aku jadi teringat kota Sumbawa di Nusa Tenggara yang aku kunjungi tahun lalu. Nah, kurang lebih tingkat keramaiannya hampir sama.
Kota tua ini memang meninggalkan beberapa bangunan-bangunan tua ala Tiongkok di beberapa sudut kota. Meski mayoritas penduduk adalah keturuan Tionghoa namun bangunan masjid yang cukup besar juga ada di sini. Itu karena penduduk lain yang juga mayoritas bermukim di sini adalah suku Melayu.
Kota ini terlihat sangat tenang. Temanku yang sudah cukup lama penempatan tugas di sini memang mengatakan bahwa kota Singkawang termasuk kota yang sangat aman. Hampir tidak pernah ada kerusuhan di kota ini. Bahkan premanisme pun hampir tidak ada. Mereka jarang mendengar adanya tindakan kriminal di kota ini.
Saat singgah di beberapa tempat, aku bisa merasakan suasana tersebut. Meski banyak sekali orang yang nongkrong di tepi jalan untuk ber-kongkow sambil menikmati beberapa jenis minuman ringan, mereka seperti acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Tatapan mereka sama sekali tidak memancarkan tatapan kecurigaan pada setiap orang yang datang. Bahkan di setiap tempat makan yang kami kunjungi, layanan yang diberikan sangat ramah.Sungguh mengesankan!
![]() |
| Di depan Klenteng, bersama teman2 KPKNL Singkawang |
![]() |
| Di sebuah pantai di Singkawang |
Selama di Singkawang, kami menginap di sebuah hotel yang cukup besar dan nyaman. Hotel Dangau namanya. Sebuah hotel yang cukup luas. Memiliki beberapa fasilitas diantaranya kolam renang dengan papan perosotan melingkar menghiasi di bagian tengah. Kamarnya pun cukup besar dan bersih. Fasilitas lainnya berupa tempat karaoke, bilyar, dan sebagainya tidak sempat aku hampiri.
Ada jenis ikan yang baru pertama kali aku dengar dan aku santap saat kami makan malam di sebuah rumah makan sederhana yang menjual ikan bakar, yaitu Ikan Singapur! Dagingnya sangat lembut dan gurih. Namun kita harus berhati-hati saat mengambil dagingnya dengan tangan. Duri besar yang cukup tajam bisa menusuk jari kita bila kita terlalu bersemangat mengambil daging tersebut.
Tentang kata Singkawang sendiri seorang temanku dari KPKNL mengatakan singkawang adalah singkatan dari Singgah Kawin dan Pulang! hahahhaa... Entah apa maksud dari kata tersebut....
Sekitar 40 kilometer dari kota ini ada sebuah kota kecil lainnya yaitu Sintete. Ada kantor bea cukai di sana. Sang kepala kantor yang sempat menemani kami makan malam mengatakan Sintete adalah singkatan dari Singgah Terus Termenung......! Kalau kata yang ini maksudnya adalah kota yang cocok untuk termenung karena lokasinya yang cukup terpencil dan relatif sepi.
| Salah sebuah karya pegawai KPKNL Singkawang dalam IHT |
Subscribe to:
Posts (Atom)








