Ini kisah minggu lalu yang tidak sempat saya tulis.
Kenapa nggak bisa ditulis? Pertama, akses internet di hotel tempatku menginap nggak asik banget. Kedua, penyakit lazim yaitu malas!
Minggu lalu aku mendapat penugasan kembali untuk memberikan materi pada sebuah pelatihan. Kali ini sasarannya adalah rekan-rekan dari Ditjen Pajak di lingkungan Kanwil Jawa Timur II.
Pelatihan yang bertajuk Leadership Develpoment Progam (LDP) ini adalah pelatihan ke-4 yang aku kunjungi. Daerah sebelumnya adalah Medan, Bandung, dan Pekanbaru.
Pemateri memang bukan aku seorang diri. Banyak pemateri yang handal yang dimiliki oleh unit tempatku bekerja.
Di pelatihan kali ini pun aku tidak seorang diri. Selain didampingi oleh seorang asisten (rekan kerja), aku sebenarnya hanya mendampingi atasanku yang memberikan materi pada hari pertama. Hari kedua dan ketiga sepenuhnya aku yang mengisinya.
Pelatihan tersebut berjalan lancar. Pesimisme yang awalnya ada di sebagian diri peserta berubah menjadi sebuah optimisme. Wajah yang semula terlihat enggan, berakhir dengan wajah bersemangat nan ceria.
Puas rasanya bisa memberikan sharing pengalaman dan pengetahuan bersama mereka!
Selama Sidoarjo aku menginap di sebuah hotel yang berjarak kurang lebih 1 km dari lokasi pelatihan. Nama hotel itu adalah Hotel Utami.
Saat melihat struktur bangunan yang besar dan kokoh aku tersenyum lega karena aku pikir akan bisa menikmati suasana istirahat yang nyaman. Apalagi setelah mengetahui rate kamar yang terbilang cukup mahal.
Sayangnya, apa yang kupikirkan tidak terjadi sama sekali. Suasana hotel tidak sesuai dengan yang kubayangkan. Saat memasuki kamar kelas eksekutif, pencahayaan kamar kurang. Kesan redup di dalam kamar nampak terasa. Saat ku buka gorden jendela, yang nampak adalah tembok! Tak ada pemandangan sama sekali!
Aku semakin kecewa ketika akhirnya mengetahui bahwa di ruangan itu sinyal hape sangat lemah. Bahkan kadang cenderung timbul tenggelam!
Aku segera menuju lobbi. Kutanyakan kepada petugas di sana apakah ada wifi di dalam kamar. Kupikir kalau ada wifi, hape ku akan tetap dapat difungsikan.
Jawaban petugas resepsionis membuatku semakin kecewa. Mereka mengatakan bahwa wifi hanya ada di sekitar lobi!
Huff..... di era digital seperti ini ternyata masih ada hotel yang tidak memiliki wifi di kamar pengunjung! Menyedihkan!
Hotel ini kalah dengan hotel di Singkawang, Kalimantan Barat, gerutuku!
Singkawang yang hanya sebuah kota kecil dan berada di ujung barat Kalimantan Barat saja masih mampu menyediakan wifi di kamar. Kok ini sebuah hotel yang dekat dengan bandara Juanda malah nggak punya wifi??!!!
Tiga malam berada di hotel tersebut benar-benar membuat mood ku hilang. Tak ada gairah sama sekali.
Bila malam datang, waktu kuhabiskan dengan membuka laptop di area restoran yang berdekatan dengan lobi hotel sambil menyantap menu makanan yang seadanya.
Ingin keluar hotel, percuma! Tak ada tempat makan representatif yang ada di dekat hotel. Lokasinya benar-benar tidak strategis bila kita ingin menikmati malam dengan berjalan kaki di sekitar hotel!
Tuesday, September 23, 2014
Wednesday, September 10, 2014
Singkawang, Singgah Kawin Pulang..... ^^
Saat aku ditawari memberikan materi In-House Training (IHT) untuk teman-teman di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Singkawang hatiku langsung ke pincut. Aku segera melihat jadwal kegiatanku di kantor pada minggu kedua. Alhamdulillah, kegiatanku di minggu itu bisa di handle oleh kawan-kawan di kantorku. Jadilah aku segera mengiyakan tentang tawaran tersebut. Tentu saja dengan catatan: diizinkan oleh pimpinanku!
Kata Singkawang adalah sebuah kata yang tidak asing bagiku. Sering sekali mendengarnya tapi belum sekalipun aku kunjungi. Dalam benakku kota ini terkenal dengan "ke-cainis-an" nya. Seolah-olah, Singkawang identik dengan keturunan Tiongkok. Ternyata aku keliru! Karena faktanya, di kota ini ada 3 suku mayoritas yang bermukim, yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu! Sisanya adalah pendatang yang umumnya adalah suku Jawa.
Perjalanan dari Pontianak ke Singkawang dilakukan via darat. Aku dan kedua teman dari Ditjen Kekayaan Negara dijemput oleh 3 orang rekan dari KPKNL Singkawang. Pertanyaan pertama yang langsung kami ajukan adalah "berapa lama menuju Singkawang?" Sebuah pertanyaan standar bagi mereka yang belum pernah melakukannya.Salah seorang penjemput menjawab bahwa perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung kecepatan mobil yang dibawa.
Jalan menuju Singkawang, kota yang berada di Barat Laut Pontianak, lumayan bagus menurutku. Jalanan aspal sangat mulus meski kadang bergelombang.
Kami sempat makan siang di Mempawah, kota kecil yang berada di tengah-tengah antara Pontianak - Singkawang.
Saat tiba di Singkawang, tidak ada keramaian yang nampak di sisi kiri dan kanan jalan. Seperti yang kuduga, kota ini sangat kecil. Bila dibandingkan dengan kota di pulau Jawa, maka kota ini mungkin setara dengan sebuah kecamatan!
Inilah Indonesiaku....meski kota ini terkenal dan sudah berusia lama namun pembangunan tetap saja tidak tersentuh oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dengan pulau luar Jawa sangat kentara!
Aku jadi teringat kota Sumbawa di Nusa Tenggara yang aku kunjungi tahun lalu. Nah, kurang lebih tingkat keramaiannya hampir sama.
Kota tua ini memang meninggalkan beberapa bangunan-bangunan tua ala Tiongkok di beberapa sudut kota. Meski mayoritas penduduk adalah keturuan Tionghoa namun bangunan masjid yang cukup besar juga ada di sini. Itu karena penduduk lain yang juga mayoritas bermukim di sini adalah suku Melayu.
Kota ini terlihat sangat tenang. Temanku yang sudah cukup lama penempatan tugas di sini memang mengatakan bahwa kota Singkawang termasuk kota yang sangat aman. Hampir tidak pernah ada kerusuhan di kota ini. Bahkan premanisme pun hampir tidak ada. Mereka jarang mendengar adanya tindakan kriminal di kota ini.
Saat singgah di beberapa tempat, aku bisa merasakan suasana tersebut. Meski banyak sekali orang yang nongkrong di tepi jalan untuk ber-kongkow sambil menikmati beberapa jenis minuman ringan, mereka seperti acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Tatapan mereka sama sekali tidak memancarkan tatapan kecurigaan pada setiap orang yang datang. Bahkan di setiap tempat makan yang kami kunjungi, layanan yang diberikan sangat ramah.Sungguh mengesankan!
Selama di Singkawang, kami menginap di sebuah hotel yang cukup besar dan nyaman. Hotel Dangau namanya. Sebuah hotel yang cukup luas. Memiliki beberapa fasilitas diantaranya kolam renang dengan papan perosotan melingkar menghiasi di bagian tengah. Kamarnya pun cukup besar dan bersih. Fasilitas lainnya berupa tempat karaoke, bilyar, dan sebagainya tidak sempat aku hampiri.
Ada jenis ikan yang baru pertama kali aku dengar dan aku santap saat kami makan malam di sebuah rumah makan sederhana yang menjual ikan bakar, yaitu Ikan Singapur! Dagingnya sangat lembut dan gurih. Namun kita harus berhati-hati saat mengambil dagingnya dengan tangan. Duri besar yang cukup tajam bisa menusuk jari kita bila kita terlalu bersemangat mengambil daging tersebut.
Tentang kata Singkawang sendiri seorang temanku dari KPKNL mengatakan singkawang adalah singkatan dari Singgah Kawin dan Pulang! hahahhaa... Entah apa maksud dari kata tersebut....
Sekitar 40 kilometer dari kota ini ada sebuah kota kecil lainnya yaitu Sintete. Ada kantor bea cukai di sana. Sang kepala kantor yang sempat menemani kami makan malam mengatakan Sintete adalah singkatan dari Singgah Terus Termenung......! Kalau kata yang ini maksudnya adalah kota yang cocok untuk termenung karena lokasinya yang cukup terpencil dan relatif sepi.
Kata Singkawang adalah sebuah kata yang tidak asing bagiku. Sering sekali mendengarnya tapi belum sekalipun aku kunjungi. Dalam benakku kota ini terkenal dengan "ke-cainis-an" nya. Seolah-olah, Singkawang identik dengan keturunan Tiongkok. Ternyata aku keliru! Karena faktanya, di kota ini ada 3 suku mayoritas yang bermukim, yaitu Tiongkok, Dayak, dan Melayu! Sisanya adalah pendatang yang umumnya adalah suku Jawa.
Perjalanan dari Pontianak ke Singkawang dilakukan via darat. Aku dan kedua teman dari Ditjen Kekayaan Negara dijemput oleh 3 orang rekan dari KPKNL Singkawang. Pertanyaan pertama yang langsung kami ajukan adalah "berapa lama menuju Singkawang?" Sebuah pertanyaan standar bagi mereka yang belum pernah melakukannya.Salah seorang penjemput menjawab bahwa perjalanan yang ditempuh akan memakan waktu sekitar 3-4 jam. Tergantung kecepatan mobil yang dibawa.
Jalan menuju Singkawang, kota yang berada di Barat Laut Pontianak, lumayan bagus menurutku. Jalanan aspal sangat mulus meski kadang bergelombang.
Kami sempat makan siang di Mempawah, kota kecil yang berada di tengah-tengah antara Pontianak - Singkawang.
Saat tiba di Singkawang, tidak ada keramaian yang nampak di sisi kiri dan kanan jalan. Seperti yang kuduga, kota ini sangat kecil. Bila dibandingkan dengan kota di pulau Jawa, maka kota ini mungkin setara dengan sebuah kecamatan!
Inilah Indonesiaku....meski kota ini terkenal dan sudah berusia lama namun pembangunan tetap saja tidak tersentuh oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesenjangan pembangunan antara pulau Jawa dengan pulau luar Jawa sangat kentara!
Aku jadi teringat kota Sumbawa di Nusa Tenggara yang aku kunjungi tahun lalu. Nah, kurang lebih tingkat keramaiannya hampir sama.
Kota tua ini memang meninggalkan beberapa bangunan-bangunan tua ala Tiongkok di beberapa sudut kota. Meski mayoritas penduduk adalah keturuan Tionghoa namun bangunan masjid yang cukup besar juga ada di sini. Itu karena penduduk lain yang juga mayoritas bermukim di sini adalah suku Melayu.
Kota ini terlihat sangat tenang. Temanku yang sudah cukup lama penempatan tugas di sini memang mengatakan bahwa kota Singkawang termasuk kota yang sangat aman. Hampir tidak pernah ada kerusuhan di kota ini. Bahkan premanisme pun hampir tidak ada. Mereka jarang mendengar adanya tindakan kriminal di kota ini.
Saat singgah di beberapa tempat, aku bisa merasakan suasana tersebut. Meski banyak sekali orang yang nongkrong di tepi jalan untuk ber-kongkow sambil menikmati beberapa jenis minuman ringan, mereka seperti acuh dengan keadaan di sekelilingnya. Tatapan mereka sama sekali tidak memancarkan tatapan kecurigaan pada setiap orang yang datang. Bahkan di setiap tempat makan yang kami kunjungi, layanan yang diberikan sangat ramah.Sungguh mengesankan!
![]() |
| Di depan Klenteng, bersama teman2 KPKNL Singkawang |
![]() |
| Di sebuah pantai di Singkawang |
Selama di Singkawang, kami menginap di sebuah hotel yang cukup besar dan nyaman. Hotel Dangau namanya. Sebuah hotel yang cukup luas. Memiliki beberapa fasilitas diantaranya kolam renang dengan papan perosotan melingkar menghiasi di bagian tengah. Kamarnya pun cukup besar dan bersih. Fasilitas lainnya berupa tempat karaoke, bilyar, dan sebagainya tidak sempat aku hampiri.
Ada jenis ikan yang baru pertama kali aku dengar dan aku santap saat kami makan malam di sebuah rumah makan sederhana yang menjual ikan bakar, yaitu Ikan Singapur! Dagingnya sangat lembut dan gurih. Namun kita harus berhati-hati saat mengambil dagingnya dengan tangan. Duri besar yang cukup tajam bisa menusuk jari kita bila kita terlalu bersemangat mengambil daging tersebut.
Tentang kata Singkawang sendiri seorang temanku dari KPKNL mengatakan singkawang adalah singkatan dari Singgah Kawin dan Pulang! hahahhaa... Entah apa maksud dari kata tersebut....
Sekitar 40 kilometer dari kota ini ada sebuah kota kecil lainnya yaitu Sintete. Ada kantor bea cukai di sana. Sang kepala kantor yang sempat menemani kami makan malam mengatakan Sintete adalah singkatan dari Singgah Terus Termenung......! Kalau kata yang ini maksudnya adalah kota yang cocok untuk termenung karena lokasinya yang cukup terpencil dan relatif sepi.
| Salah sebuah karya pegawai KPKNL Singkawang dalam IHT |
Thursday, August 28, 2014
Tiga hari yang menyenangkan di Pekanbaru, Riau
Hampir setahun yang lalu aku menginjakkan kaki di kota Pekanbaru.
Ada sebuah tugas yang harus aku laksanakan di kota ini.
Bersama atasanku, kami akan memberikan materi pelatihan pada pejabat eselon 4 Kanwil Ditjen Pajak Riau dan Kepulauan Riau.
Semula, acara ini akan diselenggarakan di Batam. Entah mengapa dipindahkan ke kota Pekanbaru.
Surat tugas ke Batam sudah kuterima 2 minggu lalu. Dan seminggu lalu aku sudah memesan tiket pulang pergi. Kupesan jauh-jauh hari sebelumnya karena minggu lalu aku juga harus melaksanakan tugas ke Cimahi dan dilanjutkan ke Puncak, Bogor di hari sabtu dan minggu.
Perubahan tiket aku lakukan hanya beberapa menit setelah mendapat kabar bahwa pelaksanaan kegiatan dipindahkan ke kota Pekanbaru. Saat itu, hari Jumat sore, dengan diantar seorang rekan, aku bersepeda motor menembus kepadatan jalan antara kota Cimahi dan Bandung. Teman pengendara membawa motornya melaju kencang dan meliuk-liuk demi mengejar waktu tutup kantor perwakilan garuda di kota kembang itu.
Pekanbaru masih tampak sama dengan setahun lalu yang kulihat. Tidak banyak perubahan. Kota ini tidak terlalu luas namun dihiasi bangunan-bangunan kantor yang apik. Bangunan milik pemerintah daerah dibuat dengan mode futuristik. Salah satu bangunan yang membuatku berdecak kagum adalah perpustakaan yang tepat berdiri di depan kantor wilayah Ditjen Pajak.
Atap bangunan tersebut menyerupai papan seluncur. Pokoknya keren banget dech!
Tiba di Pekanbaru aku langsung meluncur di kanwil DJP diantar rekanku yang bertugas di kota ini. Aku langsung bergabung dengan atasanku yang sedang memberikan materi training siang itu.
Ruangan yang cukup besar membuatku nyaman. Dengan ruang yang luas seperti ini, aku bisa melakukan banyak hal untuk kegiatan dua hari esok.
Sayangnya ruang aula ini berada di lantai 4 dan lift di gedung tersebut sedang tidak berfungsi. Cukup melelahkan untuk menapaki anak tangga yang membawa kita ke aula tersebut.
Aku diinapkan oleh teman-teman pajak di hotel Pangeran di Jalan Sudirman nomor 371-373. Sebuah hotel bintang empat. Bangunannya cukup megah dan kamarnya pun cukup nyaman. Sayang aku tidak bisa menikmati fasiltas yang ada di hotel ini, khususnya kolam renang karena kepadatan waktu yan kupunya.
Menjelang malam aku dan temanku yang akan membantu sebagai asisten selama pelaksanaan training dijamu oleh dua orang rekan dari kanwil Pajak, yaitu Pak Dayat dan Pak Dadang. Keduanya adalah pejabat eselon 3 dan eselon 4.
Sebuah rumah makan bernama Serba Sedap menyajikan beberapa makanan khas Pekanbaru. Diantaranya adalah ikan baung dan daging rendang. Sungguh hidangan yang nikmat!
Selepas makan malam aku tidak langsung menuju ke peraduan. Aku harus mendesain kembali slide-slide yang kumiliki untuk aku sesuaikan dengan bahan paparan yang sudah diberikan atasanku satu hari tadi.
Aku memang bertugas meneruskan materi yang telah diberikan oleh atasanku tersebut.
Penyesuaian slide cukup memakan waktu. Aku baru bisa menuju tempat tidur selepas pukul 12 malam.
Esoknya aku bertemu dengan para peserta pelatihan. Seperti di training-training sebelumnya yang aku lakukan, aku selalu menyapa mereka dengan teriakan "Selamat Pagi" yang khas! Aku melakukannya teriakan khas tersebut bila jumlah peserta cukup banyak. Bila peserta kurang dari 15 orang, aku menyapa dengan cara yang "normal".
Suasana ruang training pagi itu langsung menyuguhkan antusiasme semangat peserta pelatihan begitu aku paparkan mengapa mereka harus mempelajari materi yang akan aku bawakan.
Hal ini tentu saja menumbuhkan energi positif pada diriku. Semangatku semakin tinggi dan bergairah!
Alhamdulillah suasana seperti ini tetap berlangsung hingga keesokkan harinya!
Malamnya, seorang teman lama datang menjemputku untuk mengajak makan malam. Ia adalah sahabatku saat kuliah di STAN dulu. Sejak kami lulus di tahun 1992 kami belum pernah bertemu dengan bertatap muka langsung. Ya, sudah 22 tahun kami tidak bertemu.
Malam itu aku sengaja meluangkan waktu untuk bertemu dengan sahabat ku ini. Dan, untuk itu, aku harus meminta izin kepada teman-teman pajak yang sedianya juga akan menjamu diriku. Demikian pula aku harus meminta maaf kepada teman-teman balai diklat yang sore itu juga mengirimkan sms untuk mengundang makan malam.
Sahabat lamaku ini bernama Slamat. Agak mirip dengan namaku hehehe.
Ia sudah 8 tahun bertugas di BPKP Riau. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali pindah tugas di beberapa kota.
Malam itu, dengan ditemani sang anak, kami meluncur menuju sebuah warung yang menyediakan menu khusus: sate daging rusa!
Waow, aku belum pernah menyantapnya sebelumnya!
Rasa daging rusa ternyata cukup manis. Sangat berbeda dengan daging-daging yang biasa menjadi santapan manusia seperti daging sapi, daging ayam, dan daging kambing.
Tetapi, karena ini adalah pertama kali aku merasakannya, semua hidanganya yang ada di hadapanku berupa sate dan sop ludes kulahap!
Setelah makan malam, obrolan kami teruskan di lobi hotel Pangeran. Cukup lama kami berdua membicarakan banyak hal. Termasuk potensi-potensi diri yang bisa kami kembangkan hehehe.
Training hari kedua semakin menggairahkan diriku dan peserta. Sebagian peserta cukup antusias mengikuti sesi-sesi pelatihan. Dahsyatnya teman-teman pelaksana yang menjadi role player menjadikan suasana kelas semakin meriah dan bergairah.
Meskipun, mungkin, tidak semua peserta dapat merasakan manfaat dari sesi pelatihan ini namun aku yakin bahwa sebagian besar pengetahuan yang kami sampaikan telah memberikan bekal bagi mereka untuk menghadapi asesmen di masa yang akan datang.
Malam hari, teman-teman Balai Diklat Keuangan menjemput kami dari lobi hotel. Kami dijamu dengan hidangan seafood yang dilanjutkan dengan makan durian......... Waooow nikmat....!!
Ada sebuah tugas yang harus aku laksanakan di kota ini.
Bersama atasanku, kami akan memberikan materi pelatihan pada pejabat eselon 4 Kanwil Ditjen Pajak Riau dan Kepulauan Riau.
Semula, acara ini akan diselenggarakan di Batam. Entah mengapa dipindahkan ke kota Pekanbaru.
Surat tugas ke Batam sudah kuterima 2 minggu lalu. Dan seminggu lalu aku sudah memesan tiket pulang pergi. Kupesan jauh-jauh hari sebelumnya karena minggu lalu aku juga harus melaksanakan tugas ke Cimahi dan dilanjutkan ke Puncak, Bogor di hari sabtu dan minggu.
Perubahan tiket aku lakukan hanya beberapa menit setelah mendapat kabar bahwa pelaksanaan kegiatan dipindahkan ke kota Pekanbaru. Saat itu, hari Jumat sore, dengan diantar seorang rekan, aku bersepeda motor menembus kepadatan jalan antara kota Cimahi dan Bandung. Teman pengendara membawa motornya melaju kencang dan meliuk-liuk demi mengejar waktu tutup kantor perwakilan garuda di kota kembang itu.
Pekanbaru masih tampak sama dengan setahun lalu yang kulihat. Tidak banyak perubahan. Kota ini tidak terlalu luas namun dihiasi bangunan-bangunan kantor yang apik. Bangunan milik pemerintah daerah dibuat dengan mode futuristik. Salah satu bangunan yang membuatku berdecak kagum adalah perpustakaan yang tepat berdiri di depan kantor wilayah Ditjen Pajak.
Atap bangunan tersebut menyerupai papan seluncur. Pokoknya keren banget dech!
Tiba di Pekanbaru aku langsung meluncur di kanwil DJP diantar rekanku yang bertugas di kota ini. Aku langsung bergabung dengan atasanku yang sedang memberikan materi training siang itu.
Ruangan yang cukup besar membuatku nyaman. Dengan ruang yang luas seperti ini, aku bisa melakukan banyak hal untuk kegiatan dua hari esok.
Sayangnya ruang aula ini berada di lantai 4 dan lift di gedung tersebut sedang tidak berfungsi. Cukup melelahkan untuk menapaki anak tangga yang membawa kita ke aula tersebut.
Aku diinapkan oleh teman-teman pajak di hotel Pangeran di Jalan Sudirman nomor 371-373. Sebuah hotel bintang empat. Bangunannya cukup megah dan kamarnya pun cukup nyaman. Sayang aku tidak bisa menikmati fasiltas yang ada di hotel ini, khususnya kolam renang karena kepadatan waktu yan kupunya.
Menjelang malam aku dan temanku yang akan membantu sebagai asisten selama pelaksanaan training dijamu oleh dua orang rekan dari kanwil Pajak, yaitu Pak Dayat dan Pak Dadang. Keduanya adalah pejabat eselon 3 dan eselon 4.
Sebuah rumah makan bernama Serba Sedap menyajikan beberapa makanan khas Pekanbaru. Diantaranya adalah ikan baung dan daging rendang. Sungguh hidangan yang nikmat!
Selepas makan malam aku tidak langsung menuju ke peraduan. Aku harus mendesain kembali slide-slide yang kumiliki untuk aku sesuaikan dengan bahan paparan yang sudah diberikan atasanku satu hari tadi.
Aku memang bertugas meneruskan materi yang telah diberikan oleh atasanku tersebut.
Penyesuaian slide cukup memakan waktu. Aku baru bisa menuju tempat tidur selepas pukul 12 malam.
Esoknya aku bertemu dengan para peserta pelatihan. Seperti di training-training sebelumnya yang aku lakukan, aku selalu menyapa mereka dengan teriakan "Selamat Pagi" yang khas! Aku melakukannya teriakan khas tersebut bila jumlah peserta cukup banyak. Bila peserta kurang dari 15 orang, aku menyapa dengan cara yang "normal".
Suasana ruang training pagi itu langsung menyuguhkan antusiasme semangat peserta pelatihan begitu aku paparkan mengapa mereka harus mempelajari materi yang akan aku bawakan.
Hal ini tentu saja menumbuhkan energi positif pada diriku. Semangatku semakin tinggi dan bergairah!
Alhamdulillah suasana seperti ini tetap berlangsung hingga keesokkan harinya!
Malamnya, seorang teman lama datang menjemputku untuk mengajak makan malam. Ia adalah sahabatku saat kuliah di STAN dulu. Sejak kami lulus di tahun 1992 kami belum pernah bertemu dengan bertatap muka langsung. Ya, sudah 22 tahun kami tidak bertemu.
Malam itu aku sengaja meluangkan waktu untuk bertemu dengan sahabat ku ini. Dan, untuk itu, aku harus meminta izin kepada teman-teman pajak yang sedianya juga akan menjamu diriku. Demikian pula aku harus meminta maaf kepada teman-teman balai diklat yang sore itu juga mengirimkan sms untuk mengundang makan malam.
Sahabat lamaku ini bernama Slamat. Agak mirip dengan namaku hehehe.
Ia sudah 8 tahun bertugas di BPKP Riau. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali pindah tugas di beberapa kota.
Malam itu, dengan ditemani sang anak, kami meluncur menuju sebuah warung yang menyediakan menu khusus: sate daging rusa!
Waow, aku belum pernah menyantapnya sebelumnya!
Rasa daging rusa ternyata cukup manis. Sangat berbeda dengan daging-daging yang biasa menjadi santapan manusia seperti daging sapi, daging ayam, dan daging kambing.
Tetapi, karena ini adalah pertama kali aku merasakannya, semua hidanganya yang ada di hadapanku berupa sate dan sop ludes kulahap!
Setelah makan malam, obrolan kami teruskan di lobi hotel Pangeran. Cukup lama kami berdua membicarakan banyak hal. Termasuk potensi-potensi diri yang bisa kami kembangkan hehehe.
Training hari kedua semakin menggairahkan diriku dan peserta. Sebagian peserta cukup antusias mengikuti sesi-sesi pelatihan. Dahsyatnya teman-teman pelaksana yang menjadi role player menjadikan suasana kelas semakin meriah dan bergairah.
Meskipun, mungkin, tidak semua peserta dapat merasakan manfaat dari sesi pelatihan ini namun aku yakin bahwa sebagian besar pengetahuan yang kami sampaikan telah memberikan bekal bagi mereka untuk menghadapi asesmen di masa yang akan datang.
Malam hari, teman-teman Balai Diklat Keuangan menjemput kami dari lobi hotel. Kami dijamu dengan hidangan seafood yang dilanjutkan dengan makan durian......... Waooow nikmat....!!
Wednesday, August 06, 2014
8 Tahun Yang Lalu
Malam itu aku sulit tidur. Perasaanku sangat gelisah. Entah ada firasat apa. Yang pasti, setelah kelopak mataku tidak mau terpejam meskipun sudah kupaksakan berkali-kali, akhirnya kukatakan pada istriku bahwa aku akan mencoba tidur di atas sofa di ruang tamu.Istriku pun mengizinkan. Ia tahu bahwa aku memang sedang gundah.
Jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Hari ini, Minggu, 6 Agustus 2006 menjadi hari yang berat dalam hidupku. Sabtu pagi aku masih mengajar pada sebuah diklat di Gadog, Bogor. Aku tidak bisa menuntaskan tugasku sebagai fasilitator hingga sore hari. Penyebabnya adalah kabar yang kuterima dari kakakku via sms berkali-kali yang tak kunjung kujawab. Memang, saat mengajar aku selalu menonaktifkan hape.
Saat coffee break barulah aku bisa membaca sms yang masuk dalam hapeku ataupun melihat apakah ada yang misscall atau tidak.
Aku sungguh terkejut mendengar penjelasan kakakku dari ujung telepon sana. Kakak keduaku mengabarkan bahwa pagi tadi ayah kami tiba-tiba muntah-muntah. Ia mengabarkan pula bahwa ayah kami saat ini sedang berada di UGD RS Husada Jakarta.
Mendengar kabar tentang kondisi ayah kami tersebut sontak aku lemas. Aku pun segera mengakhiri sesi materiku dengan memberikan tugas kepada peserta diklat dan bergegas menuju Jakarta.
Kondisi beliau kembali drop, begitu pikirku. Beberapa bulan lalu ayahku baru saja pulang dari opname selama hampir 2 minggu di sebuah rumah sakit di bilangan Sunter, Jakarta. Penyebabnya menurut dokter adalah adanya luka pada lambung yang menyebabkan ia kekurangan darah. Sekitar 3 kantong darah, kalau aku tak salah ingat, diinfuskan ke dalam tubuh ayahku.
Selama ini beliau jarang sekali sakit. Meski usianya sudah berkepala tujuh namun fisik beliau masih sangat kuat. Tiap pagi beliau bahkan rutin melakukan lari pagi. Jarak yang ditempuh antara 2-5 km. Bahkan terkadang lebih dari jarak itu.
Aku masih ingat saat-saat beliau masih segar bugar sebelumnya akhirnya jatuh sakit. Pagi itu kami berdua mengunjungi kerabat yang meninggal dunia. Almarhum adalah sahabat baik ayah kami karena memang berasal dari kampung halaman yang sama di Jawa Timur.
Sekembali ke rumah dari melayat tersebut ayahku berkata dengan tatapan seperti memohon, "Wat, bapak mau ikut mengantar jenazah." Aku lantas mengiyakan keinginan ayahku. Karena aku tahu seperti apa kedekatan ayahku dengan temannnya tersebut. Aku hanya berpesan agar ayahku berhati-hati selama dalam perjalanan.
Beberapa hari kemudian aku dikejutkan kabar sakitnya ayahku di kampung halamannya. Yang memberi kabar adalah keluarga istriku yang tinggal tak jauh dari kampung halaman ayahku. Aku segera minta kepada bapak mertuaku agar ayahku di bawa ke rumah sakit. Permintaan ini tidak terpenuhi. Alasannya kondisinya sudah semakin baik dan sudah didatangkan dokter puskesmas terdekat.
Aku pun akhirnya meminta agar ayahku beristirahat cukup di sana, sebelum kembali ke Jakarta.
Karena kesibukan kantor aku tidak bisa menjemput ayahku.
Satu minggu sejak ayahku jatuh sakit tersebut, beliau memaksakan diri untuk kembali ke Jakarta. Aku meminta kepada bapak mertuaku untuk mengantarkannya ke Jakarta.
Yang bisa kulakukan adalah meminjam mobil kantor dan menjemput mereka berdua di stasiun Pasar Senen.
Aku melihat hal yang berbeda pada diri ayahku saat kulihat beliau turun dari gerbong kereta api. Dengan dipapah bapak mertuaku, ayahku berjalan perlahan. Wajahnya sayu sebagaimana orang yang memang sedang sakit. Baru kali ini aku melihat beliau seperti itu. Hari-hari sebelumnya, beliau selalu tampak bugar.
Ayahku bercerita bahwa penyebab kondisinya drop adalah karena selama dalam perjalanan mengantar jenazah, beliau berada dalam mobil rombongan yang kaca jendelanya dibuka sepanjang perjalanan. Posisi beliau berada di bagian belakang. Otomatis, terpaan angin malam yang masuk melalui jendela cukup keras.
Ayahku memang tidak tahan dengan angin. Beliau bahkan selalu menghindar dari posisinya bila ada anak atau cucunya yang menyalakan kipas angin. Hal yang sama dilakukan oleh Ibu kami. Mereka berdua memang lebih suka kepanasan daripada harus berangin-angin dengan kipas angin.
"Sampai di kampung, badan bapak sakit semua, Wat. Lemes", begitu ujar ayahku. Bahkan beliau bercerita bahwa ia tidak sanggup untuk mengantar jenazah hingga ke pemakaman karena kondisi tubuhnya yang mulai meriang.
Keesokkan harinya beliau menginap di rumah keluarga ibu kami. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari kampung ayah. Kondisinya masih belum sehat. Dan malam itu musibah pun menimpa ayah kami.
Beliau menuturkan bahwa malam itu ia berniat menuju ke kamar mandi yang berada di samping kanan halaman depan rumah. Ya, di kampung kami kamar mandi memang berada terpisah dengan rumah induk.
Saat baru beberapa langkah ayahku merasa pusing dan lemas. Baru saja ia melangkah keluar dari pintu rumah tiba-tiba pandangan beliau kabur. Setelah itu beliau tidak ingat apa-apa.
Saudara kami yang malam itu tinggal bersama ayah kamu mengutarakan bahwa ayah kami tiba-tiba pingsan dan ambruk. Sontak hal ini membuat geger anggota keluarga yang lain.
Setiba di Jakarta, kondisi ayah ku tak kunjung membaik. Beberapa kali kubujuk untuk memeriksakan diri ke rumah sakit selalu beliau tolak. Sampai akhirnya, beliau sendiri yang meminta aku untuk memeriksakan diri ke rumah sakit untuk minta "disiram". Ini adalah istilah yang beliau pakai untuk pemberian infus pada tubuh seseorang.
Saat kubawa ke rumah sakit terdekat dari rumah, dokter UGD menyarankan agar ayahku di opname karena beberapa alasan. Dan akhirnya beliau pun berada di sana selama 2 minggu.
Sepulang dari rumah sakit, ayahku menunjukkan tanda-tanda pulih. Beliau sudah bisa bercanda dan bahkan sering mengajak aku untuk makan bareng bersamanya. Khususnya bila kakak atau ibuku membuatkan semur ceker ayam.
Berangsur-angsur ayahku sudah sehat. Namun kami, anak-anaknya, masih melarang beliau untuk tidak berlari pagi terlebih dahulu meskipun beliau sudah merasa sanggup. Untuk menghilangkan kejenuhan, beliau melakukan aktivitas jalan kaki di pagi hari namun tetap tidak jauh dari rumah.
Tak sampai 5 bulan kondisi kesehatan ayah ku menurun kembali. Kali ini beliau mengeluhkan gusinya yang membengkak. Saat ku ajak untuk ke dokter, kembali ia menolak. Akhirnya, kubelikan beliau obat penghilang rasa nyeri pada gusi.
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang mengajar pada sebuah diklat di Gadog, Bogor, ayahku masuk ruang gawat darurat kembali....
Karena malam itu tak kunjung bisa tertidur, aku pun hanya merenung dan berdoa untuk kesembuhan ayahku. Namun entah mengapa, ada perasaan tidak enak menyelimuti diriku mala itu. Bayangan wajah ayahku yang sedang akan tertidur saat aku menjenguknya beberapa jam lalu selalu melintas dalam pikiranku.
Ada perasaaan menyesal yang amat sangat. Karena saat aku berkunjung, ibuku mencoba membangunkan ayahku yang sedang akan tidur untuk memberi tahu bahwa aku telah datang membesuk. Aku berkata pelan pada ibuku, "Biar aja Bu. Bapak kayaknya mau istirahat. Jangan diganggu."
Ayahku sempat membuka kelopak matanya sedikit. Memandangku sebentar dan kemudian tidur kembali.
Ibuku bercerita bahwa tadi siang banyak kerabat yang membesuk. Dan ayahku bisa bercengkrama dengan kerabat seolah dalam keadaan sehat. Mendengar hal ini perasaan ku sedikit lega. Aku akan mengunjungi beliau lagi esok pagi.
Lama rasanya menantikan saat subuh tiba. Begitu adzan berkumandang dari mushola di dekat rumah kami, aku segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh di rumah. Rasanya, itu adalah sholat ter-khusyuk yang pernah kulakukan.
Selesai sholat dipanjatkan doa kepada Ya Robbi untuk kesembuhan ayahku. Dalam doa pun kunyatakan untuk memberikan yang terbaik bagi ayahku...
Menjelang pukul 6 pagi aku bersiap menuju rumah sakit Husada. Di tengah perjalanan, hape ku bunyi dan bergetar beberapa kali. Karena aku sedang mengendari motor maka hape tidak bisa kuangkat.
Setelah memarkirkan sepeda motor, sambil berjalan menuju pintu masuk rumah sakit kubuka hapeku. Ada beberapa misscall dari kakakku dan sebuah sms. Saat kubuka sms, kontan kakiku terasa lemas. Isi sms mengabarkan bahwa ayahku telah berpulang pada pukul 5 pagi.... Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.....
Tubuhku ku sandarkan pada dinding tembok di sebelah pintu masuk rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Air mata masih dapat kutahan. Ini rupanya jawaban akan doa ku subuh tadi. Begitu rintihku.
Segera aku tersadar bahwa adikku yang sedang dalam perjalanaan bersepeda di pulau Flores perlu aku kabari segera. Kemarin ia aku kabari bahwa ayah kami masuk rumah sakit. Ia marah seolah-olah kami seperti tidak mengurusnya. Saat itu ia mengabarkan baru saja tiba di Larantuka. Ia berjanji akan mempercepat perjalanannya.
Aku agak khawatir tidak dapat menghubungi adikku karena masalah sinyal hape. Alhamdulillah setelah beberapa kali kuhubungi akhirnya ia mengangkat panggilan telponku. Saat kukabari kabar duka tersebut, kudengar adikku berteriak di seberang sana. Ia marah sekaligus menangis.
Aku hanya bilang padanya agar entah bagaimana caranya ia bisa menuju ke pulau Jawa dalam waktu segera. Tanpa pikir panjang, saat ia bertanya akan dimakamkan di mana ayah kami, spontan aku menjawab akan aku bawa ke kampung halaman beliau.
Delapan tahun lalu, Minggu, 6 Agustus 2008 menjadi catatan kelabu bagi diriku dan juga keluarga kami. Ayahanda tercinta berpulang ke Sang Pencipta. Belum banyak yang bisa kuberikan pada dirinya. Bahkan kesuksesanku di pekerjaan yang kutekuni tidak sempat beliau lihat.
Semoga engkau tenang di sana wahai Ayahanda nan luar biasa....
Hanya doa yang dapat kami panjatkan di setiap akhir sholat ku....
Kenangan akan dirimu yang luar biasa tak pernah terhapus dari ingatan kami....
Tangerang Selatan, 6 Agustus 2014
Jarum jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Hari ini, Minggu, 6 Agustus 2006 menjadi hari yang berat dalam hidupku. Sabtu pagi aku masih mengajar pada sebuah diklat di Gadog, Bogor. Aku tidak bisa menuntaskan tugasku sebagai fasilitator hingga sore hari. Penyebabnya adalah kabar yang kuterima dari kakakku via sms berkali-kali yang tak kunjung kujawab. Memang, saat mengajar aku selalu menonaktifkan hape.
Saat coffee break barulah aku bisa membaca sms yang masuk dalam hapeku ataupun melihat apakah ada yang misscall atau tidak.
Aku sungguh terkejut mendengar penjelasan kakakku dari ujung telepon sana. Kakak keduaku mengabarkan bahwa pagi tadi ayah kami tiba-tiba muntah-muntah. Ia mengabarkan pula bahwa ayah kami saat ini sedang berada di UGD RS Husada Jakarta.
Mendengar kabar tentang kondisi ayah kami tersebut sontak aku lemas. Aku pun segera mengakhiri sesi materiku dengan memberikan tugas kepada peserta diklat dan bergegas menuju Jakarta.
Kondisi beliau kembali drop, begitu pikirku. Beberapa bulan lalu ayahku baru saja pulang dari opname selama hampir 2 minggu di sebuah rumah sakit di bilangan Sunter, Jakarta. Penyebabnya menurut dokter adalah adanya luka pada lambung yang menyebabkan ia kekurangan darah. Sekitar 3 kantong darah, kalau aku tak salah ingat, diinfuskan ke dalam tubuh ayahku.
Selama ini beliau jarang sekali sakit. Meski usianya sudah berkepala tujuh namun fisik beliau masih sangat kuat. Tiap pagi beliau bahkan rutin melakukan lari pagi. Jarak yang ditempuh antara 2-5 km. Bahkan terkadang lebih dari jarak itu.
Aku masih ingat saat-saat beliau masih segar bugar sebelumnya akhirnya jatuh sakit. Pagi itu kami berdua mengunjungi kerabat yang meninggal dunia. Almarhum adalah sahabat baik ayah kami karena memang berasal dari kampung halaman yang sama di Jawa Timur.
Sekembali ke rumah dari melayat tersebut ayahku berkata dengan tatapan seperti memohon, "Wat, bapak mau ikut mengantar jenazah." Aku lantas mengiyakan keinginan ayahku. Karena aku tahu seperti apa kedekatan ayahku dengan temannnya tersebut. Aku hanya berpesan agar ayahku berhati-hati selama dalam perjalanan.
Beberapa hari kemudian aku dikejutkan kabar sakitnya ayahku di kampung halamannya. Yang memberi kabar adalah keluarga istriku yang tinggal tak jauh dari kampung halaman ayahku. Aku segera minta kepada bapak mertuaku agar ayahku di bawa ke rumah sakit. Permintaan ini tidak terpenuhi. Alasannya kondisinya sudah semakin baik dan sudah didatangkan dokter puskesmas terdekat.
Aku pun akhirnya meminta agar ayahku beristirahat cukup di sana, sebelum kembali ke Jakarta.
Karena kesibukan kantor aku tidak bisa menjemput ayahku.
Satu minggu sejak ayahku jatuh sakit tersebut, beliau memaksakan diri untuk kembali ke Jakarta. Aku meminta kepada bapak mertuaku untuk mengantarkannya ke Jakarta.
Yang bisa kulakukan adalah meminjam mobil kantor dan menjemput mereka berdua di stasiun Pasar Senen.
Aku melihat hal yang berbeda pada diri ayahku saat kulihat beliau turun dari gerbong kereta api. Dengan dipapah bapak mertuaku, ayahku berjalan perlahan. Wajahnya sayu sebagaimana orang yang memang sedang sakit. Baru kali ini aku melihat beliau seperti itu. Hari-hari sebelumnya, beliau selalu tampak bugar.
Ayahku bercerita bahwa penyebab kondisinya drop adalah karena selama dalam perjalanan mengantar jenazah, beliau berada dalam mobil rombongan yang kaca jendelanya dibuka sepanjang perjalanan. Posisi beliau berada di bagian belakang. Otomatis, terpaan angin malam yang masuk melalui jendela cukup keras.
Ayahku memang tidak tahan dengan angin. Beliau bahkan selalu menghindar dari posisinya bila ada anak atau cucunya yang menyalakan kipas angin. Hal yang sama dilakukan oleh Ibu kami. Mereka berdua memang lebih suka kepanasan daripada harus berangin-angin dengan kipas angin.
"Sampai di kampung, badan bapak sakit semua, Wat. Lemes", begitu ujar ayahku. Bahkan beliau bercerita bahwa ia tidak sanggup untuk mengantar jenazah hingga ke pemakaman karena kondisi tubuhnya yang mulai meriang.
Keesokkan harinya beliau menginap di rumah keluarga ibu kami. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari kampung ayah. Kondisinya masih belum sehat. Dan malam itu musibah pun menimpa ayah kami.
Beliau menuturkan bahwa malam itu ia berniat menuju ke kamar mandi yang berada di samping kanan halaman depan rumah. Ya, di kampung kami kamar mandi memang berada terpisah dengan rumah induk.
Saat baru beberapa langkah ayahku merasa pusing dan lemas. Baru saja ia melangkah keluar dari pintu rumah tiba-tiba pandangan beliau kabur. Setelah itu beliau tidak ingat apa-apa.
Saudara kami yang malam itu tinggal bersama ayah kamu mengutarakan bahwa ayah kami tiba-tiba pingsan dan ambruk. Sontak hal ini membuat geger anggota keluarga yang lain.
Setiba di Jakarta, kondisi ayah ku tak kunjung membaik. Beberapa kali kubujuk untuk memeriksakan diri ke rumah sakit selalu beliau tolak. Sampai akhirnya, beliau sendiri yang meminta aku untuk memeriksakan diri ke rumah sakit untuk minta "disiram". Ini adalah istilah yang beliau pakai untuk pemberian infus pada tubuh seseorang.
Saat kubawa ke rumah sakit terdekat dari rumah, dokter UGD menyarankan agar ayahku di opname karena beberapa alasan. Dan akhirnya beliau pun berada di sana selama 2 minggu.
Sepulang dari rumah sakit, ayahku menunjukkan tanda-tanda pulih. Beliau sudah bisa bercanda dan bahkan sering mengajak aku untuk makan bareng bersamanya. Khususnya bila kakak atau ibuku membuatkan semur ceker ayam.
Berangsur-angsur ayahku sudah sehat. Namun kami, anak-anaknya, masih melarang beliau untuk tidak berlari pagi terlebih dahulu meskipun beliau sudah merasa sanggup. Untuk menghilangkan kejenuhan, beliau melakukan aktivitas jalan kaki di pagi hari namun tetap tidak jauh dari rumah.
Tak sampai 5 bulan kondisi kesehatan ayah ku menurun kembali. Kali ini beliau mengeluhkan gusinya yang membengkak. Saat ku ajak untuk ke dokter, kembali ia menolak. Akhirnya, kubelikan beliau obat penghilang rasa nyeri pada gusi.
Beberapa hari kemudian, saat aku sedang mengajar pada sebuah diklat di Gadog, Bogor, ayahku masuk ruang gawat darurat kembali....
***
Karena malam itu tak kunjung bisa tertidur, aku pun hanya merenung dan berdoa untuk kesembuhan ayahku. Namun entah mengapa, ada perasaan tidak enak menyelimuti diriku mala itu. Bayangan wajah ayahku yang sedang akan tertidur saat aku menjenguknya beberapa jam lalu selalu melintas dalam pikiranku.
Ada perasaaan menyesal yang amat sangat. Karena saat aku berkunjung, ibuku mencoba membangunkan ayahku yang sedang akan tidur untuk memberi tahu bahwa aku telah datang membesuk. Aku berkata pelan pada ibuku, "Biar aja Bu. Bapak kayaknya mau istirahat. Jangan diganggu."
Ayahku sempat membuka kelopak matanya sedikit. Memandangku sebentar dan kemudian tidur kembali.
Ibuku bercerita bahwa tadi siang banyak kerabat yang membesuk. Dan ayahku bisa bercengkrama dengan kerabat seolah dalam keadaan sehat. Mendengar hal ini perasaan ku sedikit lega. Aku akan mengunjungi beliau lagi esok pagi.
Lama rasanya menantikan saat subuh tiba. Begitu adzan berkumandang dari mushola di dekat rumah kami, aku segera mengambil wudhu dan menunaikan sholat subuh di rumah. Rasanya, itu adalah sholat ter-khusyuk yang pernah kulakukan.
Selesai sholat dipanjatkan doa kepada Ya Robbi untuk kesembuhan ayahku. Dalam doa pun kunyatakan untuk memberikan yang terbaik bagi ayahku...
Menjelang pukul 6 pagi aku bersiap menuju rumah sakit Husada. Di tengah perjalanan, hape ku bunyi dan bergetar beberapa kali. Karena aku sedang mengendari motor maka hape tidak bisa kuangkat.
Setelah memarkirkan sepeda motor, sambil berjalan menuju pintu masuk rumah sakit kubuka hapeku. Ada beberapa misscall dari kakakku dan sebuah sms. Saat kubuka sms, kontan kakiku terasa lemas. Isi sms mengabarkan bahwa ayahku telah berpulang pada pukul 5 pagi.... Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.....
Tubuhku ku sandarkan pada dinding tembok di sebelah pintu masuk rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Air mata masih dapat kutahan. Ini rupanya jawaban akan doa ku subuh tadi. Begitu rintihku.
Segera aku tersadar bahwa adikku yang sedang dalam perjalanaan bersepeda di pulau Flores perlu aku kabari segera. Kemarin ia aku kabari bahwa ayah kami masuk rumah sakit. Ia marah seolah-olah kami seperti tidak mengurusnya. Saat itu ia mengabarkan baru saja tiba di Larantuka. Ia berjanji akan mempercepat perjalanannya.
Aku agak khawatir tidak dapat menghubungi adikku karena masalah sinyal hape. Alhamdulillah setelah beberapa kali kuhubungi akhirnya ia mengangkat panggilan telponku. Saat kukabari kabar duka tersebut, kudengar adikku berteriak di seberang sana. Ia marah sekaligus menangis.
Aku hanya bilang padanya agar entah bagaimana caranya ia bisa menuju ke pulau Jawa dalam waktu segera. Tanpa pikir panjang, saat ia bertanya akan dimakamkan di mana ayah kami, spontan aku menjawab akan aku bawa ke kampung halaman beliau.
Delapan tahun lalu, Minggu, 6 Agustus 2008 menjadi catatan kelabu bagi diriku dan juga keluarga kami. Ayahanda tercinta berpulang ke Sang Pencipta. Belum banyak yang bisa kuberikan pada dirinya. Bahkan kesuksesanku di pekerjaan yang kutekuni tidak sempat beliau lihat.
Semoga engkau tenang di sana wahai Ayahanda nan luar biasa....
Hanya doa yang dapat kami panjatkan di setiap akhir sholat ku....
Kenangan akan dirimu yang luar biasa tak pernah terhapus dari ingatan kami....
Tangerang Selatan, 6 Agustus 2014
Thursday, July 24, 2014
99 Pesan Nabi Muhammad SAW (Bagian 1)
Dikutip dari buku komik dengan judul yang sama karangan vbi_djenggotten
- Rasullullah SAW telah memperingatkan kita yang berada di akhir zaman ini. Dalam salah satu sabdanya: "Hampir terjadi keadaan yang mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian bagai orang-orang yang makan mengerumuni makanannya". Salah seorang sahabat berkata, "Apakah karena sedikit kami ketika itu?" Nabi berkata, " Bahkan pada saat itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian bagai ghutsa' (buih kotor yang terbawa air saat banjir). Pasti Allah akan cabut rasa segan yang ada dalam dada-dada musuh kalian kemudian Allah campakkan kepada kalian rasa wahn." Kata para sahabat, "Wahai Rasullullah, apa wahn itu?" Beliau bersabda, "Cinta dunia dan takut mati." (HR Abu Daud, Ahmad)
- "Siapakah yang kalian anggap perkasa?" Kami menjawab, "Orang-orang yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun." Nabi SAW bersabda, "Bukan itu, tetapi orang-orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah." (HR Muslim)
- Abu Hurairah RA berkata, "Nabi SAW bersabda, 'Tuntuan fitrah lima (atau lima dari tuntutan fitrah, yaitu 1) Khitan; 2) Mencukur bulu di sekitar kemaluan; 3) Mencabut bulu ketiak; 4) memotong kuku; dan 5) Memotong (menggunting) kumis.'" (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Ibnu Abbas RA, katanya Rasullullah SAW mengutuk laki-laki yang berpakaian seperti wanita dan wanita yang berpakaian seperti laki-laki. (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Abdullah Bin Amru RA, katanya Rasullullah SAW berkata, "Termasuk dosa yang paling besar adalah kalau orang mengutuk kedua orang tuanya." Ada orang bertanya, "Ya Rasullullah, bagaimana orang mengutuk ibu bapaknya?"Beliau menjawab, "Kalau seseorang mencaci bapak orang lain lalu orang lain itu membalas mencaci bapaknya dan mencaci ibunya." (HR Bukhari)
- Dari Abu Hurairah RA, Ia berkata, "Rasullullah SAW bersabda, 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.'" (HR Muslim)
- Tuhan benci kalau kamu terlalu banyak berbicara begini begitu, terlalu banyak bertanya, serta membuang-buang harta tidak pada tempatnya. (HR Bukhari)
- Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, "Rasullullah bersabda, Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai untuk memanfaatkannya dengan sebaik mungkin adalah kesehatan dan waktu luang." (HR Bukhari)
- Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Menguap itu dari setan. Maka apabila seseorang di antara kamu menguap hendaklah ditahannya sedapat mungkin. Sesungguhnya jika seseorang di antara kamu mengatakan 'haa..' lantaran menguap, tertawalah setan." (HR Bukhari)
- Diriwayatkan oleh Muslim Ummu Kultsum Binti Uqbah RA berkata, "Aku belum pernah mendengar beliau membolehkan berbohong, kecuali dalam tiga hal, yakni berbohong untuk mengecoh musuh dalam peperangan, berbohong dengan tujuan untuk mendamaikan pihak yang bertikai, dan perkataan bohong suami terhadap istri atau sebaliknya (untuk kemaslahatan rumah tangga keduanya)".
- Dari Aisyah RA bahwa ia berkata, "Para sahabat pernah bertanya kepada Rasullullah SAW tentang peramal (dukun). Beliau menjawab, 'Apa yang mereka ramalkan adalah bathil'. Mereka berkata, 'Wahai Rasullullah, namun terkadang mereka mengabarkan sesuatu kepada kami dan nyata terjadi'. Rasullullah SAW bersabda, 'Itu termasuk berita benar yang disambar oleh jin (sebelum sampai ke bumi) lalu dibisikkannya ke telinga kekasihnya (para dukun) namun mereka lalu mencampuradukkannya dengan 100 kebohongan.'" (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Abu Musa RA, katanya, "Saya datang bersama dua orang kaum saya datang kepada Nabi SAW. Yang seorang mengatakan, 'Angkatlah kami untuk jabatan pemerintahan Ya Rasullullah!' Dan yang seorang lagi mengucapkan perkataan serupa itu pula. Beliau menjawab, 'Sesungguhnya kami tidak mengangkat untuk itu orang yang sangat mengharapkannya'". (HR Bukhari)
- Dari Abu Hurairah RA, "Rasullullah SAW bersabda, 'Wanita dikawini karena empat hal: karena harta bendanya, karena status sosialnya, karena keindahan wajahnya, dan karena ketaatannya pada agama. Pilihlah wanita yang taat kepada agama maka kamu akan bahagia.'" (HR Bukhari)
- Dari Sahl Bin Sa'd RA, katanya, "Saya dan orang yang menjamin anak yatim di dalam surga nanti adalah seperti ini. Beliau menunjuk kepada jari telunjuk dan jari tengahnya." (HR Bukhari)
- Dari Mustaurud Bin Syaddad RA, ia berkata, "Rasullullah bersabda, 'Perbandingan antara dunia dan akhirat tidak lain seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke dalam laut. Silakan dia melihat seberapa banyak air yang menempel di jarinya saat dia mencabutnya dari laut.'" (HR Muslim)
- Dari Ibnu Umar RA, katanya, "Rasullullah SAW bersabda, 'Siapa yang berkata kepada saudaranya, 'Hai Kafir!' maka ucapan itu kembali kepada salah satu di antara keduanya. Jika apa yang diucapkannya itu benar maka ucapan itu tertuju kepada orang yang dipanggil. Jika tidak maka ucapan itu tertuju kepada orang yang mengucapkan.'" (HR Muslim)
- Dari Abu Harairah RA, "Dari Rasullullah SAW sabdanya, 'Dua orang yang saling memaki, dosanya atas orang yang mulai memaki, selama yang dimaki tidak membalas berlebihan.'" (HR Muslim)
- Dari Abu Hurairah RA, katanya Rasullullah SAW bersabda, "Tahukah kamu apa yang dikatakan ghibah (gunjingan)?" Jawab para sahabat, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Sabda Rasullullah SAW, "Ghibah yaitu mempercakapkan saudaramu tentang hal yang tidak disukainya." Ditanya orang Beliau, "Bagaimana kalau yang kami percakapkan itu ternyata memang benar?" Jawab Beliau, "Jika yang kamu ucapkan benar, berarti engkau menggunjing. Dan jika tidak benar, berarti engkau melakukan suatu kebohongan tentang dirinya." (HR Muslim)
- Dari Abu Hurairah RA katanya seseorang berkata kepada Rasullullah SAW, "Ya Rosullullah, mendoa'lah kepada Allah Ta'ala supaya Allah menurunkan bencana kepada orang-orang musyrik". Jawab Beliau, "Aku diutus Allah Ta'ala tidak untuk menjadi tukang kutuk, tetapi untuk menjadi rahmat." (HR Muslim)
- Dari Ummamah RA, katanya Rasullullah SAW bersabda, "Hai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau sedekahkan kelebihan hartamu, akan lebih baik bagimu daripada jika engkau tahan-tahan (simpan) yang malah akan berbahaya bagimu. Dan engkau tidak akan dicela jika menyimpan sekedar untuk keperluan dahulukanlah memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggunganmu." (HR Muslim)
- Dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi SAW bersabda, "Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak sempurna imannya". Ketika beliau ditanya, "Maksudnya siapa Ya Rasullullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya." (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Adi Bin Hatim RA, Ia berkata, "Rasullullah SAW bersadba jagalah diri kalian dari siksa neraka meskipun dengan (bershadaqah) separuh butir kurma. Barang siapa yang tak menemukannya, maka bisa bershadaqah dengan mengeluarkan ucapan yang baik." (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Abu Syuraikh Al-Khuza'i RA, ia berkata, "Nabi SAW bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR Muslim)
- Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasullullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia juga turut berdosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun." (HR Muslim)
- Dari Anas RA, ia berkata, "Rasullullah SAW pernah menyampaikan khutbah di hadapan kami, khutbah yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Dalam khutbah tersebut beliau bersabda sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Para sahabat pun menutupi muka mereka dan seraya menangis sesegukkan." (HR Bukhari-Muslim)
- Dari Abu Dzar RA, ia berkata, "Rasullullah SAW pernah bersabda kepadaku, 'Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan. Walau sekedar bertemu saudaramu dengan wajah ceria.'" (HR Muslim)
- Dari Abu Hurairah RA, Rasullullah SAW berkata, "Neraka dilingkari oleh hal-hal yang menarik hawa nafsu, sedangkan surga dilingkari hal-hal yang tidak disenangi." (HR Bukhari)
- Dari Abu Hurairah RA, dari Rasullullah SAW beliau berkata, "Allah menciptakan Adam menurut bentuknya. Panjangnya enam puluh hasta. Setelah diciptakan-Nya, Ia berkata, 'Ucapkanlah salam kepada kelompok malaikat yang sedang duduk ini. Cobalah dengar baik-baik ucapan penghormatan yang mereka ucapkan kepada engkau. Ucapan itulah yang akan menjadi ucapan penghormatan engkau dan anak-anak keturunan engkau'. Lalu Adam berkata, 'Assalamu'alaikum.'" (HR Bukhari)
- Dari Abdullah Bin Umar RA, katanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasullullah SAW, katanya, "Islam yang bagaimanakah yang lebih utama?" Jawab Nabi SAW, "Memberi makan (orang-orang miskin), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal." (HR Bukhari)
- Aswad RA berkata bahwa ia bertanya kepada Aisyah, katanya, "Apa yang diperbuat Nabi dalam rumah tangganya?" Jawab Aisyah, "Beliau juga melakukan pekerjaan rumah tangga, menolong istri beliau, dan apabila waktu sholat telah tiba beliau pergi sholat." (HR Bukhari)
- Dari Jabir RA, katanya, "Aku mendengar Nabi SAW bersabda, 'Sesungguhnya apabila setan mendengar adzan, dia lari sampai ke Rauha.'" (HR Muslim) *Rauha berjarak sekitar 36 mil dari Madinah.
- Dari Anas RA, dari Nabi SAW, sabdanya, "Luruskan shof! Aku dapat melihatmu di belakangku. Di antara kami ada yang bertemu bahu dengan bahu kawannya dan tumit dengan tumit." (HR Bukhari)
- Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, sabdanya, "Jikalau tidaklah akan menyulitkan bagi umatku, sungguh aku perintahkan mereka menggosok gigi setiap akan sholat." (HR Bukhari)
---tangsel---
Subscribe to:
Posts (Atom)


